16 April 2009

* AKADEMI KEPOLISIAN

Police Academy (Akademi Kepolisian)
Dalam diskusi pelatihan dan akademi kepolisian, masalah yang umumnya muncul tidak kurang rumit dibandingkan saat membahas aspek lain dari kepolisian di AS. Namun, banyak ilmuwan polisi setuju bahwa pelatihan polisi seperti itu hanya berubah sedikit dari sistem constabulary dan jaga malam tahun 1636 hingga pertengahan 1900-an. Petugas jaga malam, sherif, atau constable diberi serangkai pengarahan singkat dan dikirim ke tempat tugasnya. Petugas polisi, bahkan di tahun 1940-an dan 1950-an, sebagai tambahan, mungkin telah diberi kesempatan untuk menyertai petugas yang lebih berpengalaman selama seminggu atau lebih sebelum berpatroli sendiri. Beberapa institusi tidak menawarkan buffer; yang lain, seperti institusi di New York City dan Chicago, menawarkan sedikitnya beberapa minggu pelatihan penuh waktu. Meskipun demikian, baru pada tahun 1959 New York dan California menjadi negara bagian pertama yang mensyaratkan periode pelatihan dasar minimal bagi semua institusi kepolisian dalam yurisdiksi mereka.

Task Force on Police—1967 (Gugus Tugas Kepolisian tahun 1967)
Gugus tugas kepolisian, yang disponsori oleh President’s Commisison on Law Enforcement tahun 1967 dan Administration of Justice, mengarahkan perhatiannya pada harapan yang rendah dan paralel dalam persyaratan pendidikan formal minimal para calon dan kualitas pelatihan dasar. Sangatlah mengecewakan saat mengetahui bahwa dalam 10 sampai 40 tahun sebelumnya, modernisasi dan peningkatan institusi kepolisian lokal hanya berdampak sedikit terhadap praktik perekrutan dan pelatihan. Gugus tugas melaporkan bahwa 70 persen institusi kepolisian hanya mensyaratkan ijazah SMU, dan 25 persen hanya meminta pendidikan dasar pada saat meningkatnya persyaratan pendidikan dalam banyak pekerjaan lain.
Dalam surveinya, satuan tugas itu menemukan bahwa dari 269 institusi kepolisian yang memberi tanggapan, 97 persen mempunyai program pelatihan-perekrutan yang berlangsung dari 1 sampai 12 minggu. Di antara institusi itu, yang melaporkan periode pelatihan yang lebih lama adalah kota dengan populasi 250.000 atau lebih; rata-rata periode pelatihan kota dengan populasi di bawah 250.000 hanya tiga minggu. Pada awal tahun 1970-an, 12 minggu pelatihan dianggap sangat progresif; pada tahun 1986, 6 bulan pendidikan dasar dipandang sudah maju.
Gugus tugas kepolisian tampak menaruh perhatian terhadap upaya membangkitkan dalam diri taruna polisi apresiasi untuk menegakkan hukum dan memelihara perdamaian di dalam masyarakat yang demokratis dan pluralis. Gugus tugas itu yakin bahwa polisi di AS harus memenuhi janji tanpa kemarahan untuk mendukung proses pembelaan diri yang melindungi hak tertuduh, dan gugus tugas menganjurkan mereka agar peka terhadap norma dan nilai kelompok etnik dan minoritas yang berbeda. Gugus tugas menyimpulkan bahwa kebanyakan program pelatihan terpotong-potong, dijalankan oleh pegawai paruh waktu yang tidak punya motivasi dan hanya punya sedikit waktu untuk menyiapkan presentasi mereka, dan tidak memadai untuk penyiapan perekrutan polisi dalam konteks politis demokratis.

Rekomendasi. Gugus tugas merekomendasi pelatihan yang memandu kekuatan diskresi yang sangat hebat pada polisi dalam tugas harian, jenis instruksi yang tampaknya sering dikesampingkan dalam banyak program untuk kajian terinci dari hukum dan ilmu kepolisian yang sesungguhnya. Gugus tugas mendorong program pelatihan yang mengajarkan rasa hormat terhadap hak pribadi dan pilihan yang tersedia bagi polisi, selain proses peradilan kriminal, dalam memecahkan masalah. Akhirnya, gugus tugas merekomendasikan gelar sarjana sebagai persyaratan minimal bagi semua pelamar. Rekomendasinya tampak menjanjikan/bersifat ramalan, terutama dalam pandangan Walker Report yang disampaikan Daniel Walker, Direktur Chicago Study Team, pada National Commission on the Causes and Prevention of Violence, yang menilai demonstrasi damai menentang perang di Vietnam selama Democratic National Concention di Chicago di musim panas tahun 1968sebagai “huru-hara polisi.”

Police Task Force—1973 (Gugus Tugas Kepolisian 1973)
Enam tahun kemudian, Gugus Tugas Kepolisian dari National Advisory Commission on Criminal Justice Standards and Goals tahun 1973 mengusulkan adanya peningkatan pelatihan kepolisian. Sama-sama kurang berorientasi spesifik terhadap posisi filosofis atau moral vis-à-vis demokrasi atau pluralisme seperti gugus tugas tahun 1967, gugus tugas ini tampaknya lebih tertarik meningkatkan pelatihan kepolisian dengan alasan pragmatis. Gugus tugas itu menegaskan pandangan administrator polisi yang menekankan bahwa kualitas pendidikan yang diberikan pada taruna terrefleksi dalam kinerja yang lebih efisien dan lebih sedikit keluhan yang tak perlu atau litigasi dari masyarakat. Tampaknya lebih praktis untuk menghindari permusuhan dengan masyarakat dan meningkatkan rasa hormat masyarakat dengan cara meningkatkan persyaratan pendidikan dan menekankan prinsip psikologis dan sosiologis perilaku manusia.

Rekomendasi. Gugus tugas memberi beberapa saran mengenai pelatihan kepolisian, yakni semua institusi perlahan-lahan meningkatkan persyaratan pendidikan minimalnya, hingga pada tahun 1982 semua pelamar harus memiliki gelar sarjana. Juga, institusi mensyaratkan minimal 40 jam pelatihan tugas per tahun bagi setiap petuga kepolisian dan periode pelatihan formal sebelum polisi dipromosikan sesuai dengan tanggung jawab barunya. Selain itu, gugus tugas merekomendasikan kurikulum pelatihan dasar 10 minggu bagi semua taruna (unsur khusus akan dijelaskan dalam “kurikulum”). Akhirnya, setiap negara bagian perlu untuk membangun akademi kepolisian atau pusat pelatihan peradilan kriminal sehingga pada tahun 1978 setiap petuga kepolisian di setiap negara bagian akan mempunyai akses untuk masuk akademi atau pusat pelatihan.

Police Academies and Training Centers (Akademi Kepolisian dan Pusat Pelatihan)
Akademi kepolisian pada dasarnya merupakan sebuah sekolah yang dibangun untuk mengakomodasi ruang kelas para taruna dan pelatihan fisik dan bela diri, dan parade atau manuver lapangan. Sebagian akademi mencakup tempat latihan menembak, kursus pertempuran, dan area kendaraan berkecepatan tinggi. Akademi kepolisian negara bagian mempunyai asrama bagi para taruna dan mengikuti model militer untuk pelatihan. Pusat pelatihan peradilan kriminal merupakan akademi yang juga meliputi pelatihan tugas dalam semua unsur sistem peradilan kriminal, seperti hakim, jaksa penuntut, dan jaksa pembela. Akademi kepolisian di Dayton, Ohio, melayani tujuan ganda semacam itu.
Akademi biasanya dibangun di wilayah kota, county, atau region yang dinas pajaknya mengizinkan konstruksi dan penggunaan akademi secara permanen, meskipun personel nonkepolisian dapat juga menggunakan fasilitas tersebut. Misalnya, akademi negara mungkin membolehkan polisi desa atau kota independen untuk menyertai tarunanya, atau akademi dapat digunakan sebagai pusat pelatihan bagi daerah tertentu di suatu negara bagian. Akademi tidak hanya melatih tarunanya sebelum mereka diangkat untuk tugas aktif, akademi juga memberikan pelatihan tugas bagi polisi veteran.

Characteristics o Police Recruits (Karakteristik Taruna Kepolisian)
Hanya satu kajian (Harris, 1973), dilakukan tahun 1969, yang telah menjelaskan secara rinci karakteristik taruna kepolisian. Penelitian yang terpusat pada salah satu institusi kepolisian yang paling maju di seluruh negeri menemukan bahwa para taruna rata-rata berusia 25 tahun, 75 persen sudah menikah, dan 47 persen yang tidak berpengalaman di bidang kepolisian menyatakan keselamatan kerja menjadi alasan melamar. Di luar dinas militer mereka, rata-rata taruna berpengalaman 3,2 pekerjaan per orang: 88 persen gaji bulanannya naik sekitar 35 persen, dan 12 persen sisanya—kebanyaknya taruna yang mengulang atau polisi dari bagian lain dan yang bergabung untuk pengembangan peluang—gajinya turun rata-rata 10 persen.

Training Themes (Tema Pelatihan)
Penelitian Harris mengidentifikasi tiga tema yang mengaitkan tiga kategori pelatihan taruna. Salah satu tema, pertahanan, dilakukan oleh instruktur dan siswa. Instruktur menekankan pentingnya pencatatan yang hati-hati dan kebutuhan untuk selalu mematuhi aturan dan prosedur departemen. Taruna mendengarkan kisah polisi yang meski dipandu motif yang layak berbalik menjadi kematian, lumpuh, atau menghadapi sanksi hukum atau disiplin kepolisian. Mereka diperingatkan untuk bertindak hati-hati terhadap reporter, kaum minoritas, perempuan, pengacara, politikus, masyarakat umum, dan bahkan kadang-kadang hirarki kepolisian—diprediksikan banyak di antaranya berbalik melawan polisi, menonton dengan puas ketika yang lain berbalik melawan polisi itu, atau mengorbankan polisi di jalan untuk mengendurkan ketegangan dalam masyarakat.
Tema kedua adalah profesionalisasi. Staf akademi berusaha menanamkan rasa kebanggaan khusus dalam kelas. Mereka berbicara mengenai perlunya perilaku polisi yang etis, peka terhadap publik, penegakan hukum yang tidak memihak, dan menunjukkan percaya diri, kepemimpinan dan kontrol diri. Memang, para taruna mulai percaya bahwa, dari semua profesi utama, polisi harus berada di puncak.
Depersonalisasi merupakan tema ketiga. Depersonalisasi mengacu pada pengalaman subjektif ketika meniru dan, sebaliknya, ditiru, alih-alih berinteraksi sebagai individu satu sama lain. Para taruna harus berhati-hati terhadap kecenderungan untuk tidak mempercayai motif pihak lain ketika mengidealkan motifnya sendiri, yang mengarah pada pemisahan emosional dan pertahanan agar tidak dapat dieksploitasi. Dengan menarik penelitian itu mengungkapkan bahwa beberapa presentasi oleh Community Relations Squad yang dirancang untuk meningkatkan fleksibilitas kognitif taruna dan mengubah prasangkanya, menghasilkan pengaruh berlawanan di dalam kelas.

Curriculum (Kurikulum)
Kurikulum akademi yang diuji dalam penelitian tahun 1969 meliputi 12 minggu pelatihan penuh, dengan satu minggu penugasan di polsek dengan pengawasan langsung polisi veteran. Kurikulum dipecah menjadi beberapa kategori. Bobot relatif dihitung dengan komputer untuk tujuan perbandingan.

• Struktur dan substruktur (9%),
inspeksi dan latihan (6%),
peraturan dan aturan (6%) 21%
• Hukum dan pengadilan
(tanpa lalu-lintas); 23%
• Kecakapan polisi; bela diri
dan pengendalian kerusuhan (8%);
pertolongan pertama (5%);
keterampilan mengemudi,
hukum lalu-lintas, laporan,
dan prosedur (12%) 25%
• Prosedur patroli termasuk
40 jam lapangan 26%
• Hubungan masyarakat, etika
polisi, dan profesionalisme; 5%

Gugus tugas kepolisian dari National Advisory Commission tahun 1983 mempertahankan periode minimal pelatihan siswa adalah 400 jam (10 minggu) dengan usul kurikulum menurut subjek berikut:

• Pengantar sistem peradilan kriminal 8%
• Administrasi 9%
• Hukum 10%
• Kecakapan kepolisian 18%
• Nilai dan masalah kemanusiaan 22%
• Prosedur patroli dan penyidikan 33%

Tidak ada yang tahu berapa jauh kategori kecakapan kepolisian dapat tumpang tindih dengan prosedur patroli, struktur kepolisian, atau administrasi, yang mempersulit perbandingan definitif di antara dua kurikulum. Namun, perbedaan antara 5 persen yang dialokasikan untuk “humas, etika polisi, dan profesionalisme” dalam hubungan kurikulum aktual tahun 1969 dan alokasi 22 persen untuk “nilai dan masalah kemanusiaan” yang direkomendasikan oleh satuan tugas tahun 1973 telah/sudah bisa menjelaskan. Memang, humas, nilai personal, dan kekuatan diskresi merupakan aspek yang membangkitkan banyak konflik internal dan eksternal dalam kepolisian di Amerika Utara.
Dalam beberapa akademi, seperti New York, pelajaran ilmu sosial dan kehumasan mencakup 25 sampai 33 persen pelatihan taruna. Sayangnya, kursus semacam itu kerap diajarkan oleh polisi yang membangun senioritas untuk mengajarkan ilmu hukum dan kepolisian. Tidaklah aneh bila pelajaran ilmu sosial dan kehumasan dianggap membosankan atau berlebihan oleh banyak taruna; dalam satu akademi yang tidak disebutkan namanya, diperkirakan 50 s/d 70 persen siswa tidak pernah merobek plastik pengaman buku ajar. Jelaslah, penambahan masa pelatihan tidak otomatis menjadi ajaran yang lebih baik dalam keterampilan interpersonal, prinsip perilaku manusia, atau panduan logis untuk kepolisian dalam masyarakat pluralistik.

Police Training versus Police Mandates (Antara Pelatihan Polisi dan Kewajiban Polisi)
Sebuah survei FBI menemukan, tanpa memandang ukuran, jenis, atau lokasi geografis institusi kepolisian, mayoritas kebutuhan pelatihan yang dilaporkan pejabat kepolisian mengenai keterampilan penegakan hukum dasar. Empat belas teratas dari 25 prioritas utama yang disebutkan hanya meliputi dua item yang dapat diinterpretasikan sebagai minat terhadap humas dan keterampilan interpersonal, “penanganan stres personal,” dan “meningkatkan citra positif”. Yang lain meliputi aspek seperti kebugaran fisik, melakukan wawancara, masalah persenjataan, penulisan laporan, pengumpulan data intelijen, kesaksian pengadilan, mengemudi dengan kecepatan tinggi, dan pencarian narkoba. Karena kemajuan dan masa liburan untuk penahanan pelaku kejahatan dikaitkan dengan kewajiban penegakan hukum dari tugas polisi alih-alih kewajiban memelihara perdamaian, tidaklah mengejutkan untuk menemukan petuga kepolisian yang memperoleh lebih banyak insentif untuk meningkatkan kompetensi penegakan hukum alih-alih insentif untuk memelihara perdamaian.
Kritik di dalam dan di luar institusi kepolisian memicu kesadaran bahwa penopang kultur dan struktur sosial AS memang menimbulkan prasangka terhadap penegakan hukum. Namun, kritik menyadarkan bahwa kerja polisi yang cakap juga membutuhkan keterampilan berkomunikasi dan kepekaan interpersonal, karena polisi berinteraksi dengan orang yang masalahnya mempunyai arti emosional yang dalam. Diperkirakan, 50 sampai 80 persen panggilan (tergantung penelitian mana yang digunakan) meliputi memelihara kedamaian dan memberikan pelayanan personal, misalnya wawancara dalam kasus kekerasan rumah tangga, kegaduhan oleh remaja, gangguan dan pertengkaran publik, kekacauan massa, dan menyediakan pelayanan penyelamatan nyawa. Untuk alasan ini, ilmuwan dan administrator kepolisian yang lebih cerdik menganjurkan struktur pelatihan yang merefleksikan keterampilan yang cukup dan sesuai dengan peran nyata dimainkan oleh banyak polisi. Sebagian mengusulkan pembedaan organisasi dan pelatihan yang sama dengan perbedaan antara Scotland Yard yang baru dan polisi kota di Inggris Raya.

Police Response (Tanggapan Polisi)
Program pelatihan, palig tidak dalam institusi yang lebih maju, berusaha membawa fungsi penegakan hukum dan pemeliharaan kedamaian menjadi lebih seimbang. Pada tahun 1969, salah satu institusi yang paling tercerahkan (enlightened) di AS menyediakan 5 persen pelatihannya untuk kehumasan dan yang sejenisnya; pada tahun 1981 New York State Municipal Police Training Council (MPTC) (sekarang Bureau of Police Training) menghendaki 10 persen kurikulumnya disediakan bagi hubungan masyarakat dan sosial. Meski program MPTC dipandang sebagai standar untuk tahun 1980-an, porsi hubungan masyarakat dan sosial masih kurang dari setengah standar National Advisory Commisison. Akademi di New York City, yang biasa menggunakan 19 persen pelatihan tarunanya untuk kategori ilmu sosial, tampaknya semakin dekat dengan apa yang ada dalam pikiran komisi.

Innovation and the Future (Inovasi dan Masa Depan)
Dalam pertimbangan anggaran, sebagian besar administrator kepolisian terus memberikan apa yang mereka pikir akan dengan baik menjadikan taruna lebih andal saat berada di lapangan. Umumnya, masa program pelatihan telah ditingkatkan, dan 40 jam pelatihan dalam tugas setiap tahun menjadi lazim. Gaya pelatihan telah bergeser dari pelatihan dengan penekanan militer menjadi teknik pengajaran tanpa tekanan yang lebih akademis. Kebanyakan institusi menyadari keuntungan mempunyai staf pelatihan yang cukup waktu, berkomitmen, dan sangat siap, serta memusatkan perhatian lebih pada keterampilan interpersonal, intervensi krisis, manajemen stres, dan bela diri.
Pada tahun 1970-an, akademi kepolisian di Dayton, Ohio di bawah Kepala Polisi Robert Igleberger yang minta agar para taruna ditugaskan di badan pelayanan sosial, seperti rumah sakit atau fasilitas kesehatan jiwa negara bagian, sebagai bagian dari pelatihan dasar. Sayang, selepas masa tugasnya persyaratan itu dikurangi dari enam bulan menjadi 17 minggu. Kepolisian di Greensboro, North Carolina, di bawah kepemimpinan Kepala Polisi William Swing membentuk program pelatihan pengembangan staf bertahap yang memberikan pelatihan untuk setiap penempatan kerja sesuai dengan kebutuhan penyusunan pegawai.
Kepolisian Nassau County, New York, di bawah kepemimpinan Komisaris Polisi Samuel Rozzi melakukan dua pembaharuan pada awal dan pertengahan tahun 1980-an. Karena kepolisian county itu menyediakan banyak pelayanan ambulans, setiap taruna menjadi teknisi medis darurat berijazah sebelum meninggalkan akademi. Akademi juga menempatkan setiap taruna di bawah pelatih lapangan bersertifikat negara bagian selama penugasan lapangannya sebelum diwisuda. Kepolisian New York memulai manajemen stres untuk tarunanya, sebuah tahap pelatihan yang juga dimasukkan kepolisian utama dalam program mereka, misalnya di Los Angeles. Kepolisian Denver merupakan salah satu yang pertama di AS yang mengadakan sebuah program yang bertujuan untuk menangani panggilan kasus kekerasan rumah tangga. Terarkhir, kurikulum kepolisian Suffolk County, New York, memasukkan manajemen konflik dan stres seperti intervensi krisis pada umumnya dan kekerasan rumah tangga pada khususnya sebagai aspek inheren pada pelatihan taruna.
Debat dan kritik mengenai pelatihan taruna mengganggu administrator kepolisian pada tahun 1960-an dan 1970-an, dan masih ada pada tahun 1980-an. Sekarang ini pergerakannya bahkan menuntut kurikulum yang lebih dikembangkan yang memperkenalkan pemahaman yang lebih besar atas perilaku manusia, sehingga harapan taruna diperluas. Simulasi komputer atas perilaku massa, keputusan pimpinan, negosiasi sandera, dan lain-lain kini digunakan. Misalnya, Firearms Training System di Norcross, Georgia, telah mengembangkan alat bantu pelatihan dengan simulasi komputer yang menguji kearifan dan keakuratan menggunakan kekuatan yang melumpuhkan atau mematikan. Situasi penegakan hukum umum ditayangkan di layar seluas 10 kaki sehingga polisi dapat bereaksi langsung. Pria bersenjata lari dari sebuah toko sambil menembakkan senjata ke arah polisi. Apakah pria itu perampok atau pemilik toko? Seorang wanita dengan mimik tak berdosa diberhentikan karena memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi, dan ketika polisi mendekat dia merogoh tasnya. Apakah dia mencari kartu identitas atau pistol kecil? Para peserta pelatihan mempunyai pilihan untuk tidak menembak atau menembak kosong disertai pancaran laser di layar, tergantung pada tindakan beberapa detik berikutnya serta ketajaman dan penilaian visualnya. Peluru laser meninggalkan tanda ketika simulator menghentikan adegan untuk menunjukkan apakah taruna bereaksi dengan benar, dan dalam kasus polisi ditembak jika polisi selamat dari siksaan (ordeal).
Pemahaman yang lebih besar terhadap perilaku manusia dicapai lewat program pelatihan, seperti program yang menekankan kesadaran kebinekaan dan hubungan ras. Kebangkitan kepolisian yang mewajibkan orientasi terhadap masyarakat menuntut fokus yang lebih luas. Yang juga menjadi prioritas, karena geng pemuda dan kejahatan remaja umumnya telah menunjukkan kenaikan yang besar, akademi kepolisian harus lebih meningkatkan upaya mempersiapkan polisi untuk menangani kawula muda yang suka melawan dan membahayakan. Harapan pendidikan yang lebih besar menantang akademi kepolisian untuk mengajarkan lebih dari yang pernah ada, dan para taruna polisi belajar lebih dari yang pernah diajarkan. Sedemikian rincinya seperti video rekaman kiriman Chevrolet yang menggambarkan sistem pemecah antikunci pada mobilnya dapat menyelamatkan nyawa.
Pada tahun 1989, Law Enforcement Information Network (LETN), yang dibangun oleh mantan Kepala Kepolisian Dallas, mulai bekerja. LETN mulai siaran lima hari sepekan, 24 jam tiap harinya, dan menawarkan beragam program pelatihan. Jaringan itu didirikan sebagai anggapan terhadap persoalan pertanggungjawaban sipil dari kepolisian, yaitu menemukan kelalaian kepolisian dalam pelatihan personelnya dan penyelesaian high-dollar berikutnya. Banyak lembaga kepolisian kecil, khususnya di pedesaan, tidak mempunyai akademi kepolisian dengan pegawai dan perlengkapan yang lengkap untuk tujuan pelatihan, mereka juga tidak punya dana untuk mengirimkan tarunanya. Jaringan seperti LETN menguntungkan mereka dan dapat menjadi sarana pelatihan standar di masa depan untuk semua badan kepolisian dan badan penegak hukum.
Richard N. Harris

Daftar Pustaka
Berkley, George. The Democratic Policeman. Boston: Beacon Press, 1969.
Bittner, Egon. The Functions of the Police in Modern Society. Cambridge, MA: Oelgeshlager, Gunn and Hain, 1979.
Earle, Howard H. Police Recruit Training. Springfield, IL: Charles C. Thomas, 1973.
Elliot, J.F. The New Police. Springfield, IL: Charles C. Thomas, 1973.
Favreau, Donald F., dan Joseph E. Gillespie. Modern Police Administration. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1978.
Fanks, Helen. “Softly, Softly.” (Police Training in Race Relations). New Statesman and Society 3 (Februari 23, 1990):20"21.
Harris, Richard N. The Police Academy: An Inside View. New York: John Wiley and Sons, 1973.
Hilton, Phil. “A Match for the Crowd.” (Computer Simulation of the Behavior of Crodwds). Personnel Management 24 (Juni 1992):57"58.
McNamara, John H, “Uncertainties of Police Work: Recruits’ Backgrounds and Training.” The Police. David J. Bordua (ed.). New York: John Wiley and Sons, 1967:163"252.
National Advisory Commission on Criminal Justice Standards and Goals. Task Force Report: The Police. Washington, DC: Government Printing Office, 1967.
Thibault, Edward A. et al. Proactive Police Management. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1985.
Willmer, M.A.P. dan Kevin Gaston. “Developing Police Leadership. “ (Computer Simulation Training Aid). Leadership and Organization Development Journal 11 (Juli 1990):10”17

2 komentar:

  1. polisi buat masyarakat atau penjahat?

    BalasHapus
  2. di kbun mangga kbyran lama rt007/02 cipulir tiap malam ada jual beli narkoba,awalnya dari main gitar,sebnarnya itu lagi mnunggu pelnggan,tolong d brantas pak......saya sbagai pngguna jalan mrasa terganggu sekali.....

    BalasHapus