10 November 2009

* Crime Scene Search (Pemeriksaan Tempat Kejadian Perkara - TKP)

Ketika menginvestigasi sebuah kejahatan, petugas penegak hukum harus memperhatikan dua persoalan penting: orang yang terlibat dalam kejahatan dan barang-barang nyata yang tertinggal di TKP. Kedua persoalan ini paralel dengan dua jenis bukti penting, yaitu bukti kesaksian dan bukti nyata. Bukti kesaksian adalah informasi yang diperoleh melalui pernyataan lisan dari korban, saksi, dan tersangka. Bukti fisik menyangkut kategori objek materi yang lebih luas di tempat kejahatan dilakukan; yang memiliki peran aktif seperti senjata api, atau pasif seperti rambut yang berpindah ke pakaian korban. Pemeriksaan TKP terutama berhubungan dengan pengenalan, dokumentasi, dan kumpulan legal bukti fisik.

Bukti fisik selalu ada di TKP, namun disayangkan bahwa banyak investigator gagal mengenali sejumlah informasi potensial yang dimilikinya. Hal ini khususnya berlaku untuk barang yang sangat kecil, yang umumnya dikenal sebagai bukti jejak. Awal mula penerapan dan transfer bukti jejak dikembangkan pada tahun 1900-an oleh Dr. Edmond Locard dari Universitas Lyon, Prancis. “Prinsip pertukaran” yang disampaikan oleh Locard menyatakan ketika individu masuk ke TKP, dengan sendirinya dia meninggalkan jejak dirinya dan juga mengambil jejak TKP ketika dia pergi. Prinsip Locard ini tidak hanya berlaku untuk pertukaran di tempat umum seperti sidik jari dan bercak darah, tetapi juga bukti laporan, seperti serat, rambut, dan tanah.

Preliminary Observation (Observasi Pendahuluan)
Kebanyakan keberhasilan seluruh investigasi bergantung pada pelaksanaan dan observasi pertama kali yang dilakukan oleh polisi di TKP. Karena setiap TKP memiliki ciri sendiri, maka tidak mungkin untuk memberikan prosedur langkah demi langkah tentang apa yang harus dilakukan dan tidak dilakukan oleh polisi pertama kali. Secara singkat, yang dilakukan polisi pertama kali adalah membantu yang terluka; memastikan bahwa korban telah meninggal; memindahkan tersangka, saksi, dan polisi yang tidak berkepentingan; melakukan observasi awal terhadap kondisi fisik TKP, seperti posisi pintu, pencahayaan, bau, atau tanda-tanda aktivitas; dan mengganggu TKP sesedikit mungkin.

Baik investigator merupakan polisi berseragam, detektif, teknisi TKP, maupun kriminalis, dia berhadapan dengan lingkungan yang berisi barang bukti yang rentan atau mudah hilang. Secara normal hanya ada satu kali kesempatan untuk memeriksa dengan benar, sehingga keputusan yang tergesa-gesa dan tindakan cepat dapat merusak bukti fisik yang potensial. Gambaran populer seorang detektif dalam media hiburan yang mondar-mandir di sekitar TKP sambil memungut barang secara acak merupakan contoh klasik yang salah dari metode untuk memproses TKP. Investigasi TKP pertama kali dan paling penting diatur melalui rencana tindakan yang sudah dipikirkan dengan baik.

`Begitu sampai di TKP, investigator harus memilih tempat yang aman sebagai “pos komando” yang terpisah dari area yang akan diperiksa. Pos komando ini dapat berfungsi sebagai pusat informasi dan pesan, tempat menyimpan perlengkapan yang tidak dipakai, tempat istirahat, dan tempat pembuangan untuk sampah-sampah yang dihasilkan selama menginvestigasi TKP. Pengotoran TKP dapat diminimalkan hanya dengan menggunakan area tersebut karena membatasi orang berlalu-lalang di sekitar TKP. Selanjutnya investigator harus memperoleh semua informasi berharga tentang kejahatan, korban, dan wilayah penting di TKP berdasarkan pernyataan dan observasi dari polisi yang pertama kali hadir, personel polisi yang lain, dan beberapa saksi. Setelah penjelasan singkat yang mendalam, investigator segera memulai pemeriksaan pendahuluan di TKP, disarankan tanpa memasuki wilayah paling utama. Jika mereka harus masuk, investigator harus melangkah secara hati-hati dan tidak menganggu apa pun.

Tahap investigasi ini adalah untuk mengobservasi secara hati-hati kondisi dan lokasi bukti, jalan masuk dan keluar, dan wilayah aktivitas kejahatan lainnya, termasuk rute dan arah yang dilalui pelaku kejahatan. Pemeriksaan yang sangat hati-hati perlu dilakukan untuk mempertahankan jejak sepatu dan bukti pengalihan jejak lainnya.
Pengambilan foto dapat dilakukan setelah pemeriksaan pendahuluan di lokasi TKP selesai dilakukan. Cerita berjalan, dengan tape recorder, tertulis, atau keduanya, harus menggambarkan segala sesuatu yang sudah diamati. Setelah pemeriksaan pendahuluan selesai, investigator harus kembali ke pos komando untuk memproses semua yang telah terjadi.

Investigator perlu menggunakan pengalaman, intuisi, dan pemahamannya tentang kerumitan di TKP dalam merumuskan rencana sistematis untuk sebuah penyelidikan. Investigator harus mempertimbangkan pertanyaan “siapa, mengapa, dan bagaimana,” yang harus dijawab dalam mengendalikan sebuah skenario untuk menjelaskan apa yang telah terjadi di lokasi. Investigator perlu melangkah dalam “sepatu tersangka” dalam upaya merekonstruksi motif, tindakan, rentetan kejadian, dan arah perjalanan yang mungkin telah dilalui tersangka. Jenis proses pemikiran ini dapat berfungsi sebagai garis besar utama dalam penyelidikan, dan menyasar area-area tertentu untuk mendapatkan pemeriksaan lebih terinci. Setiap barang di TKP yang ditemukan di luar tempatnya harus dicatat dan dievaluasi, meskipun tampaknya sama sekali tidak berhubungan dengan skenario yang ada. Investigator harus memiliki pemikiran yang terbuka, karena skenario mungkin harus ditambahkan atau bahkan sama sekali berubah bila muncul informasi. Singkat kata, pendekatan umum terhadap investigasi TKP dalam tahap ini adalah kewaspadaan terhadap setiap detail, dilengkapi dengan fleksibilitas, sistem, dan kesaksamaan.

Personnel (Personel)
Meskipun investigator TKP bertanggung jawab penuh untuk semua yang terjadi di lokasi, dia tidak perlu mencoba melakukan semua tugas yang harus dilakukan. Divisi pekerja untuk tugas-tugas tertentu dan bekerja dalam sebuah konsep tim, dengan investigator sebagai pendamping, tampil sebagai pendayagunaan yang paling efektif dari personel dan sumberdaya materi. Dalam beberapa yurisdiksi, pemeriksaan TKP dipimpin oleh sepasang investigator yang berbagi tanggung jawab dan pengambilan keputusan. Pepatah lama mengatakan “dua kepala lebih baik dari pada satu” menggambarkan dengan sangat tepat situasi ini. Teori dapat dibahas, pekerja dapat dibagi, dan waktu yang digunakan dapat berjalan sangat efektif. Juga dalam yurisdiksi yang lebih kecil, pasangan investigator mungkin hanya satu-satunya di TKP yang melakukan berbagai macam tugas. Saat ini, departemen kepolisian menggunakan polisi patroli dan detektif untuk memproses TKP serta beberapa pegawai sipil yang dilatih untuk mengumpulkan bukti fisik. Tugas individu-individu ini umumnya adalah mengambil foto di TKP, mencari sidik jari yang tersembunyi, dan mengumpulkan barang-barang tertentu dari bukti fisik.

Di lembaga kepolisian yang besar, tugas tertentu di TKP dilakukan oleh spesialis. Petugas identifikasi berkualifikasi untuk melakukan catatan fotografis TKP dan foto-foto rinci dari barang-barang individu sebagai bukti. Polisi-polisi ini juga sangat ahli dalam mengumpulkan dan membandingkan bukti sidik jari. Teknik untuk pemrosesan kimia dari sidik jari dan visualisasinya melalui instrumen video dan teknologi laser dilakukan oleh mereka. Beberapa staf artistik membuat sketsa dan melakukan pengukuran akurat untuk semua barang di TKP, yang nantinya dapat digunakan untuk merepresentasi TKP dengan kualitas arsitektural dalam format dua atau tiga dimensi. Fotografer di TKP bertugas untuk melakukan berbagai jenis fotografi yang sangat khusus seperti infra merah, pemotretan dengan infra merah dari udara, dan pemotretan dalam ruangan dengan sedikit cahaya.

Personel yang dilengkapi dengan kamera video kadang-kadang dipekerjakan untuk mencatat pemrosesan TKP selangkah demi selangkah. Penegasan dengan komputer dan manipulasi optik dalam materi fotografis juga dapat dilakukan oleh individu ini. Kriminalis adalah ilmuwan yang terlatih untuk mengenal, mengumpulkan, dan menganalisis bukti fisik. Kriminalis ini sangat membantu dalam mengevaluasi dan mengumpulkan jenis-jenis bukti yang rentan dan rumit, seperti cairan fisiologi, bukti jejak, dan zat kimia berbahaya. Dalam kasus pembunuhan, penguji medis koroner akan dihadirkan untuk melakukan pemeriksaan jenazah untuk mengidentifikasi sebab kematian. Di TKP yang lebih besar, polisi informasi bertugas sebagai perantara antara tim investigasi dan kalangan pers. Dalam beberapa contoh, perwakilan dari kantor jaksa dapat diminta untuk hadir di TKP, khususnya selama pencarian surat perintah atau perintah pengadilan untuk mendapatkan sampel forensik tersangka.

Documentation and Collection (Dokumentasi dan Pengumpulan)
Setelah tinjauan singkat dari para personel khusus, pemeriksaan sesungguhnya diawali dengan dokumentasi dan pengumpulan barang-barang yang rentan yang berisiko hilang atau hancur akibat sering dibuka atau pengaruh cuaca. Pengertian dokumentasi mengandung arti bahwa barang bukti difoto secara detail, lengkap dengan skalanya, sebagaimana pertama kali ditemukan, dan selanjutnya dilakukan pencatatan, pengukuran, dan pembuatan sketsa, sedemikian rupa sehingga lokasi tepat dari barang telah tercatat untuk nantinya dikaitkan satu sama lain. Langkah pengumpulan termasuk pemeriksaan barang untuk bukti jejak dan sidik jari sebelum masing-masing ditandai atau dimasukkan dalam wadah tertentu, sehingga nantinya dapat diidentifikasi dan dilakukan mata rantai penahanan.

Pengumpulan juga memerlukan pemungutan sampel standar dan pengawasan untuk tujuan perbandingan atau eliminasi, apakah nantinya tersangka harus ditahan. Sebagai contoh, bagian karpet dari TKP diperlukan sebagai sampel standar untuk kemungkinan diketahui apakah terdapat sejumlah jejak dari serat karpet yang ditemukan pada pakaian atau sepatu tersangka. Pengepakan yang bagus sangat penting untuk meminimalkan kemungkinan bukti berubah atau mengalami degradasi setelah dikumpulkan. Bukti jejak harus dikemas dalam wujud kecil, buntelan kertas ataiu amplop yang diberi tanda dengan hati-hati untuk mencegah agar tidak hilang atau terkontaminasi. Noda fisiologis harus dikeringkan dan kemudian masing-masing dikemas dalam wadah kertas sehingga noda-noda tersebut dapat “bernapas” sehingga mengurangi pembusukan bakteri. Bukti pembakaran rumah yang mudah menguap harus dijaga dalam kontainer kedap udara untuk mencegah penguapan atas beberapa cairan yang mudah terbakar. Praktik pengepakan ini pada dasarnya merupakan hal yang masuk akal dan akan dibahas lebih lengkap dalam referensi lain.

Setelah dokumentasi dan pengumpulan barang bukti darurat ini selesai, area “tindakan” penting tempat aktivitas kejahatan terjadi menjadi prioritas selanjutnya. Sesungguhnya, lokasi korban pembunuhan dianggap sebagai area tindakan, tetapi investigator tidak boleh mengawali dengan pemeriksaan tubuh secara terinci. Namun, area di sekitar tubuh harus dipelajari untuk beberapa bukti jejak atau apa pun yang terlihat di luar yang semestinya. Awali pemeriksaan pada lantai di sekitar tubuh korban dan lanjutkan dengan kemungkinan pintu masuk dan keluar. Kata “saksama” harus ditekankan: periksa semua tempat termasuk dinding, langit-langit, dan dibelakang serta di bawah benda besar.

Tubuh tidak boleh diabaikan begitu saja, tetapi dalam tahap ini pemeriksaan hanya dilakukan untuk menentukan kemungkinan penyebab kematian. Pemeriksaan sekilas akan menunjukkan jenis bukti apa yang harus diwaspadai selama investigasi, seperti darah atau peralatan tajam jika korban menderita luka tusukan. Pemeriksaan mendalam tentang tubuh dapat dipelajari kemudian oleh ahli patologi, dengan kehadiran investigator. Kontaminasi atau hilangnya bukti di sekitar tubuh dapat dihindari dengan tidak mempelajari atau memindahkan posisi tubuh.

Setelah masing-masing area tindakan telah diproses, langkah selanjutnya adalah pemeriksaan di area luar yang diisi oleh petugas jaga, dan selanjutnya area yang berdampingan dengan TKP juga harus diperiksa untuk memastikan bahwa tidak ada yang terlewatkan. TKP dalam ruangan dapat diperiksa secara lengkap dan dipelajari untuk bukti sidik jari menggunakan metode selimut. Namun, untuk TKP di ruangan besar atau di luar ruangan, dibutuhkan metode pemeriksaan sistematis lain. Contohnya metode zona, telanjang, spiral, roda, dan metode jaringan. Metode zona dan jaringan khususnya sangat efektif untuk investigasi pengeboman karena bukti dari peralatan bahan peledak tersebar dalam area yang luas. Di TKP luar ruangan jarang dijumpai objek menetap sehingga pengukuran terhadap tujuan lokasi harus dilakukan dengan menggunakan triangulasi dan kompas.

Pada malam hari TKP luar ruangan akan menghadirkan situasi yang sangat sulit dan investigasi mendalam biasanya ditunda hingga keesokan harinya, alih-alih melakukan pemeriksaan menggunakan penerangan artifisial dengan generator kecil. Kendaraan hanya memiliki jangkauan terbatas baik di dalam, di luar, maupun di bagian bawah, yang dapat diperiksa dengan metode selimut.

Pada saat pemeriksaan TKP sudah hampir mencapai titik simpulan, skenario yang mula-mula dijalankan oleh investigator dapat dibenarkan oleh bukti, atau direvisi, atau malah sama sekali ditolak. Apa pun kasus yang dihadapi, proses pemeriksaan total terhadap TKP telah membuat investigator mampu mengumpulkan dan mendokumentasikan bukti fisik yang sangat berharga bagi kasus tersebut. Juga, aspek investigasi penting lain telah dicapai—yakni rekonstruksi peristiwa kejahatan. Dengan mengevaluasi semua informasi dan bukti-bukti yang telah diperiksa, investigator dapat memadukan serangkaian peristiwa yang dapat dihasilkan dari situasi yang muncul pada saat dia datang ke TKP. Rekonstuksi ini, dipadukan dengan analisis laboratorium oleh ahli forensik berdasarkan bukti fisik yang terkumpul, dapat menghasilkan sebuah saksi yang kuat untuk unsur kejahatan, kemajuan peristiwa, dan tanggung jawab orang.
Harley M. Sagara

Daftar Pustaka
Davies, Geoffrey (ed.). Forensic Science. Edisi ke-2. Washington, DC: American Chemical Society, 1986.
De Foster, Peter R., R.E. Gaensslen, dan Henry C. Lee. Forensic Science: An Introduction to Criminalistics. New York: McGraw-Hill, 1983.
Goddard, Kenneth W. Crime Scene Investigation. Reston, VA: Reston, 1977.
Saferstein, Richard. Criminalistics: An Introduction to Forensic Science. Ed. ke-2. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1981.
Schultz, Donald O. Crime Scene Investigation. Englewood Cliffs, NJ: Prentice-Hall, 1977.
______. Criminal Investigation Techniques. Houston, TX: Gulf, 1978.
Svensson, Arne, Otto Wendel, dan Barry A.J. Fisher. Techniques of Crime Scene Investigation. Ed. ke-3. New York: Elsevier, 1981.
U.S. Department of Justice. Federal Bureau of Investigation. Handbook of Forensic Science. Washington, DC: Government Printing Office, 1981.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar