31 Mei 2009

* KEJADIAN 31 MEI 2009

1. KEBAKARAN
Waktu kejadian : Tanggal 30 Mei 2009 Pukul 12.00 Wib.
TKP : Jl. Ulul Jami Raya Rt. 05/02 Pesangrahan Jaksel.
Korban : H. Toto, Al. TKP.
Saksi : Nano, 56th.
Kronologis : Saksi melihat kepulan asap dari belakang rumahnya. Api diduga berasal dari konsleting arus listrik. Korban jiwa nihil, api dapat dipadamkan dengan bantubn 12 unit mobil DPK.
Kerugian : 1 unit Rumah tinggal.
Ditangani : Sektro Pesangrahan.

2. KEBAKARAN
Waktu kejadian : Tanggal 30 Mei 2009 Pukul 14.00 Wib.
TKP : Jl. Komando III Ujung Gg. O No. 29 dan No. 30 Rt. 14/02 karet setia Budi Jaksel.
Korban : Ardi, 35th , AL. TKP, (MD), Aldi, 5th, Al. TKP, (MD), Dimas, 9th, Al. TKP (Mengalami luka bakar)
Kronologis : Asal mula api masih dalam penyelidikan, api diperkirakan berasal dari rumah No. 29, Api dapat dipadamkan dengan mengunakan 14 unit mobil DPK. Korban jiwa meninggal sebanyak 2 orang dibawa ke RSCM sedangkan 1 orang yang mengalami luka bakar dibawa ke RSPP.
Ditangani : Sektro Setia Budi.

* SIM DAN STNK KELILING

Minggu, 31 Mei 2009

WILAYAH LOKASI

JAKARTA PUSAT SIM Keliling di Pintu 7 Senayan
JAKARTA TIMUR SIM Keliling di Padepokan Pencak Silat TMII

SIM KELILING INI BEROPERASI DARI PKL. 08.00 S.D 11.00 WIB.

* Repeat Offender Program (Program bagi Penjahat Kambuhan)

Repeat Offender Program (Program bagi Penjahat Kambuhan)
Repeat Offender Programs (ROP) dan/atau Targeted Offender Programs (TOP) membutuhkan kerja sama khusus antara polisi dan jaksa penuntut untuk merancang suatu pola yang dapat menyebabkan pelaku pelanggaran tidak mampu menggunakan upaya terarah sebelum penangkapan, pemberian jaminan, dan atau siasat perbaikan setelah penangkapan.

Background (Latar Belakang)
Studi empiris baru-baru ini telah menetapkan bahwa polisi dan aparat negara memiliki sejumlah kecurigaan bahwa sejumlah kecil para pelaku kejahatan memiliki peran tak seimbang atas semua kejahatan yang terjadi di Amerika Serikat. Khususnya, sebanyak 10 persen pelaku kejahatan paling aktif terlibat pada lebih dari 50 persen aksi kejahatan (Blumstein et al., 1986; Wolfgang, Figlio, dan Sellin, 1972). Kelompok ini sering disebut sebagai “penjahat karir” (Petersilia, Greenwood, dan Lavin, 1978); (Chaiken dan Chaiken, 1982) menunjukkan bahwa kira-kira hanya 15 persen dari mereka yang dihukum setiap tahunnya (Gay dan Bowers, 1985). Meskipun demikian, Pontell (1984) menjabarkan sebagai “terbatasnya kapasitas untuk menghukum,” membutuhkan ruangan penjara lebih banyak daripada kapasitas penjara itu sendiri.

Lagipula, kejahatan yang terjadi di kota besar dengan frekuensi dan volume seperti itu menyebabkan para penegak hukum tidak mungkin mampu bereaksi terhadap setiap kejadian. Pandangan ini suatu hal yang benar berdasarkan strategi orientasi kasus tradisional di mana waktu yang dibutuhkan para penyidik dipengaruhi oleh kegentingan pelanggaran, kemungkinan adanya penangkapan, dan kemungkinan adanya tinjauan positif dari jaksa penuntut. Dari keseluruhan proses ini, kasus dan kualitaslah yang menjadi pusat perhatian penyidik, bukan karakteristik pelaku yang memiliki identitas dan riwayat kriminal yang umumnya tidak diketahui.

Kesemua fakta yang ada menunjukkan bahwa, jika ingin sukses dalam mengantisipasi kejahatan, penegak hukum perlu berkonsentrasi dengan menggunakan sumber daya yang terbatas hanya bagi pelaku yang sangat aktif dan pelaku kambuhan yang berbahaya serta melakukan kerja sama dengan jaksa penuntut dalam membatasi mereka.

Akibatnya, banyak departemen polisi mulai mencari alternatif yang proaktif untuk melakukan teknik penyelidikan yang terpercaya dengan cara berpatroli secara acak dan metode investigasi yang berorientasi kasus.

Enforcement Initiatives (Inisiatif Pelaksanaan)
Sejak pertengahan tahun ‘70-an, pihak kepolisian dan kalangan akademisi yakin bahwa teknik memberikan informasi secara langsung tentang pentingnya menjaga ketertiban (misalnya dengan cara mengacu kepada masalah tertentu dan/atau pelaku pelanggaran) akan meningkatkan prestasi polisi dan harapan masyarakat dan akan mengurangi tingkat kriminalitas (Cordner dan Eret, 1992). Beberapa contoh inisiatif yang inovatif antara lain dengan menggalakkan polisi sipil (hansip), mematahkan rencana pelaku, menentukan titik rawan, melakukan patroli terarah, patroli terpisah, membuat pemetaan, pengejaran pelaku dengan patroli, operasi khusus, regu polisi, dan Feloni Augmentation Pogram.

Dengan pengembangan strategi intervensi langsung dan sebagai jawaban atas masalah yang diajukan oleh pelaku karir kriminal ini, Departemen Kehakiman pada pertengahan tahun ‘70-an, melalui Law Enforcement Assistance Administration (LEAA) mendukung berbagai ahli setempat dalam Comprehensive Carrer Criminal Programs (CCCP). CCCP pada awalnya dirancang untuk meningkatkan, mengkoordinasi, dan mengintegrasikan polisi dan jaksa penuntut dalam usaha menahan dan menghukum kebiasaan penjahat kambuhan yang serius, CCCP suatu program yang berambisi dengan dua sasaran yaitu Integrated Criminal Apprehension Program (ICAP) bagi polisi dan Career Criminal Program (CCP) bagi para jaksa penuntut (Chelimsky dan Dahmann, 1981).

ICAP mencari cara untuk meningkatkan pelayanan kepolisian agar lebih berdaya-guna dan lebih tepat-guna dengan penyebaran patroli dan kegiatan lapangan guna mengumpulkan data yang sistematis, analisis kejahatan, dan perencanaan tersusun. Penggunaan analisis kejahatan dan prinsip manajemen yang baik dalam menentukan kegiatan polisi di lapangan dan investigasi kriminal adalah aspek penting dari ICAP. Sayang sekali hanya ditemukan bukti strategis yang terbatas atau keputusan taktis yang dihasilkan oleh penggunaan analisis kejahatan, atau bahwa informasi strategis itu sendiri telah diketahui oleh orang yang dicurigai (Gay, Beall, dan Bowers, 1984) Walaupun patroli dan aparat penyidik telah menunjukkan berbagai tingkat keahlian dalam mengenali pelaku tindak pidana, tetapi tugas rutin lainnya mengganggu konsentrasi mereka dalam menghadapi pelaku kejahatan.

Sama halnya, para jaksa penuntut CCP program pembinaan penjahat hanya namanya saja, karena mengalami masalah spesifik seperti prosedur, sistem monitoring guna mengenali dan menuntut pelaku kejahatan (Springer, Philips dan Cannady, 1985; Chelimsky dan Dahmann, 1981). Jadi, di samping keberhasilan sasaran dan mekanisme pekerjaan, evaluasi intensif merupakan 4 hal yang ditemukan pada CCP oleh LEAA yang menunjukan bahwa mereka tidak melakukan upaya peningkatan hukum dan penangkapan. Lebih dari itu, penilai CCP menemukan bahwa hubungan polisi dan jaksa penuntut terbatas hanya pada kegiatan setelah penangkapan (Chelimsky dan Dahmann, 1981).

Police Repeat Offender Programs (Program Penjahat Kambuhan Polisi)
Tidak lama setelah evaluasi ICAP dan CCP (mengenai identifikasi dan penahanan pelaku karir kriminal), agen polisi mulai mengadakan percobaan dengan berbagai program bagi penjahat kambuhan, atau ROP di akhir tahun1970-an dan awal tahun ‘80-an. Walaupun ROP menggunakan beberapa teknik yang sama yang lebih kecil dan lebih khusus untuk mengidentifikasi dan memenjarakan pelaku karir kriminal, hal itu dianggap sebagai menentang usaha yang teratur luas dan didukung oleh CCCP.

Suatu survei acak yang diselenggarakan di seluruh negara bagian pada tahun 1984 oleh Gay dan Bowers (1995:8) menemukan 33 penegak hukum yang menjalankan ROP, yang semuanya menggunakan satu atau lebih dari tiga jenis program : (a) Target pra-penangkapan—dengan memanfaatkan informan dan pengawasan intensif ; (b) Penggunaan surat perintah penangkapan seseorang dengan alasan terjadinya kejahatan ; dan (c) Strategi peningkatan kasus pasca penangkapan untuk mengingatkan narapidana atas hukuman yang lebih lama.

Dalam kesimpulan evaluatif mereka, Gay dan Bowers menguraikan dengan baik mengenai program peningkatan pasca penangkapan (terutama sekali bagi mereka yang beroperasi di wilayah Baltimore dan kota besar New York) dan, dengan beberapa syarat, program pra-penangkapan yang telah dilakukan di San Diego, St Louis, Washington, DC, dan West Covina.

Survei Gay dan Bower menemukan bahwa ada variabel penting dalam orientasi, administrasi, dan intensitas ROP, di mana masing-masing variabel memiliki kelebihan dan kelemahan: (a) Pelanggar yang spesifik dipilih untuk dijadikan sasaran khusus; (b) Polisi melampaui prosedur rutin dan normal untuk memastikan bahwa sasaran yang ditargetkan itu akan ditahan dan dikurung untuk kejahatan mereka.

Program yang terkenal bagi penjahat kambuhan, dan yang merupakan satu-satunya ROP yang telah diteliti secara ekstensif, telah ditetapkan oleh Metropolitan Police Department di District of Columbia pada tahun 1982. Sasaran dari Unit ROP Washington adalah untuk meningkatkan pengetahuan tentang pelaku yang menjadi target berdasarkan para informan, pola kejahatan sebelumnya, dan keahlian polisi yang lainnya. Jika percobaan pengawasan langsung ternyata membuat frustrasi dan terlalu banyak menghabiskan waktu, unit ROP Washington mengalihkan sebagian besar perhatiannya kepada penggunaan surat perintah pidana.

Sebuah evaluasi dari Martin dan Sherman (1986) menemukan bahwa ROP Washington kemungkinan sekali dapat meningkatkan penangkapan, penuntutan kejahatan pidana, hukuman kejahatan pidana, dan panjangnya daftar keseluruhan orang yang dihukum. Secara keseluruhan, ROP telah menangkap 47 persen target dari kelompok eksperimental, sementara hanya 6 persen dari mereka ditugasi sebagai pengendali yang telah ditangkap. Bagaimanapun juga, hasil ini mungkin saja bias karena pemilihan target ROP Washington dan kriteria yang digunakan untuk menentukan calon berpotensi untuk ditangkap. Menurut Martin dan Sherman (1986:9):

Walaupun para petugas diharapkan memilih sasaran penjahat yang aktif, ROP tidak menetapkan indikator formal dari aktivitas atau sistem apa pun untuk menentukan calon potensial. Pemilihan hanya didasarkan kepada pemahaman informal tentang apa yang membuat suatu target yang “benar”.

Ketiadaan kendali oleh manajemen dalam mengijinkan pasukan ROP untuk mengembangkan secara luas kriteria mereka yang dihasilkan dalam ketiga jenis pasukan ROP: “pemburu” (memusatkan tugas pada penggunaan surat perintah), “penjebak” (mengkhususkan diri kepada pengawasan, umpan, dan operasi proaktif lainnya secara rahasia), dan “penangkap” (melakukan tindakan terhadap apa pun yang dapat mereka temukan). Menurut para penilai, aktivitas pasukan ini menimbulkan suatu masalah yang lebih serius:

Dengan jangkauan yang luas itu, ROP meningkatkan bahaya digunakannya label “penjahat kambuhan” secara informal kepada banyak individu yang sesungguhnya tidak perlu terlalu aktif untuk membuat Jaksa Agung Amerika memberikan pertimbangan khusus kepada para tahanan dengan menunjukkan banyak kasus sebagai hal yang sepele (Martin dan Sherman, 1986:10)

Meski demikian, ROP Washington dianggap lebih sukses dibanding program pra-penangkapan sebelumnya dan menunjukkan bahwa upaya pra-penangkapan dapat digunakan untuk mengidentifikasi dan melakukan penanganan secara efektif kepada pelaku karir kriminal. Hal ini memberi jalan bagi program penjahat kambuhan berikutnya yang telah mempekerjakan lebih banyak kriteria pemilihan calon yang dibentuknya, dengan cara bekerja sama dengan jaksa penuntut dalam menyusun kriteria pemilihan calon, sehingga dapat digambarkan siapa yang memenuhi syarat untuk sasaran pra-penangkapan dan proses penuntutan kasus pasca penangkapan. Pada gilirannya hal ini mengijinkan untuk lebih efisien menggunakan keterbatasan sumber daya dan menghindari perbuatan yang melanggar kebebasan sipil.

Current Research on ROPs (Riset mutakhir tentang ROP)
Suatu studi terbaru tentang ROP oleh lembaga penelitian Rand Corporation mengevaluasi secara empiris dampak suatu strategi pasca-penangkapan yang digunakan oleh Phoenix Police Department (Abrahamse et al., 1991). Eksperimen lapangan secara acak dilakukan satu tahun (1987 sampai 1988) dan berakhir dengan 480 tugas (257 kepada kelompok eksperimental dan 223 kepada kelompok kontrol).

Analisis kasus yang diamati tidak menunjukkan peningkatan penting apa pun dalam nilai hukum untuk percobaan kasus ROP, tetapi mengungkapkan adanya peningkatan yang signifikan dalam tingkat hukuman bagi kasus eksperimental (ROP), tetapi mengungkapkan peningkatan yang signifikan dalam kemungkinan masuk penjara dan lama hukuman yang dijatuhkan (Abrahamse et al., 1991:155).

Pelajaran yang dapat diambil dari usaha ROP sejak awal adalah bahwa program ini akan lebih efisien dan efektif dilakukan terhadap pelaku karir kriminal jika dapat mengatasi ketiga permasalahan yaitu: (a) masalah informasi; (b) masalah mobilitas; dan (c) masalah berantai (Spelman, 1990).

Masalah informasi merupakan “hamparan” manajemen yang lemah dalam koordinasi dan komunikasi antardepartemen dan dalam departemen itu sendiri, terutama dengan komponen lembaga peradilan di kejaksaan. Lebih dari itu, pelaku berpengalaman tampaknya lebih gesit, tidak ada agen polisi (atau tidak ada agen masa percobaan atau penuntutan tunggal atau tidak ada unit ROP) memiliki informasi lengkap tentang aktivitas seorang pelaku pelanggaran. Oleh karena itu, para penegak hukum harus bekerja sama untuk mengidentifikasi, menangkap, menghukum, dan menjadikan pelaku kambuhan yang serius agar tidak mampu melakukan aktivitasnya lagi.

Akhirnya, dengan maksud memaksimalkan fungsi sistem peradilan pidana seefisien dan seefektif mungkin harus diingat bahwa polisi, lingkungan peradilan, dan lembaga pemasyarakatan di semua hubungan harus terikat dalam suatu mata rantai, di mana tiap komponen baik secara langsung maupun tidak langsung berdampak pada komponen lain dalam sistem itu. Jika mata rantai itu patah pada beberapa titik, oleh perangkat hukum mana pun, dikhawatirkan para penjahat kriminal akan lepas dari upaya hukum.

Dalam usaha untuk mengatasi beberapa kelemahan dan kritik awal dari program penjahat kambuhan, Police Executive Research Forum (PERF) bersama Bureau of Justice Assistance (BJA) merancang “model” program penjahat kambuhan yang lebih spesifik untuk mengatasi permasalahan tersebut. Meski bersifat spesifik, model ini cukup terbuka untuk mengakomodasi kemampuan adaptasi di tingkat kepolisian lokal, jaksa penuntut, dan petugas lembaga permasyarakatan (Spelman, 1990). Para peneliti PERF kemudian memilih tiga yurisdiksi (Kansas, Missouri; Rochester, New York; dan Eugene, Oregon) untuk menerapkan dan menguji model tersebut.

Setelah meninjau ulang ROP, peneliti PERF menyimpulkan secara lebih sistemik bahwa suatu pendekatan menyeluruh dalam menargetkan pelaku karir kriminal (sebagai lawan terhadap pendekatan unit yang khusus dan terpecah-pecah) akan lebih efektif (Spelman, 1990:65). Model ini menghasilkan disain konseptual yang terpusat pada aktivitas pengintegrasian internal, pengintegrasian horisontal, dan pengintegrasian vertikal di antara dan di dalam agen peradilan pidana. Spelman (1990:66) menjelaskan:

Integrasi Internal. Program yang sangat penting terbatas pada unit-unit khusus, tetapi informasi, keahlian, dan sumber daya lain yang luas didistribusikan kepada para aparat peradilan pidana yang terlibat. Unit-unit khusus akan lebih efektif jika anggota satuan di luar unit yang terlibat di dalam operasi dan pengembangan program.

Integrasi Horisontal. Terbatas pada satu departemen kepolisian atau kantor kejaksaan, tetapi para penjahat kambuhan sering kali melakukan kejahatan dalam beberapa yurisdiksi. Jadi, ROP akan lebih efektif jika semua agen penegak hukum di kota dan county dalam daerah metropolitan turut berpartisipasi.

Integrasi Vertikal. Keikutsertaan kejaksaan dalam keputusan pemilihan sasaran dan dalam taktis operasi akan lebih banyak membantu ke arah kepastian, walaupun tidak keseluruhan para penjahat kambuhan yang menerima perhatian khusus. Keterlibatan petugas masa percobaan formal dan atau petugas pembebasan bersyarat dapat dengan cara yang sama memastikan bahwa pelaku telah diawasi lebih ketat sementara mereka berada di jalanan.

Meskipun belum ada tugas yang bersifat evaluatif dan empirik atas implementasi model ini, model sistem-luas yang diterapkan menunjukkan bahwa program ROP dapat berlangsung sukses bila dibarengi dengan spesialisasi dan sentralisasi. Menurut Spelman (1990:70), kolaborasi dalam masing-masing agen dan antar-agen adalah kunci dari tiga kota besar ini. Walaupun ROP mengandalkan taktik dan struktur administratif yang berbeda, “suatu integrasi, sistem pendekatan yang luas adalah sesuatu yang biasa untuk mereka semua.”

Usaha terbaru dalam menganalisis program penjahat kambuhan secara empirik, dengan menggunakan target pra-penangkapan dan strategi paska penangkapan, telah diarahkan oleh Gay pada tahun 1993. Riset Gay melibatkan analisis yang luas mengenai ROP pada beberapa departemen polisi utama di negara bagian Texas yang mencakup suatu proses dan pengaruh penilaian yang kuat tentang Targeted Offender Program di Houston Police Department.

Secara ringkas, program penjahat kambuhan adalah inovasi terbaru yang secara rinci dirancang pada pencapaian target, penahanan, dan secara selektif membuat ketidakmampuan para penjahat karir kriminal Dengan jenis lain dari strategi inovatif polisi, ROP sesuai dengan bermacam-macam tingkat kesuksesan. Bagaimanapun, dengan adanya permasalahan dengan pelaku karir kriminal, diharapkan ROP dan TOP akan berlanjut demi kelangsungan kerja sama antarpetugas penegakan hukum sepanjang tahun ‘90-an.
Bruce W. Gay

Daftar Pustaka
Abrahamse, A., P. Ebener, P. Greenwood, N. Fitzgerald dan T. Kosin. “An Experimental Evaluation of the Phoenix Repeat Offender Program.” Justice Quarterly 8 (1991):141"68.
Blumstein, A., J. Cohen, J. Roth, dan C. Visher (ed.). Criminal Careers and Career Criminals. Vol. 1. Washington, DC: National Academy Press, 1986.
Chaiken, J. dan M. Chaiken. Varieties of Criminal Behavior. Santa Monica, CA: Rand Corporation, 1982.
Chelimsky, E. dan J. Dahmann. Career Criminal Program National Evaluation: Final Report. U.S. Department of Justice, National Institute of Justice. Washington, DC: Government Printing Office, 1981.
Cordner, G. dan D. Hale (ed.). What Works in Policing: Operations and Administration Examined. Cincinnati, OH: Anderson, 1992.
Gay, Bruce W. “Policing Hard Core Offenders: An Analysis of Targeted Offender Programs in Texas That Use Pre-Arrest Targeting and Post-Arrest Case Enhancement Strategies to Selectively Incapacitate Career Criminals.” Disertasi Ph.D. yang tidak dipublikasikan. Huntsville, TX: Sam Houston State University, 1993.
Gay, W., T. Beall dan R. Bowers. A Four-Site Assessment of the Integrated Criminal Apprehension Program. Washington, DC: University City Science Center, 1984.
Gay, William dan Robert Bowers. Targeting Law Enforcement Resources: The Career Criminal Focus. Washington, DC: U.S. Department of Justice, National Institute of Justice, 1985.
Martin, Susan dan Lawrence Sherman. Catching Career Criminals: The Washington, D.C. Repeat Offender Project. Report No. 3. Washington, DC: Police Foundation, 1986.
Petersilia, J., P. Greenwood dan M. Lavin. Criminal Careers of Habitual Felons. Santa Monica, CA: Rand Corporation, 1978.
Pontell, Henry. A Capacity to Punish: The Ecology of Crime and Punishment. Bloomington, IN: Indiana University Press, 1984.
Spelman, William. Repeat Offenders. Washington, DC: Police Executive Research Forum, 1990.
Springer, J., J. Phillips dan L. Cannady. The Effectiveness of Selective Prosecution by Career Criminal Programs.Washington, DC: EMT Group, 1985.
Wolfgang, M., R. Figlio dan T. Sellin. Delinquency in a Birth Cohort. Chicago, IL: University of Chicago Press, 1972.

* BUAH APEL MENCEGAH UBAN

Uban lazimnya muncul pada orang lanjut usia. Meski demikian uban terkadang muncul pada usia muda. Banyak faktor yang menyebabkan munculnya uban pada usia muda, seperti faktor keturunan, kurang gizi, dan rambut tidak dirawat dengan baik

Munculnya uban dini harus dicegah sebab membuat penampilan kurang indah. Mencegah uban usia muda bisa dilakukan dengan cara sederhana. Ambil dua buah apel, parut, beri sedikit santan, usapkan merata di kepala, biarkan 30 menit, keramaslah seperti biasa. lakukan 3 kali dalam seminggu, dalam 2 bulan Anda akan melihat hasilnya. Rambut akan tumbuh subur dan tidak muncul uban baru.

30 Mei 2009

* Pelaku Penculikan Kezia yang Buron Ditangkap di Bogor

30-05-2009

PUSKOMINFO – Salah Satu pelaku penculikan terhadap Kezia Yunike (5 th), yang diculik sopirnya sendiri dari Sekolah TK II Dian Harapan, Jalan Gunung Rinjani, Taman Himalaya Lippo Karawaci, Tangerang tanggal 29 Mei 2009 kemarin, kini pelaku yang sempat buron berhasil ditangkap Sat Jatanras Dit Reskrimum Polda Metro Jaya.

Sebelumnya, polisi menangkap 3 pelaku, yakni Akiat Setiawan alias H. Sanusi yang juga sopir orangtua korban, Didi Armanto, dan Karsidi. Akiat ditangkap di Alfamidi Parung Panjang, saat menarik sebagian uang tebusan melalui Debit BCA. Didi dan Karsidi ditangkap di Hotel Pendopo, Kamar Semeru, jampang Bogor, saat mengawasi korban dan baby sisternya.Sedangkan satu pelaku lagi, Joko, berhasil melarikan diri.

Melalui pengejaran yang tak kenal lelah, akhirnya Joko tertangkap di kawasan Parung, Bogor, Jawa Barat Sabtu (30/05) tadi sore.

Informasi yang diperoleh dari Sat Jatanras Dit Reskrimum Polda Metro Jaya, kini pelaku masih diamankan di Polsek Parung, Bogor untuk selanjutnya akan dibawa ke Polda Metro Jaya.

Kezia disekap kawanan penculik di hotel Pendopo Kamar Semeru, Jampang, Bogor, salah satu pelakunya sopir orang tua korban. Adapun motif penculikan adalah murni karena uang. Pelaku meminta uang tebusan sebesar Rp 500 juta kepada orangtua korban.

* Kebakaran di Setiabudi, 2 Tewas dan 1 luka

30-05-2009

PUSKOMINFO - Kebakaran yang terjadi di Jln. Komando No 2 Setiabudi Jakarta Selatan, Sabtu (30/05) menelan korban jiwa 2 orang tewas dan 1 luka bakar.

Api yang mulai berkobar pukul 14.30 WIB tersebut mengakibatkan 2 korban meninggal dunia atas nama Andi berumur 35 tahun dan Yohanes berusia 5 tahun, kedua korban sudah dilarikan ke RS.Cipto Mangun Kusumo, sedangkan satu orang mengalami luka bakar atas nama Anis.

Api berhasil dipadamkan sekitar pukul 16.10 WIB dengan bantuan 4 unit Mobil Pemadam Kebakaran dari Sudin Kebakaran Jakarta Selatan.

* Dua Rumah Di Setia Budi Dilalap Si Jagomerah

30-05-2009

PUSKOMINFO - Si Jagomerah mengamuk di pemukiman padat penduduk di Jln. Komando No 2 Setiabudi Jakarta Selatan, Sabtu (30/05) Sekitar pukul 14.30 WIB. Dalam peristiwa ini dua rumah hangus dilalap si Jagomerah.

Informasi dari TMC Dit Lantas Polda Metro Jaya, kebakaran tersebut mengakibatkan satu korban mengalami luka bakar dan sudah dilarikan ke Rumah sakit terdekat.

Empat pemadam kebakaran dari Dinas Kebakaran Jakarta Selatan dengan dibantu warga sekitar sedang berusaha memadamkan api. Hingga berita ini diturunkan kebakaran masih berlangsung.

* Proses Rekonstruksi Pembunuhan Nasrudin Zulkarnaen, Berjalan Lancar

30-05-2009

PUSKOMINFO - Proses Rekonstruksi penembakan Dirut PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen yang digelar sejak pukul 10.00 WIB hingga kini masih berlangsung.

Polisi menjaga ketat rekonstruksi penembakan Dirut PT Putra Rajawali Banjaran Nasrudin Zulkarnaen. Sedikitnya dua satuan setingkat kompi (SSK) Samapta dari Polres Metro Tangerang Kabupaten, Polsek Metro Cipondoh dan Polda Metro Jaya dikerahkan untuk menjaga empat lokasi di sekitar Perumahan Modernland, Kota Tangerang.

Empat eksekutor Nasrudin dihadirkan dalam rekonstruksi tersebut lengkap dengan Avanza dan Yamaha Scorpio yang mereka kendarai.

Rekonstruksi ini berawal dari kediaman Nasrudin di Perumahan Banjar Wijaya yang jaraknya sekitar lima kilometer dari padang golf Modernland. Mobil BMW B 191 E yang ditumpangi Nasrudin ternyata sudah dimata-matai sejak awal.

Adegan berikutnya saat bermain golf, menuju parkiran dan saat eksekusi di lokasi penembakan yang berada di dekat danau, tepatnya dekat bundaran Modernland. Proses Rekonstruksi berjalan dengan lancar.

* Rekonstruksi Penembakan Nasrudin Digelar

30-05-2009

PUSKOMINFO – Penyidik Polda Metro Jaya pagi ini Sabtu (30/05) akan menggelar rekonstruksi kasus pembunuhan Direktur PT Putra Rajawali Banjaran (PRB) Nasrudin Zulkarnaen di kawasan Modernland, Tangerang.

Rekonstruksi yang digelar mulai pukul 09.00 WIB ini guna melengkapi berkas pemeriksaan terhadap para tersangka yang telah ditahan. Dalam kaitan itu, orang-orang yang diduga kuat sebagai eksekutor akan dibawa ke lokasi pembunuhan, antara lain Hendrikus, Fransiskus, Daniel dan Heri .

Mereka di giring dari ruang tahanan Narkoba Polda Metro Jaya dengan dikawal dua peleton Samapta Polda Metro Jaya menuju tempat kejadian perkara di Modern Golf, Tangerang.

Selain keempat tersangka, terlihat juga saksi Suparmin, supir Nasrudin. Suparmin tampak mengendarai mobil BMW nopol B 191 E yang merupakan mobil Nasrudin.

Nasrudin sendiri dihabisi usai bermain golf di Modernland pada 14 Maret lalu dengan cara ditembak dibagian kepala. Hingga kini proses penyelidikan dan penyidikan kasus ini terus berlangsung.

* Siswa TK diculik Sopir, Pelaku Minta Tebusan 500 Juta

30-05-2009

PUSKOMINFO - Satuan Kejahatan Dengan Kekerasan (Sat Jatanras) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya mengungkap kasus penculikan anak berusia 5 tahun, Jumat (29/05). Petugas menangkap tiga pelaku, yang diantaranya adalah sopir korban.

Kezia Eunike, 5 th, anak yang masih sekolah TK ini diculik oleh sopirnya sendiri, Akiat setiawan, pada tanggal 29 Mei 2009 sekira pukul 15.00 WIB sepulang dari sekolah TK II Dian Harapan, Jalan Gunung Rinjani, Taman Himalaya Lippo Karawaci, Kelapa Dua, Kabupaten Tangerang.

Saat itu, Akiat Setiawan yang bertugas menjemput korban pukul 14.00 WIB, tetapi hingga pukul 17.00 WIB belum juga tiba di rumah. Tak lama kemudian, orang tua korban menerima telepon dari Akiat memberitahu bahwa Kezia diculiknya. Akiat meminta uang tebusan sebesar Rp. 500 juta.

Takut terjadi sesuatu pada anak kesayangannya, Andre, orang tua korban, menuruti permintaan pelaku dengan mentransfer uang Rp. 500 juta ke rekening yang disebutkan pelaku. Namun selanjutnya, orang tua Kezia melaporkan kejadian tersebut ke Polda Metro Jaya.

Laporan tersebut ditindaklanjuti dengan penyelidikan. Hasil penyelidikan diketahui bahwa keberadaan korban beserta Baby Sisternya berada di Hotel Pendopo 5 kamar Semeru, Jampang, Bogor.

Petugas pun bergerak menuju lokasi tersebut dan pada malam itu juga Jumat (29/05) akhirnya berhasil menangkap tiga orang pelaku, yaitu Akiat Setiawan, Didi dan Karsidi . Akiat ditangkap di Alfamidi Parung Panjang, saat menarik sebagian uang tebusan melalui Debit BCA. Didi dan karsidi ditangkap di Hotel Pendopo, Kamar Semeru, jampang Bogor, saat mengawasi korban dan baby sister.

Dari tangan para pelaku, petugas menyita barang bukti sebilah pisau, Kartu ATM atas nama Lina dan satu unit mobil Kijang Inova B 1991 NFE milik korban yang telah diganti plat kendaraannya menjadi B-278-JD.

Kini, Petugas masih memburu Joko, pelaku yang berhasil melarikan diri. Sedangkan, untuk mengurangi stres yang dialami korban, Kezia Eunike, sudah dkembalikan kepada orang tuanya tadi malam.

* Kejadian 30 Mei 2009

1.Pencurian dengan Pemberatan

Waktu kejadian : 29 Mei 2009 Pkl. 10.00 Wib.
Tkp : Jl. Abdul Gani No. 8 Rempoa Ciputat Jakarta Selatan.
Korban : Irma E. Reuneker
Pelaku : Lidik.
Saksi : Eni, Pembantu Rumah tangga
Kronologis Kejadian : Seperti biasanya, Saksi datang ke TKP untuk membersihkan rumah, melihat keadaan TKP sudah berantakan. Selanjutnya saksi menghubungi korban untuk memberitahu. Korban datang memeriksa ternyata benar kamar telah berantakan dan brankas yang ada di lemari telah hilang.
Kerugian : Uang Tunai dan barang berharga lainnya senilai Rp. 1 miliar.
Ditangani : Polda Metro Jaya.

2. Pencurian dengan kekerasan.

Waktu kejadian : 29 Mei 2009 Pkl. 15.00 Wib.
Tkp : Pabrik Roti Lauw Jl. Raya Rt. 03/04 Kel. Pondok Jaya Pondok Aren Tangerang Kab.
Korban : Barli Suryadi, 26 th.
Saksi : Samkun, 54 th.
Pelaku : Empat orang laki-laki (Dalam Lidik).
Kronologis Kejadian : Pelaku masuk ke lokasi dengan cara memanjat pagar dan melumpuhkan saksi yang sedang berjaga. Kedua tangan dan kaki saksi diikat dengan tali sepatu serta melakban mulut saksi. Kemudian para pelaku masuk ke dalam kantor dengan cara merusak gembok pintu. Pelaku mengambil uang tunai dan barang-barang dengan total Rp. 20 juta.
Kerugian : 1 unit KR R4 Honda Jazz Nopol B-8642-MU, 1 tas berisi uang tunai Rp. 4 juta, 1 Laptop merk Accer, 1 HP Nokia.
Ditangani : Sektro Pondok Aren.

3. Pencurian dengan pemberatan

Waktu kejadian : 29 Mei 2009 Pkl. 15.57 Wib.
Tkp : BSD Sektor IV-2 Giriloka II Blok P/16 Kelurahan Lengkong Wetan Serpong Tangerang Kab.
Korban : Bernadeth Gauditia, 30 th.
Saksi : Patrick, 29 th.
Pelaku : Hol, 25 th, Pembantu Rumah Tangga.
Kronologis Kejadian : Pada saat korban sedang berada di luar rumah, pelaku yang bekerja sebagai pembantu rumah tangga mencuri barang berharga milik korban yang disimpan di lemari kamar korban.
Kerugian : 1 laptop, 2 DVD Player, 2 Giwang berlian, 2 Cincin Emas Putih dan kuning bermata berlian, 3 HP Motorola, Uang tunai Rp. 1 juta.
Ditangani : Sektro Serpong Restro Tangerang Kab.

4. Pencurian dengan kekerasan

Waktu kejadian : 29 Mei 2009 Pkl. 11.30 Wib.
Tkp : Jl. Palem Putri V/51 Bencongan Kelapa Dua Tangerang.
Korban : Emanuel Bayu Putra, 38 th.
Saksi : Ipah, 14 th.
Pelaku : Dua orang laki-laki (Dalam lidik).
Kronologis Kejadian : Pelaku masuk ke TKP dengan cara berpura-pura bertamu. Kemudian memaksa saksi membuka pintu pagar. Pelaku masuk langsung memukul, mengikat saksi dengan tali sepatu dan menutup mata saksi dengan dasi. Saksi mengalami luka pecah bibir. Selanjutnya para pelaku kabur dengan membawa barang-barang milik korban.
Kerugian : Uang tunai Rp. 1,5 juta, 1 DVD merk Sony, 1 Playstation, 1 Handycam Samsung, 1 Kamera Digital Panasonic, 3 HP Nokia. (Jumlah kerugian diperkirakan Rp. 15 Juta).
Ditangani : Sektro Kelapa Dua Restro Tangerang Kab.

5. Pembunuhan

Waktu kejadian : 29 Mei 2009 Pkl. 13.15 Wib.
Tkp : Perum Mas Naga Jl. Batu Mulia Raya Blok D No. 525 Rt. 02/09 Kelurahan Jaka Sampurna Bekasi Barat.
Korban : Firnandi, 52 th.
Saksi : Sunu Supitono, 57 th.
Pelaku : Dalam lidik.
Kronologis Kejadian : Saksi menemukan korban sudah meninggal dunia di TKP dengan posisi tubuh korban miring, tangan kiri terlipat di bawah kepala. Di kepala korban terdapat luka pecah akibat hantaman benda tumpul. Selanjutnya korban dibawa ke RS. Polri Soekanto Kramat Jati untuk VER.
Ditangani : Sektro Bekasi Barat Restro Bekasi.

6. Pencurian dengan kekerasan

Waktu kejadian : 29 Mei 2009 Pkl. 01.00 Wib.
Tkp : Perum Taman wanasari Indah Blok D-1 Nomor 18 Rt. 02/08 Kelurahan Wanasari Kecamatan Cibitung Wanasari Bekasi Kab.
Korban : Inu Purwanda, 34 th.
Saksi : Solichan, 35 th.
Pelaku : Dua orang tak dikenal, dalam lidik.
Kronologis Kejadian : Pelaku masuk ke TKP dengan cara mencongkel jendela kemudian masuk ke kamar korban. Pelaku mengambil kunci kontak mobil berikut STNK. Namun diketahui oleh korban, selanjutnya korban ditodng dengan menggunakan Senjata Api dan mengancam korban untuk membuka pintu pagar. Pelaku membawa kabur mobil korban Honda Jazz merah Nopol B-8642-MU sambil melepaskan tembakan ke udara sebanyak 3 kali.
Kerugian : 1 Unit Mobil, 1 tas berisi uang tunai Rp. 4 juta, Laptop merk Accer, 1 HP Nokia.
Ditangani : Sektro Cibitung Restro Bekasi Kab.

KEJADIAN TANGGAL 30 MEI 2009

Kasus penculikan :

Satjatanras Ditreskrim Um Polda Metro Jaya telah berhasil mengungkap kasus penculikan korban an. Kezia Yunike, perempuan, 5 th, putri dari Bapak Andre.
Pelaku terdiri dari 4 orang, 3 orang diantaranya telah ditangkap yaitu Akiat Setiawan als H. Sanusi, Didi Armanto dan Kasidi. Sementara pelaku yang yang bernama Joko sampai saat masih buron.
Akiat ditangkap di Alfamidi Parung Panjang pada saat menarik sebagian uang tebusan melalui Debit BCA. Sedangkan tersangka Didi dan Karsidi ditangkap saat mengawasi korban dan baby sitter di lokasi penyekapan di Hotel Pendopo kamar Semeru, Jampang Bogor.
Barang Bukti yang berhasil disita adalah sebilah pisau, Kartu ATM an. Lina dan 1 unit mobil Inova B 1991 NFE yang telah diganti B 278 JB.
Saat ini Polri masih mengejar tersangka Joko, sementara korban telah diserahkan kepada orang tuanya tadi malam.

29 Mei 2009

* Klinik Aborsi di Jagakarsa Digerebek Polisi

29-05-2009

PUSKOMINFO - Sebuah rumah di Jalan Kahfi RT 01 RW 02, Jagakarsa, Jakarta Selatan, digerebek polisi. Rumah tersebut disinyalir menjadi praktek aborsi yang berkedok klinik kebidanan. Petugas Polres Metro Jakarta Selatan tidak menahan pemilik klinik, dr Sukarman, karena sudah renta, sekitar 75 tahun.

Dalam penggrebekan itu, polisi berhasil menyita barang bukti seperangkat alat-alat aborsi.

Berdasarkan keterangan warga sekitar, isu aborsi di rumah mewah itu sudah santer terdengar sejak 5 tahun silam. Tarif yang dipasang untuk menggugurkan janin sebesar Rp 13 juta untuk sekali aborsi termasuk biaya penginapan.

Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Selatan, Kompol Subandi membenarkan ada penggerebakan praktik aborsi tersebut. "Penggerebekan kita lakukan atas laporan warga, selain dokter ada tersangka lain yang kita amankan," ujarnya kepada wartawan Jumat (29/05/2009).

* Bekas Galian Ambles, Jalan Cibubur – Munjul Macet Total

29-05-2009

PUSKOMINFO – Bekas galian ambles, akibatnya jalan di kawasan pertigaan Bulak Sereh Cibubur menuju Munjul , Jakarta Timur, macet total.

Informasi dari TMC Dit Lantas Polda Metro Jaya, saat ini hanya satu dari dua jalur yang bisa dilalui kendaraan, sehingga kemacetan parah terjadi. Setiap kendaraan harus berjalan pelan-pelan untuk menghindari jalan yang ambles bekas galian di sekitar jalan tersebut.

Jalanan yang ambles tersebut terletak di bekas lokasi penggalian saluran air yang baru saja diselesaikan pada Mei 2009. Saat ini, panjang retakan jalan terlihat sudah mencapai sekitar dua hingga tiga meter. Sebelumnya jalan tersebut hanya retak sekitar setengah meter saja dan arus lalu lintas dari arah Cibubur menuju Munjul pada siang hari relatif lancar.

Sementara, hingga kini, belum nampak usaha perbaikan jalan oleh pihak terkait.

KOMITMEN MORAL DALAM RANGKA REFORMASI BIROKRASI POLRI

KAMI ANGGOTA POLRI,DENGAN PENUH KESADARAN DAN KESUNGGUHAN,MENYATAKAN UNTUK SENANTIASA :
1. Melaksanakan tugas pokok dengan penuh dedikasi dan tanggung jawab yang tinggi kepada Tuhan Yang Maha Esa,masyarakat bangsa dan Negara.

2. Mewujudkan suasana kerja yang transparan,nyaman,efisien,efektif,adil,profesianal dan akuntabel.

3. Menjadi pimpinan yang selalu memegang teguh dan mengaktualisasikan etika kepemimpinan dengan menampilkan diri sebagai sosok pelayan yang jujur,berani adil,bijaksana,transparan,terbuka,tauladan,kreatif,inovatif,kooferatif,dan mengutamakan kepentingan anggota beserta siliditas institusi.

4. Menjadi staf/pelaksana yang memegang teguh etika staf dengan menampilkan diri sebagai insan Bhayangkara yang santun,ramah,empati,berkemanusiaan,adil, terbuka,ikhlas,jujur,loyal,setia,komunikatif,tanggung jawab dan mengutamakan kepentingan masyarakat.

5. Menampilkan perilaku yang tegas, humanis, menghormati dan menjunjung tinggi harkat dan martabat manusia dengan menghindarkan diri dari perbuatan yang merugikan, membebani, meminta imbalan dalam bentuk apapun kepada masyarakat.

6. Menjaga kehormatan dan harga diri dengan tidak melakukan kolusi korupsi nepotisme serta berbagai bentuk penyalahguna wewenang lainnya.

7. Melayani masyarakat dengan penampilan fisik yang pantas disesuaikan dengan panggilan tugas.

8. Menjunjung tinggi hukum dan hak asasi manusia serta norma-norma yang berlaku di masyarakat,menerapkan diskresi dengan penuh rasa tanggung jawab dan dilandasi hati yang bersih serta jiwa yang tulus.

9. Merespon kesulitan dan membantu memecahkan masalah sosial masyarakat dengan cepat merupakan perbuatan yang mulia dan luhur.

* 5 Kios Terbakar di Pasar Lembang Cileduk

29-05-2009

PUSKOMINFO - Sebanyak Lima kios di Pasar Lembang Cileduk , terbakar Jum’at (29-05-2009). Kebakaran itu membuat panik warga sekitar lokasi karena diatara kios tersebut ada agen Gas Elpiji sekitar 250 Tabung Gas berada di dalamnya.

Kejadiannya sekitar pukul 02.00 WIB dini hari diduga akibat arus pendek listrik.

Kejadian tersebut membuat warga sekitar panik karena diantara kios tersebut ada agen Gas Elpiji milik Suratno warga Jl.Lembang Baru V Cileduk . Kepanikan baru reda setelah 5 unit mobil Pemadam Kebakaran datang ke lokasi memadamkan si jago merah. Kios gas LPG selamat dari kobaran api.

Kebakaran itu membuat arus lalu lintas dari Pondok Kacang menuju Cileduk maupun sebaliknya tertutup sekitar 3 jam.

Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut, Petugas dari Polsek Metro Cileduk mengamankan TKP guna penyidikan lebih lanjut.

* Kebakaran di Bekasi Timur, Tiga Tewas

29-05-2009

PUSKOMINFO – Tiga orang tewas dalam peristiwa kebakaran di sebuah rumah petak di Jalan KH. Mas Mansur Rt. 09/03 Bekasi jaya Bekasi Timur Jum’at (29/05) dini hari. Tiga orang terdiri dari Suami, Isteri dan anaknya yang berusia 8 tahun tewas perpanggang api.

Peristiwa kebakaran tersebut terjadi sekitar pukul 04.30 WIB. Api diduga dari lilin yang dipasang di kamar tidur. Sebab pada malam kejadian lampu PLN mati. Korban menyalakan lilin selanjutnya korban beserta isteri dan anaknya tidur di lantai dua rumah petak. Diduga lilin tersebut membakar lantai kamar yang terbuat dari kayu hingga menghanguskan seluruh bangunan yang berukuran 3 x 15 meter tersebut.

Korban Riduan (30 th), Dewi (30 th) dan anaknya Novi (8 th) ditemukan tewas terpanggang di kamarnya.

Api baru dapat dipadamkan pada pukul 05.00 WIB dengan menggunakan 3 unit mobil Pemadam Kebakaran dengan dibantu warga sekitar.

Kini, ketiga mayat korban dibawa ke RSU Bekasi untuk dilakukan visum. Sedangkan peristiwa tersebut dalam proses penyelidikan Polsek Metro Bekasi Timur.

* Polisi Tangkap Dua Pemakai Heroin

29-05-2009

PUSKOMINFO – Polres Metro Jakarta Timur menangkap dua pemakai Heroin, Kamis (28/05) kemarin, di dua tempat berbeda.

Penangkapan pertama terhadap TH di jalan Matraman Raya Gang Lele, Jatinegara Jakarta Timur. TH kedapatan membawa dua paket heroin yang disimpan di kantong celana sebelah kanan, ketika petugas menggeledahnya.

Sedangkan penangkapan kedua di Jalan Raya Bogor, tepatnya di Gang H. Marzuki Ciracas Jakarta Timur. Petugas menangkap IN yang kedapatan memiliki Heroin sebanyak satu paket yang disimpan di saku celananya.

Kedua pengguna narkotika tersebut selanjutnya dibawa ke Polres Metro Jakarta Timur untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.

* Manfaat Air Rebusan Taoge

Taoge termasuk salah satu bahan pangan yang bisa dimanfaatkan menjadi berbagai bentuk olahan pangan, seperti bakwan, urap, taoge goreng, laksa, dan lain-lain.

Selain rasanya lezat, Juga memiliki kandungan vitamin E sangat tinggi sehingga bermanfaat untuk menjaga kehalusan kulit dan kesuburan. Ada satu manfaat yang belum diketahui banyak orang. Air rebusan taoge bisa untuk menurunkan tekanan darah.

Caranya, ambil segenggam taoge, cuci bersih, beri tiga gelas air, rebus hingga mendidih , biarkan dingin, minum segelas pagi dan sore hari. Lakukan terus menerus selama satu minggu, tekanan darah akan normal.

* Dicurigai Pengganda VCD Bajakan, Lima orang ditangkap

29-05-2009

PUSKOMINFO – Lima pengganda VCD Bajakan ditangkap Petugas Direktorat Reserse Kriminal Umum (Dit Reskrimum) Polda Metro Jaya, Kamis (28/05). Petugas menyita barang bukti ratusan keping VCD Bajakan dan mesin duplikator.

Bud, Am, Rah, Nur dan Sup ditangkap di Desa Pasir Gunung Selatan Rt. 02/12 Cimanggis Depok, pada Kamis 28 Mei 2009 sekira pukul 15.00 WIB karena dicurigai sebagai pengganda VCD Bajakan.

Kelimanya ditangkap ketika sedang menurunkan barang-barang dalam kemasan kardus dari sebuah mobil Daihatsu Expass Nopol B-2358-WB. Petugas curiga, dan melakukan penggeledahan. Setelah diperiksa kardus-kardus tersebut berisi kepingan CD-R lagu-lagu, mesin duplikator dan barang-barang lainnya yang akan digunakan untuk menggandakan VCD.

Selanjutnya kelima tersangka berikut barang bukti dibawa ke Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya untuk pemeriksaan lebih lanjut. Jika terbukti, kelimanya akan dijerat dengan pelanggaran UU Hak Cipta.

* Police Solidarity (Solidaritas Polisi)

Konsep sosiologi solidaritas mengacu pada makna unik dari identitas, kepemilikan, dan kohesi yang dikembangkan orang sebagai bagian dari grup rekan sejawat yang bersama-sama merasakan peran sosial, kepentingan, masalah, perhatian, dan bahkan gaya hidup yang sama. Karena solidaritas mengacu pada loyalitas seseorang terhadap rekan sejawatnya, alih-alih terhadap organisasi, masyarakat, atau sekumpulan prinsip, solidaritas melibatkan pertalian emosional dan komitmen lebih daripada hubungan yang formal atau kontraktual. Rasa solidaritas atau kesatuan, sebagaiman hal ini disebut secara alternatif, merupakan ciri yang sangat penting yang menyerap subkultur kepolisian dan menyokong integritasnya. Solidaritas diturunkan dari pengalaman umum yang dihadapi petugas kepolisian dalam lingkungan kerja mereka dan sosialisasi atau proses pembelajaran sosial yang inheren dengan subkultur polisi, yang melibatkan perubahan norma, nilai, dan keyakinan sosial. Solidaritas merupakan konsekuensi dari ciri dasar lain dari subkultur kepolisian, seperti rasa isolasi sosial, dan penyebab dari ciri dasar lain, seperti kerahasiaan.

Solidarity as Loyalty to Colleagues Rather than Loyalty to the Police Organization (Solidaritas sebagai Loyalitas pada Teman alih-alih Loyalitas pada Organisasi Kepolisian)

Bila petugas berpindah pada pangkat yang lebih tinggi, solidaritas cenderung turun. Sebaliknya, anggota administrasi kepolisian sering dilihat petugas biasa dengan cara yang sama bila mereka memandang anggota masyarakat dan orang di luar kepolisian—mengancam subkultur kepolisian. Michael Brown (1981:82) dan Peter Manning (1978:85"86) berkata tentang bagaimana loyalitas polisi dan ikatan sosial memberikan keamanan bagi polisi dari otoritas yang sewenang-wenang dan kekuasaan administrator dan supervisor yang agresif.

Fakta bahwa para petugas merasa dilepaskan dari administrator dan supervisor mereka, dan konsekuensinya mereka mengembangkan ikatan dalam-kelompok sebagai tanggapan protektif kolektif, mungkin menunjukkan bahwa solidaritas polisi dihubungkan secara terbalik dengan loyalitas organisasional dan respek terhadap otoritas administratif. Dalam studinya tentang penggunaan warga sipil dalam divisi komunikasi departemen kepolisian, Shernock (1988b) menemukan bahwa interpretasi keanggotaan dalam departemen kepolisian dibedakan antara personel komunikasi disumpah dan sipil. Personel yang disumpah cenderung untuk menginterpretasikan keanggotaan mereka dari segi identifikasi kelompok dengan rekan petugas yang lain, sementara personel sipil cenderung menginterpretasikan keanggotaan mereka dari segi identifikasi mereka dengan organisasi itu sendiri.

Dalam studinya tentang polisi di daerah New York City, Elizabeth Reuss-Ianni (1983) menyimpulkan bahwa ada dua kultur yang berbeda dalam kepolisian: kultur polisi jalanan dan kultur polisi manajemen, yang perspektifnya saling bertentangan dalam kebijakan, prosedur, dan praktik kepolisian. Nilai khusus dari kultur polisi jalanan—pandangan dunia “kami-mereka”, kerahasiaan, dan solidaritas—disandingkan dengan nilai birokrasi baru dari reformasi kepolisian yang telah diadopsi oleh kultur polisi manajemen, di mana buku peraturan agaknya didahulukan. Berbeda dari polisi jalanan, polisi manajemen menangani hubungan masyarakat, opini publik, dan politik secara serius dan sangat memperhatikan akuntabilitas publik, produktivitas, dan efektivitas biaya. Konsekuensinya mereka dilihat oleh polisi jalanan sebagai tidak mempunyai loyalitas terhadap orang, tetapi sebagai gantinya terhadap jaringan sosial dan politik.

Shearing (1981) dan Ericson (1981) di sisi lain berpendapat bahwa apa yang pertama muncul menjadi konflik antara norma subkultur dan informal organisasi dapat secara aktual mencakup saling mengimbangi di antara norma-norma yang seolah-olah berbeda ini. Penulis menginterpretasikan norma subkultur sebagai menyediakan arah dan petunjuk bagi kerja nyata kepolisan, sementara aturan departemen yang formal memberikan kerangka kerja yang digunakan untuk melegitimasi pekerjaan ini. Pada gilirannya, dukungan administrator puncak dan hadiah bagi yang sukses dalam menangani kerja “belakang-panggung” yang dilakukan sesuai norma subkultur maupun penampilan “depan-panggung” yang kekal oleh aturan departemen. Leonard (1980:67) menambahkan bahwa walaupun petugas kepolisian sering mengeluhkan lembaganya pada rekan sejawatnya, keluhan eksternal terhadap atau publisitas yang merugikan mengenai departemen mereka sering menghasilkan peningkatan rasa solidaritas di antara semua anggota departemen.

Dalam studi empirisnya tentang solidaritas polisi, Shernock (1988a) menemukan loyalitas organisasional pada respondennya tidak berhubungan dengan solidaritas yang diukur oleh sebuah indeks “toleransi terhadap pelanggaran dan kepercayaan yang tidak ragu-ragu terhadap rekan petugas” atau dengan nilai komparatif dari loyalitas terhadap rekan petugas. Di sisi lain, dia menemukan dua ukuran yang terpisah dari subordinasi pada otoritas yang dihubungkan secara terbalik dengan solidaritas. Kepatuhan pada atasan berkorelasi negatif dengan kedua ukuran solidaritas, dan oposisi pengawasan yang lebih besar berkorelasi positif dengan kedua ukuran solidaritas.

Walaupun ada beberapa ketidaksepakatan tentang solidaritas antara petugas biasa dan administrator polisi, sebenarnya tidak ada ketidaksepakatan seperti itu dalam hal solidaritas antara petugas yang bersumpah dan petugas sipil dalam departemen kepolisian. Dalam studi tentang penduduk sipil, Shernock (1988b) menyimpulkan bahwa petugas patroli tidak jujur ketika mereka menyatakan bahwa “petugas sipil tidak dapat dipercaya sampai tingkat yang sama dengan petugas yang disumpah karena mereka tidak memiliki latar belakang jalanan dan kepolisian.”

Masalah mendasar dari kepercayaan tidak tampak mencerminkan tanggapan petugas sipil terhadap tekanan dari pekerjaan mereka, memberikan tingkat yang jauh lebih rendah dari tekanan yang dilapokan dalam pekerjaan mereka dibandingkan dengan personel komunikasi yang disumpah. Masalah kepercayaan juga kelihatan didasarkan hanya pada perspektif sipil yang hanya minimal terhadap nilai kerja dan fungsi kepolisian, tidak sebanyak petugas yang disumpah melaksanakan pekerjaan yang sama, karena petugas sipil ini tidak berbeda secara signifikan dari mereka dalam nilai dan fungsi ini. Alih-alih memberikan perbedaan signifikan dalam ekspresi solidaritas dan loyalitas antara petugas sipil dan petugas yang disumpah dalam kedua posisi yang sama dan saling melengkapi pada penduduk sipil ini, masalah yang mendasar tentang kepercayaan muncul sebagai ancaman petugas sipil pada “ikatan yang tidak dapat digambarkan antara petugas kepolisian.”

Solidarity as Loyalty to Colleagues Rather than Loyality to Community (Solidaritas sebagai Loyalitas pada Teman daripada Loyalitas pada Masyarakat)
Solidaritas polisi secara umum kebanyakan dilihat sebagai konsekuensi dari kebutuhan untuk isolasi dari bahaya yang dirasakan dan penolakan dari masyarakat. Walaupun kekerasan yang terjadi mungkin kurang dari 2%•3% dari pertemuan polisi-warga sipil, keadaan tak terduga tetapi berpotensi berbahaya selalu menjadi bagian dari patroli polisi. Untuk menghadapi ancaman yang konstan ini, berada dalam situasi yang berpotensi berbahaya melibatkan orang yang tidak dapat diidentifikasi sebelumnya, petugas patroli memandang semua orang dengan kecurigaan.

Kecurigaan yang hadir di mana-mana ini, pada gilirannya, mengisolasi polisi dari masyarakat luas. Perasaan isolasi ini dikuatkan oleh kegagalan warga membantu polisi dalam pertarungan. Petugas polisi kurang percaya untuk menerima bantuan publik dalam situasi berbahaya, yang membuat petugas percaya bahwa satu-satunya dapat diandalkan dalam situasi yang keras dan problematik adalah petugas polisi lain, dan untuk menyamakan intisari kelangsungan hidup dengan keberadaan dukungan yang tidak dipertanyakan dan loyalitas sesama rekan petugas. Karena keberhasilan petugas membutuhkan dukungan penuh dari rekan mereka agar dapat bertindak dalam situasi yang berbahaya, maka melanggar kesucian solidaritas dengan melaporkan rekan petugas dipandang sebagai petugas yang membahayakan.

Mungkin faktor dalam lingkungan kerja eksternal sering dinyatakan sebagai kontribusi terhadap solidaritas kepolisian dan orientasi masyarakat yang negatif merupakan persepsi polisi mengenai permusuhan publik terhadap penegak hukum dan petugas kepolisian. Selama tahun 1960-an Skolnick (1966:225) melaporkan bahwa polisi Westville yang dipelajarinya merasakan masalah yang paling serius yang mereka hadapi bukannya relasi rasial melainkan beberapa bentuk relasi publik, kurangnya respek terhadap polisi, kurangnya kerja sama dalam menegakkan hukum, dan kurangnya pemahaman terhadap persyaratan kerja polisi. Dalam wawancaranya dengan petugas kepolisian, Westley (1970:107) menemukan bahwa 73% petugas yang diwawancarai yakin bahwa publik menyukai dan mendukung polisi. Demikian pula, Skolnik menemukan bahwa 70% dari 282 petugas di kepolisian Westville percaya bahwa publik menilai prestasi kerja polisi kurang atau hanya cukup, sementara hanya 2% polisi merasa bahwa publik menilainya baik sekali.

Bila persepsi tentang permusuhan publik terhadap polisi realistis, permusuhan publik menjadi sebuah prekondisi lingkungan bagi isolasi dan solidaritas kepolisian. Di sisi lain, jika persepsi itu salah, ini mungkin menunjukkan bahwa karakteristik dinamis dari subkultur pekerjaan itu sendiri, yang meliputi perasaan status dan solidaritas dari kelompok minoritas, memicu proyeksi permusuhan dan, pada gilirannya, menyumbang orientasi masyarakat yang negatif.

Van Maanen (1978:119) menyatakan, “secara umum hanya sedikit yang dapat menghubungkan petugas patroli dengan warga berkenaan dengan pembangunan hubungan yang secara sosial memuaskan” dan “petugas patroli mengetahui dengan akurat bahwa hanya sedikit penduduk sipil yang cenderung membalas budi.” Jam kerja yang panjang dan sering tidak menentu, terutama karena hasil dari penjadwalan giliran tugas, tidak memungkinkan polisi mengembangkan persahabatan dengan warga bukan polisi, dengan demikian berkontribusi pada isolasi polisi. Ferdinand (1980) menemukan bahwa sampai usia 40 tahun kebanyakan dari kehidupan sosial petugas polisi dilewatkan dalam batas subkultur kepolisian. Kecurigaan polisi sendiri diperkuat oleh pengalaman kerja petugas polisi di mana mereka begitu sering berada dalam hubungan bermusuhan dengan publik dan di mana setiap hari mereka berhadapan dengan orang yang lemah atau korup, yang juga berbahaya. Lundman (1980:85) mencatat lebih jauh bagaimana publik menstereotipekan dan tidak memanusiakan polisi, yang memberi mereka status kepala yang membuat mereka merasa kehilangan identitas dan merasa ditelanjangi individualitasnya.

Sebaliknya, Walker (1992:226"27) menyatakan bahwa petugas polisi tidak memiliki persepsi yang akurat tentang sikap warga dan data survei mengindikasikan bahwa warga mendukung polisi. Dia mengutip National Crime Survey tahun 1975 yang menemukan bahwa 84% kulit putih dan 74% kulit hitam menilai polisi bagus atau rata-rata. Walaupun Lundman (1980:83"84) mengenali beberapa dasar faktual dari persepsi polisi terhadap permusuhan publik, dia juga menemukan bahwa akademi kepolisian dan pengalaman pelatihan lapangan menyampaikan tema pertahanan pada taruna polisi, dan menekankan ketidakpercayaan orang dan organisasi di luar departemen kepolisian. Tema defensif disampaikan oleh petugas musiman dalam cerita perang mereka dan interpretasi mereka tentang unit hubungan masyarakat sebagai hanya berfungsi membelokkan kritik publik dan regu inspeksi internal hanya berfungsi melindungi departemen dari usaha untuk membuat papan tinjauan warga sipil. Jadi, taruna polisi agaknya diperingatkan bahwa “orang yang dapat dipercaya hanya petugas polisi lain.”

Sebagai kelompok luar, identitas pekerjaan dan subkultur petugas patroli mengkristal, di mana isolasi, kerahasiaan, kesetiaan dalam-kelompok yang kuat, simbol yang disakralkan, bahasa bersama, dan kerenggangan terhadap masyarakat yang lebih luas semakin intensif. Seperti minoritas lainnya, petugas polisi tidak hanya cenderung tidak percaya pada anggota di luar grupnya, tetapi lebih dari itu, cenderung untuk bergaul, baik di dalam maupun di luar pekerjaan, dengan anggota grup minoritas mereka sendiri untuk menghindari interaksi tidak menyenangkan dengan warga sipil yang memandang mereka hanya dari segi identitas kepolisian mereka. Jadi, karena diisolasi oleh permusuhan dan klise yang mereka rasakan, polisi menggantinya dengan mengembangkan solidaritas yang kuat untuk perlindungan diri dan dukungan moral (Westley, 1970:111). Penyatuan itu memungkinkan mereka untuk menerima isolasi, permusuhan, dan celaan warga. Loyalitas polisi selanjutnya dapat dilihat sebagai meredakan kesalahan yang nyata dan khayali yang ditimbulkan oleh publik yang memusuhi. Karena ikatan polisi dengan publik menjadi lemah dan aktivitas dan kepaduan dalam-kelompok mereka menjadi semakin besar, polisi menjadi lebih curiga dan lebih bertentangan dengan publik, di mana hubungan polisi-publik sering berubah dari mendukung menjadi merugikan.

Dalam studinya tentang hubungan antara solidaritas polisi dan orientasi masyarakat, Shernock (1988a) menemukan bahwa solidaritas diukur dengan indeks dari “toleransi terhadap pelanggaran dan kepercayaan yang tidak ragu-ragu terhadap rekan petugas” dengan lemah dihubungkan pada dukungan yang kurang untuk fungsi pelayanan dan untuk penempatan nilai komparatif pada respek bagi warga, tetapi tidak dihubungkan dengan kepentingan komparatif dari fungsi hubungan masyarakat. Di sisi lain, ketika solidaritas diukur sebagai ranking perbandingan dari nilai “loyalitas pada anggota polisi lain,” solidaritas dihubungkan dengan sangat kuat pada nilai komparatif yang lebih rendah yang ditempatkan untuk menghormati warga dan secara moderat berhubungan dengan fungsi hubungan masyarakat yang kurang penting, tetapi tidak dihubungkan dengan kurangnya dukungan bagi usia dan pengalaman polisi dan tidak dihubungkan dengan pertahanan terhadap media. Shernock juga menemukan bahwa antagonisme terhadap kontrol yang dipaksakan dari luar atas diskresi polisi berkorelasi tinggi dengan ukuran solidaritas yang pertama dan berkorelasi lemah hingga moderat dengan ukuran solidaritas kedua. Hal itu tampak menjadi tendensi yang pasti bagi solidaritas antarpolisi untuk meningkatkan level antagonismenya menuju kontrol yang dipaksakan dari luar atas peningkatan diskresi polisi.

Solidarity as Loyalty to Colleagues Rather than Loyality to Ethical Principles (Solidaritas sebagai Loyalitas terhadap Teman daripada Loyalitas terhadap Prinsip Etika)
Sebagai tameng dalam menghadapi serangan dunia luar dan melawan kritikan publik, polisi menempatkan nilai yang begitu tinggi pada kerahasiaan dalam subkulturnya. Kode kerahasiaan di antara petugas polisi ini, yang tidak terbatas hanya pada kepolisian Amerika, muncul menjadi kode yang paling kuat yang melekat di antara lembaga kepolisian dan, menurut Goldstein (1977:165), lebih kuat daripada norma yang sama-sama tak tertulis dalam profesi yang dianggap begitu tinggi dari media dan hukum. Perasaan bermusuhan terhadap polisi membantu perkembangan sikap “kami melawan mereka” dan perasaan bahwa para petugas harus bersatu walau harus berbohong tentang pelanggaran petugas yang lainnya. Kerahasiaan yang kemudian dilihat oleh Westley (1970:111) sebagai solidaritas, sejauh ini, karena mewakili perlawanan bersama terhadap dunia luar. Blumberg (1976:15) setuju dan menyatakan bahwa “kerahasiaan memberikan perekat yang menyatukan solidaritas polisi.” Ini mempertahankan identitas grup dan mendukung solidaritas karena memberikan kebersamaan pada mereka yang masuk dalam subkultur polisi dan membedakan mereka yang tidak. Rasa persatuan dan loyalitas, yang dihasilkan oleh permintaan terhadap kecocokan nilai subkultur polisi, suatu hari dapat diminta oleh petugas mana pun untuk menutupi kesalahan yang serius atau untuk membantu mereka keluar dari masalah yang serius.

Namun, sebagaimana penelitian Westley (1970:112) yang signifikan, kerahasiaan tidak diterapkan pada pencapaian, tetapi pada kesalahan, pada rencana, pada aksi ilegal, pada fitnah karakter. Karena subkultur polisi mensyaratkan anggotanya loyal dan dapat dipecaya, petugas merasa wajib untuk menutupi aksi brutal, pencurian kecil-kecilan, kebiasaan memeras, penyalahgunaan kekuatan polisi, dan tindakan ilegal lain dari rekan sejawatnya. “Meniup peluit,” dan “menjerit” adalah pelanggaran terhadap kode diam dan kerahasiaan yang mewakili pelanggaran yang paling keji dalam dunia polisi. Ada hukum tidak tertulis dalam departemen kepolisian bahwa petugas polisi tidak memberikan kesaksian yang melawan rekan petugas mereka. Setiap petugas diam-diam membenarkan kode kerahasiaan untuk mengklaim hak solidaritas pada unit atau lembaga di mana ia berada.

Akan tetapi ini masih ada ketidakpastian, apakah mereka yang memenuhi “kode diam” tidak setuju terhadap pelanggaran rekan petugas, dan apakah toleransi terhadap pelanggaran menunjukkan bagaimana petugas individual itu sendiri bertindak. Jawaban dari sejumlah murid kepolisian mengenai perilaku pelanggaran adalah bahwa ada hubungan antara nilai dan perilaku petugas itu sendiri dan toleransi mereka terhadap pelanggaran rekan petugas mereka. Memperhatikan akibat harapan subkultur polisi terhadap taruna polisi, Savitz (1970) dalam studi longitudinal di tiga periode waktu yang berbeda menemukan bahwa taruna polisi tidak hanya menjadi lebih permisif terhadap perlilaku polisi yang korup tetapi mengira-ira nilai dari peng- alaman petugas sepanjang waktu. Lebih spesifik lagi, Barker (1978) telah mengamati bahwa petugas polisi yang percaya bahwa bentuk tertentu pelanggaran tidak akan dilaporkan kemungkinan cenderung melakukan pelanggaran semacam itu. Lebih jauh lagi Stoddard (1968) mencatat bahwa “kemungkinan seorang petugas melaporkan rekan petugasnya secara langsung berkaitan dengan tingkat keterlibatan ilegalnya sebelum situasi yang melibatkan tindakan melanggar hukum.” Sepertinya Muir (1997:67, 72) percaya bahwa sekali petugas kepolisian melanggar standar atau peraturan, ia membatasi diri untuk diam terhadap pelanggaran yang lainnya, meskipun lebih serius. Kemudian akan muncul, menurut kritik ini, toleransi terhadap pelanggaran oleh petugas lain cenderung didasarkan pada sosialisasi yang lebih lengkap pada sistem nilai subkultur atau pada keterlibatan yang berkembang sebagai hasil pelanggaran mereka sendiri daripada semata-mata kecocokan pada “kode diam.”

Conclusion (Kesimpulan)
Beberapa tingkat solidaritas kemungkinan sangat positif. Loyalitas pada rekan petugas mungkin mendukung penghargaan dan kepercayaan diri petugas dan dapat memancing reaksi yang berani untuk mengancam kepentingan anggota kelompok di mana mereka berada. Akan tetapi, perhatian difokuskan pada atribut subkultur polisi dari solidaritas karena dirasa memiliki konsekuensi negatif bagi kontrol dan perubahan organisasi, akuntabilitas publik, dan perilaku etis. Nilai yang utama dalam loyalitas kepada teman sering menjadi bertikai dengan nilai birokratis dari reformasi kepolisian, dan solidaritas polisi sering merusak kontrol pengawasan oleh para administrator kepolisian. Isolasi yang dikaitkan dengan solidaritas polisi mungkin merusak loyalitas pada masyarakat luas karena mempengaruhi petugas untuk mengembangkan perilaku yang sangat berbeda dalam masyarakat yang lebih luas di mana polisi berfungsi dan ditugaskan untuk melindungi, dapat menciptakan dan menyokong persepsi negatif terhadap anggota publik dan pertemuan yang bermusuhan. Loyalitas yang berlebihan pada teman juga dilihat tidak konsisten dengan loyalitas pada ideal yang tinggi dari norma etika, dan konsekuensinya, karena melawan kewajiban yang didorong oleh kode etik pengaturan untuk mengidentifikasi dan memberikan sanksi profesional rekan praktisi yang telah gagal melaksanakan tugas mereka dengan layak.

Sementara mungkin petugas polisi terus mengekspresikan solidaritas terhadap rekan petugasnya dengan mempertahankan “kode diam”, ada beberapa indikasi bahwa ada perubahan dalam pola pergaulan di antara polisi yang telah mendukung solidaritas di waktu lampau. Blumberg menyatakan bahwa terlepas dari berapa banyak yang diperlihatkan oleh penelitian, pengalamannya melakukan kontak dengan berbagai departemen kepolisian membuatnya percaya bahwa generasi taruna polisi baru telah mengembangkan jaringan persahabatan yang luas daripada pendahulunya dan bahwa isolasi sosial polisi agak sedikit dilebih-lebihkan. Juga ada beberapa indikasi, di samping kebutuhan akan penelitian yang lebih banyak, bahwa perekrutan wanita dan Afrika-Amerika telah memodifikasi solidaritas polisi. Martin menemukan bahwa masuknya wanita dalam kepolisian telah mengurangi solidaritas tradisional kelompok karena ekspresi persahabatan yang diterima di antara dua laki-laki menjadi problematik bagi petugas dari jenis kelamin berbeda, dan juga karena petugas wanita tidak memiliki kepentingan di luar tugas yang sama dengan petugas pria. Sementara ini mungkin diasumsikan bahwa meningkatnya syarat pendidikan dan profesionalisasi dari polisi mungkin memicu konflik antara petugas biasa yang senior, dan setidaknya untuk sementara waktu memperlemah solidaritas di antara petugas polisi. Akibat perubahan ini, sebagaimana yang lainnya, harus ditentukan oleh studi penelitian empiris di masa datang.
Stan Shernock

Daftar Pustaka
Alpert, Geoffrey dan Roger Dunham. Policing Urban America. Edisi ke-2. Prospect Height, IL, 1992.
Barker, Thomas. “Peer Group Support for Police Occupational Deviance.” Criminology 15 (1977).
______. “An Empirical Study on Police Deviance Other Than Corruption.” Journal of Police Science and Administration 6 (1978):264–72.
Bedrosian, Albert. “An Occupational Hazard The Subculture of Police.” Journal of California Law Enforcement 15 (1981):95–101.
Bulmberg, Abraham. “The Police and the Social System: Reflections and Prospects.” The Ambivalent Force: Perpectives on the Police. Abraham Blumberg dan Arthur Niederhoffer (ed.). New York: Dryden Press, 1976.
Brown, Michael. Working the Street: Police Discretion and the Dilemmas of Reform. New York: Russell Sage, 1981.
Conser, James A. “A Literary Review of the Police Subculture: Its Characteristics, Impact, and Policy Implications. Police Studies 2 (1978):46–54.
Ericson, Richard. “Rules for Police Deviance.” Organizational Police Deviance: Its Structure and Control. Clifford Shearing. Toronto: Butetrworth, 1981.
Ferdinand, T.H. “Police Attitudes and Police Organizaion: Some Interdepartemental and Cross-Cultural Comparison.” Police Studies 3 (1980):46–60.
Gaines, Larry K., Victor E. Kappeler dan Joseph B. Vaughn. Policing in America. Cincinnatti: Anderson, 1994.
Goldstein, herman. Policing in Free Society. Cambridge, MA: Ballinger, 1977.
Leonard, V.A. Fundamentals of Law Enforcement: Problems and Issues. St. Paul, MN: West, 1980.
Lester, David dan William Tom Brink. “Police Solidarity and Tolerance for Police Misbehavior.” Psychological Reports 57 (1985):326.
Lundman, Richard. Police and Policing: An Introduction. New York: Holt, Rinehart and Einston, 1980.
Manning, Peter. “Rules, Colleagues, and Situationally Justified Actions.” Policing: A View From the Street. Peter Manning dan John Van Maanen (ed.). New York: Random House, 1978.
Martin, Susan. Breaking and Entering: Police Women on Patrol. Berkeley: University of California Press, 1980.
Muir, William. Police: Streetcorner Politicians. Chicago: University of Chicago Press, 1977.
Reuss-Ianni, Elizabeth. Two Cultures of Policing: Street Cops and Management Cops. New Brunswick, NJ: Transaction Books, 1983.
Savitz, Leonard. “The Dimensions of Police Loyalty.” American Behavioral Scientist (Mei-Juni, Juli-Agustus 1970):693–704.
Shearing, Clifford. “Deviance and Conformity in the Reproduction of Order.” Organizational Police Deviance: Its Structure and Control. Clifford Shearing (ed.). Toronto: Butetrworth, 1981.
Shernock, Stan.” An Empirical Examination of the Relationship between Police Solidarity and Community Orientation.” Journal of Police Science and Administration 16 (1988b):182–94.
______. “The Differential Significance of Sworn Status and Organizational Position in the Civilization of the Police Communication Division.” Journal of Police Science and Administration 16 (188b):288–302.
Skolnick, Jerome. Justice Without Trial. New York: John Wiley and Sons, 1966.
Stoddard, Ellwyn. “The Informal Code of Police Deviancy: A Group Approach to Blue Collar Crime.” Journal of Criminal Law, Criminology, and Police Science 59 (1968):201–13.
Van Maanen, John. “Kinsmen in Repose: Occupational Perspectives of Patrolmen.” Policing: A View From the Street. Peter Manning dan John Van Maanen (ed.). New York: Random House, 1978.
Walker, Samuel. The Police in America: An Introduction. Edisi ke-2. New York: McGraw-Hill, 1992.
Watkins, C. Ken Social Control. London: Longman, 1975.
Westley, William. “Secrecy and the Police.” Social Force 34 (1956):254–57.
______. Violence and the Police. Cambridge. MA: MIT Press, 1970.

* KEJADIAN 29 MEI 2009

1. PENCURIAN DENGAN KEKERASAN
Waktu kejadian : 27 Mei 2009 Pkl. 21.00 Wib
Tkp : Jl. Terowongan Dukuh Atas Karet Tengsin Tanah Abang.
Korban : Nurlaila, 22th, perempuan, Islam, Mahasiswa, Al. Komplek SMP 40 Rt. 20/04 Benhil Tanah Abang Jakpus.
Pelaku : Lidik.
Kronologis Kejadian : Pada saat korban dlam perjalanan pulang menuju ke Tanah Abang, Tiba-tiba korban dihadang pelaku di Terowongan Dukuh Atas. Kemudian pelaku menodongkan pisau kearah perut korban selanjutnya pelaku merampas KR R2 milik korban dan melarikan diri.
Kerugian : 1 unit KR R2 Yamaha Vegar No. Pol. B-6922-CLF.
Ditangani : Sektro Tanah Abang.

2. PERAMPASAN
Waktu kejadian : 27 Mei 2009 Pkl. 18.00 Wib
Tkp : Jl. Pertambangan I Rt. 01/05 Kelapa Dua Jakbar.
Korban : Albi, 16th, Pelajar, Al. Jl. Masjid Al. Ihtiad Rt. 05/06 Kelapa Dua Jakbar.
Pelaku : Dalam Lidik.
Kronologis Kejadian : Pada saat korban melintas di TKP, tiba-tiba datang 2 orang pelaku berpura-pura menanyakan alamat kepada korban, kemudian pelaku menodongkan pisau ke pinggang korban dan mengancam akan dibunuh, selanjutnya pelaku membawa kabur KR R2 milik korban.
Kerugian : 1 unit KR R2 Yamaha Mio No. Pol. B-6722-BVA.
Ditangani : Sektro Kebon Jeruk.

3. PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA
Waktu kejadian : 28 Mei 2009 Pkl. 12.30 Wib
Tkp : Jl. Matraman Raya Gg. Lele Jatinegara jaktim.
Pelaku : TH.
Saksi : Waskito, Anggt Sat Narkoba Jaktim.
Kronologis Kejadian : Pelaku kedapatan membawa, memilki, menyimpan, dan atau menggunakan narkotika jenis heroin sebanyak 2 paket yang disimpan didalan kantong celana depan sebelah kanan.
Barang bukti : 2 paket Heroin.
Ditangani : Restro Jaktim.

28 Mei 2009

* Pengganda VCD Porno Ditangkap

28-05-2009

PUSKOMINFO – Satuan I Industri dan Perdagangan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya menangkap seorang pengganda VCD Porno, Rabu (27/05).

Pelaku berinisial WK ditangkap di rumahnya di daerah Sumur Batu Kemayoran Jakarta Pusat karena kedapatan memperbanyak, menggandakan, mengumumkan dan menjual atau memperdagangkan kepingan VCD Porno.

Dari rumah tersangka, Polisi menyita barang bukti berupa 40 keping VCD Master hasil bajakan dengan berbagai judul, 3 unit mesin duplikator, 500 keping CD-R kosong, 5.010 keping VCD Porno berbagai judul dan 1 set cap stempel.

Pengungkapan kasus ini atas informasi dari masyarakat bahwa rumah tersangka sering dijadikan tempat untuk membuat VCD Porno. Informasi tersebut ditindaklanjuti dengan penyelidikan hingga akhirnya digerebek dan menangkap pelakunya.

Kini, WK ditahan di Rumah Tahanan Polda Metro Jaya. Tersangka dijerat Pasal 40 huruf c Jo Pasal 33 ayat (1) UU Nomor 8 Tahun 1992 tentang Perfilman dan Pasal 282 ayat (3) KUHP dengan ancaman hukuman 7 tahun penjara dalam perkara di bidang perfilman dan atau 5 tahun penjara dalam perkara di bidang kejahatan terhadap kesopanan.

* Mahasiswa UKI vs YAI Kembali Tawuran, 1 Mahasiswa Luka

28-05-2009

PUSKOMINFO - Aksi tawuran antara mahasiswa UKI dan UPI YAI kembali pecah di Jl. Diponegoro, Salemba Jakarta Pusat, Kamis (28/05).

Aksi lempar batu dan benda keras antar kedua mahasiswa tersebut terjadi sekitar pukul 15.20 Wib hingga mengakibatkan arus lalu lintas di Jalan Diponegoro sempat ditutup sementara. Arus lalu lintas di Jalan Diponegoro dari arah Menteng dialihkan ke Jalan Proklamasi dan ke Jalan Pegangsaan Barat .

Akibat tawuran tersebut, seorang mahasiswa UPI YAI yang belum diketahui identitasnya mengalami luka- luka dan saat ini mendapat perawatan di RS Cipto Mangunkusumo.

Aksi tawuran berhasil dikendalikan setelah anggota Sat Samapta Polres Metro Jakarta Pusat datang ke lokasi kejadian. Kini, Kedua belah pihak sudah berhasil dimasukan kembali ke kampusnya masing - masing dan Jl. Diponegoro sudah dibuka kembali.

* Jail Assault (Serangan dalam Rutan)

Kekerasan di dalam penjara telah diteliti secara luas, tetapi kekerasan di dalam rutan menjelang persidangan atau penahanan oleh polisi belum dilakukan. Kebanyakan penelitian tentang kekerasan penghuni penjara telah dilakukan terhadap tahanan pria. Tingkat kekerasan dapat menjadi perhatian penting di dalam proses pra-peradilan dan fasilitas jangka panjang, rutan kecil, dan penahanan polisi (cf. Sechrest, 1991). Karena penelitian terhadap kekerasan di dalam rutan dan di dalam penahanan polisi ini sangat terbatas, maka penelitian mengenai kekerasan di dalam penjara yang berhubungan dengan kepadatan dan tingkat populasi menjadi sering digunakan.
Population Density (Kepadatan Populasi)

Kekerasan institusional yang meningkat di dalam rutan atau penjara mungkin saja berhubungan dengan efek meningkatnya kepadatan sosial atau meningkatnya kepadatan ruang. Kepadatan sosial mengacu kepada bertambahnya jumlah tahanan dalam ruangan yang tersedia; kepadatan ruang mengacu kepada ruang yang berkurang untuk jumlah tahanan yang sama (cf. Nacci, Teitlebaum, dan Prather, 1977:26). Kepadatan yang meningkat di dalam penjara memiliki mata-rantai baik dengan peningkatan serangan (Gaes, 1985; Megargee, 1977; Nacci, Teitlebaum, dan Prather, 1977:29) maupun dengan berkurangnya serangan (Innes, 1986; Jan, 1980). Innes (1986:5–6) menjabarkan bahwa kepadatan di dalam penjara negara bagian untuk pria sebagai “persentase dari jumlah tahanan di dalam perumahan biasa dalam setiap penjara dalam ruang kurang dari 60 square per kaki selama lebih dari 10 jam tiap hari.” Dia membandingkan dengan tingkat pengamanan (minimum, medium, maksimum) untuk empat tingkat kepadatan yang terlihat bahwa tingkat tertinggi dari kekerasan antartahanan timbul di tingkat kepadatan terendah dalam semua tingkat pengamanan, dan bahwa tingkat kekerasan yang paling tinggi dengan pengamanan maksimum dari semua tingkat kepadatan (Innes, 1986:6).

Megargee (1977:294) mempelajari tingkat kejadian di dalam sebuah institusi pengamanan medium-minimum federal untuk pria berusia antara 18 sampai 25 tahun dan menemukan bahwa makin kecil ruang yang tersedia bagi tahanan, makin tinggi tingkat kejadiannya. Megargee (1977:293) menandakan bahwa hasil ini mungkin saja terbaurkan oleh kenyataan bahwa para tahanan lebih sering berada di luar selnya setiap sehari. Sechrest (1989) menemukan hubungan yang signifikan antara kepadatan rutan dengan tingkat kekerasan antartahanan pria ketimbang wanita; usia dan ras tidaklah berpengaruh signifikan terhadap kekerasan dalam rutan.

Gaes (1985:136) yang menemukan lebih sedikit efek kepadatan dalam penjara, menyatakan bahwa penelitian terhadap kepadatan penjara tidak dapat memperlihatkan secara meyakinkan efek terbalik dari kepadatan, walaupun dia setuju bahwa barak menyebabkan makin seringnya kunjungan ke klinik, tekanan darah tinggi, dan tingkat kekerasan yang sedikit lebih tinggi (Gaes, 1985:136; cf. Paulus, Cox, dan McCain, 1977, 1984). Gaes (1985:95) menyimpulkan bahwa penjara yang secara signifikan menampung lebih banyak tahanan daripada kapasitas rancangan yang berdasarkan pada 60 square per kaki per kepala, lebih tinggi menimbulkan tingkat kekerasan; sebuah penemuan yang langsung bertolak-belakang dengan Innes (1986). Gaes (1985:134) menyimpulkan bahwa kepadatan, bukan usia maupun keadaan terpenjaranya, adalah pemicu timbulnya kekerasan.

Location (Lokasi)
Kratcosky (1988) menemukan bahwa 71% dari semua kekerasan terjadi pada sedikit lokasi dalam fasilitas penjara federal dan 68% di antaranya terjadi dalam area sel fasilitas penjara negara bagian (Kratcosky, 1988: 29-30). Sebagian besar kekerasan timbul pada saat pergantian penjaga, tingkat kekerasan lebih tinggi dipicu oleh petugas magang dan petugas pria, dan usia petugas bukan merupakan sebuah faktor (Kratcoski, 1988:29–30). Bagaimanapun juga, menurut usia para penyerang, 75% dari mereka yang berada di dalam penjara federal dan 56% di penjara negara bagian berusia 25 tahun, atau bahkan lebih muda dari usia tersebut. Jadi, penyerangan terhadap petugas terkonsentrasi antartahanan dari kategori usia tersebut.

Sechrest (1991) menemukan bahwa tingkat kekerasan tahanan dalam sebuah fasilitas pra-peradilan dapat lebih dijelaskan dari segi lokasi mereka di dalamnya, seperti yang disarankan bagi tahanan dengan tipe tertentu yang sering terlibat tindak kekerasan Para tahanan dikelompokkan berdasarkan karakteristik tingkah lakunya Untuk itu, kekerasan terhadap tahanan lain cenderung terjadi di lantai rutan di mana tahanan bermasalah ditahan—tidak penting apakah mereka tahanan termuda atau dari ras apa—atau di dalam area terpadat.

Sechrest (1991) menemukan bahwa tingkat serangan petugas tertinggi ada di tempat tahanan pelaku pelanggaran ringan. Ini adalah tempat ditahannya masyarakat dengan pelanggaran seperti berkendara dalam keadaan mabuk, kekerasan terhadap suami/istri dan anak-anak, sebagaimana penderita gangguan jiwa dan pemabuk. Mereka lebih banyak menimbulkan masalah bagi para petugas. Sementara itu, hanya 5.5% dari seluruh serangan di dalam fasilitas ini timbul di dalam area tersebut, hampir separuhnya terjadi terhadap para petugas (47,4%, dengan tujuh di antaranya memerlukan bantuan medis). Bagaimanapun juga, proses penahanan di area ini memiliki tingkat serangan terendah terhadap tahanan dan petugas, mungkin disebabkan oleh banyaknya petugas jaga, keberadaan petugas kepolisian, tingkat pengawasan yang lebih tinggi selama proses penahanan, dan keadaan yang singkat dalam penahanan.
Age (Usia)

Nacci, Teitelbaum, dan Prather (1977:29–30) tidak menemukan hubungan langsung antara usia dan kekerasan, kendati mereka melaporkan bahwa “ada hubungan yang sangat kuat antara kepadatan dengan kelakuan tidak baik di dalam institusi yang berisi tahanan usia muda.” Eckland-Olson, Barrick, dan Cohen (1983) menemukan bahwa usia menjadikan keadaan lebih kritis daripada kepadatan yang menyebabkan kekerasan dalam penjara dan tindakan disipliner, dengan hubungan antara kepadatan dan kelakuan tidak baik paling tinggi di dalam penjara dengan tahanan usia muda.

Kratcosky (1988) menyimpulkan pertanyaan yang berkaitan dengan kekerasan terhadap petugas dengan menggunakan data laporan kejadian dari penjara negara bagian dan federal. Yang menjadi pusat perhatian adalah lokasi serangan dan usia tahanan yang melakukan kekerasan ketimbang hal lainnya. Dia menemukan bahwa tahanan berusia 25 tahun ke bawah lebih banyak berurusan dengan kekerasan terhadap petugas, dengan kekerasan yang lebih ringan jika petugas tersebut seorang diri, tetapi kekerasan berat jika petugas lain muncul. Gaes (1985:103) menemukan hanya ada dukungan terbatas atas interaksi usia kerumunan tahanan pada tingkat kekerasan.
Race/Ethnicity (Ras/Etnis)

Ras mungkin merupakan sebuah faktor yang menentukan tingkah laku kekerasan terhadap tahanan lain atau petugas. Pengaruh ras ini belum sepenuhnya dipelajari, tetapi Gaes dan McGuire (1985) mendukung kemungkinan bahwa semakin homogen sebuah populasi, ras, dan etnik akan menimbulkan lebih banyak kekerasan terhadap petugas dan lebih sedikit terhadap tahanan lain. Mereka berspekulasi bahwa “sebagai sebuah campuran ras dalam menghadapi kesetaraan, akan lebih sedikit intimidasi terhadap tahanan lain yang menimbulkan kekerasan; bagaimanapun juga tingkat kekerasan dialihkan oleh petugas sebagai sebuah katarsis atau efek penempatan yang salah”. Tesis ini didukung sebagian oleh Sechrest (1991).

Di dalam populasi tahanan dengan ras yang heterogen tidak ditemukan lebih banyak serangan terhadap petugas atau sesama tahanan (Sechrest, 1991). Di dalam sebuah populasi yang beragam yang terdiri tidak lebih dari 60% tahanan kulit hitam atau putih (termasuk ras Hispanik), kekerasan antartahanan tidak menurun secara tajam (sedikit meningkat), ataupun meningkatnya kekerasan tahanan terhadap petugas. Lebih jauh lagi, ketika 60% atau lebih tahanan berkulit hitam yang merasa unggul, maka angka kekerasan tahanan berkurang sedikit dan kekerasan petugas menurun di bawah keselurhan tingkat kekerasan dalam populasi. Juga, ketika tahanan kulit hitam sebagai minoritas (di bawah 40%), kekerasan terhadap tahanan lain berada di bawah kekerasan populasi berkelakuan buruk dan kekerasan petugas berada di atas kekerasan populasi dengan kelakuan buruk. Walaupun observasi “ras yang homogen” dari Gaes dan McGuire tidak mendukung keseluruhan tahanan, tapi mendapat dukungan di mana populasi dikuasai oleh tahanan kulit putih dan Hispanik. Itu artinya, di mana tahanan kulit putih dan Hispanik berkuasa di dalam rutan, mereka cenderung untuk mengalihkan permusuhan kepada petugas dibandingkan dengan sesama tahanan lain.

Gender (Jenis Kelamin)
Kebanyakan penelitian mengenai kekerasan oleh tahanan dilakukan di dalam penjara pria. Sebuah penelitian di Georgia menemukan bahwa tingkat pelanggaran disiplin pada sebuah fasilitas penjara wanita dihubungkan dengan beberapa faktor, termasuk jumlah penangkapan, usia, kepadatan daerah asal, sejarah kekerasannya dan populasi rata-rata (Ruback dan Carr, 1984:60). Gaes (1985:103) menyebutkan bahwa penelitian laboratorium memperlihatkan bahwa dalam keadaan tertentu, tahanan wanita bereaksi posifif terhadap kerumunan sementara tahanan pria tidak.

Sechrest (1989) menemukan bahwa di dalam fasilitas penjara wanita, kepadatan itu sendiri menimbulkan kekerasan. Bagaimanapun juga, baik itu angka kekerasan maupun tingkat kekerasan dapat diramalkan jika ada pengawasan terhadap persentase tahanan kulit putih dalam suatu unit, usia tahanan pelaku kekerasan, dan ukuran total populasi dari unit. Bagaimanapun juga, sebuah pola kekerasan tahanan wanita telah ditemukan. Tingkat kekerasan dapat saja rendah ataupun tinggi pada tingkat kepadatan rendah tetapi kekerasan meningkat jelas pada setiap kepadatan tinggi. Megargee (1977:294) menemukan pola yang hampir sama untuk semua kejadian pada kepadatan dan pelanggaran disipline dalam fasilitas penjara pria. Maksudnya, selama berbulan-bulan ketika kepadatan relatif rendah, tingkat kekerasan dapat saja tinggi atau rendah; tetapi ketika kepadatan tinggi, tingkat tingkah laku jahat juga tinggi. Sechrest (1989) tidak menemukan bahwa usia bukanlah faktor dalam kekerasan antartahanan dalam fasilitas penjara wanita. Faktor-faktor lain inilah, selain usia, yang muncul sehubungan dengan meningkatnya kepadatan yang menimbulkan kekerasan di dalam rutan pria dan wanita seperti yang dianjurkan oleh Gaes dan McGuire (1985:58–59).

Type of Supervision (Jenis Pengawasan)
Semenjak akhir tahun 1960-an, para pejabat rutan dan penjara telah melakukan percobaan dengan berbagai jenis praktek pengawasan yang berbeda dengan maksud untuk mengendalikan kekerasan dan kebiasaan buruk para tahanan. Praktek baru ini menekankan pelatihan bagi para petugas dalam pengelolaan tahanan yang baru dengan maksud untuk mengurangi tekanan dan lebih meningkatkan pengawasan terhadap populasi penjara. Jenis pengawasan yang baru ini disebut pengawasan “prodular/remote” dan “prodular/direct.” Istilah “prodular” berasal dari rancangan arsitektur yang telah dikembangkan dengan praktik-praktik yang inovatif (Nelson, 1988:8). Sementara itu, banyak yang telah menulis tentang keberhasilan konsep pengelolaan yang inovatif ini di dalam rutan atau fasilitas penahanan lokal lainnya, tetapi sedikit yang telah melakukan perbandingan dengan tingkat kekerasan dalam unit tahanan yang menggunakan praktek pengawasan berbeda. Minat terbesar ada pada pengawasan “prodular/direct,” yang juga disebut sebagai “generasi ketiga,” “generasi baru” atau sebagai pengawasan langsung saja.

Rancangan pengawasan langsung telah dianggap oleh para praktisinya sebagai lebih efektif dalam mengawasi para tahanan. Maksudnya, mereka menemukan sedikit kekerasan pada sejumlah unit, terutama kekerasan antar tahanan itu sendiri dan antara tahanan dengan petugas Akhir-akhir ini, bagaimanapun juga, dokumentasi tentang tingkat pengurangan ini dianggap meluas sebagai anekdot atau tidak lengkap. Penelitian dengan menggunakan perbandingan yang tepat tidak dilakukan. Contohnya, sebuah laporan menyebutkan tingkat kekerasan dan bunuh diri menurun untuk rutan dengan “generasi baru” yang dibandingkan dengan “rutan tradisional”, tetapi tidak menggunakan dasar tingkat populasi tahanan yang dimaksud (Nelson, 1988:13). Artikel lainnya menandakan bahwa dalam sebuah rutan generasi ketiga tidak ditemukan pembunuhan, kekerasan seksual, atau bunuh diri, tetapi tanpa ada bingkai waktu atau tingkatan yang tersedia (Black dan Nesterode, 1989:109)

Sebuah fasilitas yang menggunakan pengawasan langsung selama 19 bulan dikatakan sebagai memiliki dinding dengan sedikit coretan dan noda, pengurangan besar dalam kekerasan antartahanan dan perkelahian kecil, dan ditandai dengan peningkatan keselamatan para petugas (Wallenstein, 1987:36). Sebuah fasilitas (Pima County Sheriff”s Departement, 1989) melaporkan adanya penurunan tajam kejadian kekerasan (penyerangan, pembakaran, mutilasi, bunuh diri dan percobaan melarikan diri, kerusuhan, dan hasutan perkelahian) dari 1,4 menjadi 0,53 per 100 tahanan pada tahun 1985 sampai tahun 1988 berdasarkan pada pengawasan langsung dibandingkan dengan pengawasan tradisional. Hal ini terjadi dalam unit tahanan dengan 36 tempat tidur (18 sel tahanan dengan tempat tidur susun ganda) sebagai populasi rata-rata meningkat dari 1.271 menjadi 2.503 tahanan. Dari keseluruhan 59% penurunan kejadian kekerasan dinyatakan sebagai “enam bulan terakhir” pada tahun 1988; kekerasan dalam rutan lama sebanyak 32 setiap bulan, dan pengawasan langsung sebanyak 13 sampai 22 setiap bulan, tergantung pada unitnya (Pima County Dheriff”s Departement, 1989).
Dale K. Secrest

Daftar Pustaka
Black, J.W., dan Nesterode, W. “Accreditation: Stting a Standard for Excellence.” Corrections Today (February 1989): 8–109.
Eckland-Olson, S., D.M. Barrick, dan L.E. Cohen. “Prison Crowding and Disciplinary Problems: An Analysis of the Texas Prison System.” Journal of Applied Behavioral Science 19(2)(1983):163–76.


Gaes, G.G. “The Effects of Overcrowding in Prison.” Michael Tonry dan Norval Morris (ed.). Crime and Justice: An Annual Review of Research (1985).
_____, dan W.J. McGuire. “Prison Violence: Crowding versus Other Determinants of Prison Assault Rates.” Journal of Research in Crime and Delinquency 22(1)(1985):41–65.
Innes, C.A. “Profile of State Prison Inmates, 1986.” Bureau of Justice Statistics Special Report No. NCJ-109926. Washington, DC: U.S. Department of Justice, 1986.
Jan, L. “Overcrowding and Inmate Behavior,” Criminal Justice and Behavior 7(3)(1980):293–301.
Kratcoski, P.C. “The Implications of Research Explaining Prison Violence and Disruption.” Federal Probation 52(1)(1988):27–32.
Megargee, E.I. “The Association of Population Density, Reduced Space and Uncomfortable Temperatures with Misconduct in a Prison Community. “Americal Journal of Community Psychology 5(1)(1977):289–98.
Nacci, P.L., H.E. Teitelbaum, dan J. Prather. “Population Density and Inmate Misconduct Rates.” Federal Probation 41(1977):26–31.
Nelson, W.R. “The Origins of the Podular Direct Concept.” Americal Jails (Spring 1988):8–14.
Paulus, P.B., V.C. Cox, dan G. McCain. “Effects of Crowding in Prisons.” Washington, DC: U.S. Department of Health, Education and Welfare, National Institute of Education, 1977.
_____. “Prison Crowding Research.” American Psychologist 39(10)(October 1984):1148–60.
Pima County Sheriff’s Department Corrections Bureau. Deskripsi fasilitas ditetapkan pada bulan Mei 1989 oleh American Jail Association Conference, Hollywood, Florida, 1989.
Ruback, R.B. dan T.S. Carr. “Crowding in a Woman’s Prison: Attitudinal and Behavioral Effects.” Journal of Applied Social Psychology 14(1)(1984):57–68.
Sechrest, D.K. “Population Density and Assaults in Jails for Men and Women.” Americal Journal of Criminal Justice 14(1)(1989):87–103.
_____. “The Effects of Density on Jails Assaults.” Journal of Criminal Justice 19(1991):211–23.
_____, dan W.C. Collins. Jail Management and Liability Issues. Miami: Coral Gables, 1989.
Wallenstein, A.M. “New Generationa/Direct Supervision Correctional Operations in Bucks County, Pennsylvania.” American Jails (Spring 1987): 34–36.

* Kecelakaan, Gara - Gara Penumpang Taksi Buka Pintu

28-05-2009

PUSKOMINFO – Kecelakaan yang melibatkan antara Taksi dan Daihatsu Terios terjadi di Jl. Trunojoyo Jakarta Selatan, tepatnya di depan Kantor PLN, Kamis (28/05).

Taksi yang bernopol B 1363 XL ditabrak Daihatsu Terios dengan Nopol B 2446 TL dari arah belakang.

Informasi dari Petugas Satuan Unit laka Lantas Polres Metro Jakarta Selatan, kendaraan taksi tersebut berhenti untuk menurunkan penumpang, namun pada saat akan turun, penumpang tersebut tidak berhati-hati, tidak melihat ke arah belakang langsung membuka pintu. Pengemudi mobil Terios yang berjalan dibelakangnya kaget dan akhirnya menabrak Taxi tersebut.

Informasi dari TMC Dit Lantas Polda Metro Jaya, akibat kecelakaan tersebut arus lalu lintas di sekitar Jalan Trunojoyo mengalami kemacetan.

* Melakukan Praktek Aborsi, Klinik Digerebek Polisi

28-05-2009

PUSKOMINFO – Sebuah klinik di Perum Taman Harapan Baru digerebek Aparat Polsek Metro Medan Satria, Bekasi karena melakukan praktek aborsi, Rabu (27/05) malam. Seorang Bidan yang melakukan praktek di klinik tersebut ditangkap.

Penggerebekan dilakukan sekitar pukul 22.00 WIB di sebuah rumah yang dijadikan klinik di Perum Taman Harapan Baru Blok VI/12 Rt. 07/25 Kelurahan Pejuang Kecamatan Medan Satria Kota Bekasi. Dari tempat tersebut, Polisi menyita barang bukti peralatan medis, obat-obatan dan sebuah janin yang disimpan di dalam lemari plastik.

Awalnya, Polisi mendapat informasi dari masyarakat bahwa rumah yang dijadikan klinik tersebut diduga sering melakukan praktek aborsi, yang kemudian ditindak-lanjuti dengan penyelidikan.

Dari hasil penyelidikan, selanjutnya Polisi melakukan penggerebekan lokasi dan mendapati seorang wanita berinisial Syan sedang melakukan aborsi. Petugas juga menangkap SJ, bidan yang menangani aborsi tersebut. Selanjutnya keduanya berikut barang bukti berupa peralatan medis, obat-obatan dan janin dibawa ke Polres Metro Bekasi untuk pemeriksaan lebih lanjut.

* Mengalami Gangguan Jaringan, 5 Unit SAMSAT Keliling Tidak Beroperasi

28-05-2009

PUSKOMINFO – Akibat mengalami gangguan jaringan, lima unit kendaraan Samsat keliling yang biasa beroperasi di lima wilayah DKI Jakarta untuk hari ini Kamis (28/05) tidak beroperasi.

Bagi masyarakat wajib pajak yang akan memperpanjang STNK tahunan dilayanan SAMSAT keliling untuk hari ini diarahkan ke kantor SAMSAT terdekat.

Untuk perpanjangan STNK masyarakat wajib Pajak bisa mendatangi kantor SAMSAT terdekat:
1. Wilayah Jakarta Selatan di Jl. Sudirman No. 55
2. WIlayah Jakarta Timur di Jl. DI. Panjaitan, Kebon Nanas
3. Wilayah Jakarta Utara dan Jakarta Pusat di Jl. Gunung Sahari depan WTC Mangga Dua.
4. WIlayah Jakarta Barat di Jl. Daan Mogot KM 14

Sementara untuk layanan SIM Keliling untuk hari ini berjalan normal sesuai jadwal, yaitu:
1. Wilayah Jakarta Selatan di Kebun Binatang Ragunan
2. Wilayah Jakarta Timur di depan Swalayan Makro Pasar Rebo
3. Wilayah Jakarta Utara di Mega Mall Pluit
4. Wilayah Jakarta Pusat di depan Kantor Pos Pasar Baru
5. Wilayah Jakarta Barat di Jl. Raya Joglo depan Ruko Copylas

Pelayanan SIM Keliling dimulai pukul 08.00 s/d 13.00 Wib.

* Perkembangan Kasus Pembobolan Dana Pemkab Aceh Utara di Bank Mandiri KCP Jelambar Jakarta Barat

PUSKOMINFO – Perkembangan hasil penyidikan Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya dalam kasus pembobolan dana milik Pemkab Aceh Utara di bank Mandiri KCP Jelambar Jakarta Barat, terhadap HB (Direktur PT. SDM), akhirnya Rabu (27/05) penyidik menahan HB karena terbukti menerima aliran dana dari tersangka LIS sebesar Rp. 100 miliar. Barang bukti berupa beberapa rekening milik HB yang sudah diblokir penyidik dengan total Rp. 67.875.249.609,-
HB terbukti menerima aliran dana dari tersangka LIS sebesar Rp. 100 miliar. Barang bukti berupa beberapa rekening yang sudah diblokir penyidik. HB dijerat dengan pasal berlapis, yaitu melanggar UU Korupsi, UU Pencucian Uang, Pasal 372 KUHP jo 55/56 KUHP.
Dengan ditahannya HB, kini Penyidik Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya telah menahan empat tersangka yaitu CAH, LIS, MBY dan HB. Polisi juga telah menyita dana sebesar Rp. 97.172.000.000,- dari beberapa rekening para tersangka.
Hingga saat ini, penyidik juga telah meminta keterangan 5 orang saksi.
Pembobolan dana Pemkab Aceh Utara di Bank Mandiri KCP Jelambar bermula dari Sol (Anggota Kadin Pusat Jakarta) dari Aceh menghubungi BAS (Ketua Kadin Aceh Utara) bahwa di Bank Mandiri KCP Jelambar bisa memberikan bunga deposito 10,2 %, lebih besar daripada Bank Mandiri Aceh.
Kemudian BAS memberitahu Wakil Bupati Aceh Utara tentang info tersebut. Oleh Bupati mengeluarkan Cek senilai Rp. 220 miliar dan diserahkan kepada Wakil Bupati untuk di depositokan di Bank Mandiri Jakarta. Hal tersebut juga pernah dilakukan oleh Pemkab Aceh Utara di Bank Muamalat Jakarta.
Setelah itu Wabub bersama dengan BAS dan YUN datang ke Jakarta dan bertemu dengan SOL dan timnya antara lain LIS untuk membicarakan rencana penempatan dana tersebut di Bank Mandiri KCP Jelambar. Selanjutnya mereka dibawa ke bank Mandiri KCP Jelambar Jakarta bertemu dengan CAH, Kepala Bank Mandiri KCP Jelambar.
Sewaktu dilakukan pencairan Cheque tersebut hanya Rp. 200 miliar yang dideposito selama 3 bulan, sedangkan yang Rp.20 miliar tidak dideposito, melainkan dengan pencairan tunai.
Untuk mengelabui Pemkab Aceh Utara, pihak Bank bersama dengan LIS menerbitkan Bilyet Giro palsu.
Setelah jatuh tempo deposito Rp.200 miliar tersebut pada bulan Mei 2009. Kembali pihak Bank dan LIS mencairkan dana tersebut dan memasukkan ke rekening LIS, kemudian oleh LIS disebarkan ke beberapa rekening para tersangka lainnya.
Kini, para tersangka dijerat dengan Tindak Pidana Korupsi, Tindak Pidana Perbankan, Tindak Pidana Pencucian Uang dan Tindak Pidana Penggelapan KUHP.

* KEJADIAN 28 MEI 2009

1. PENCURIAN DENGAN PEMBERATAN
Waktu kejadian : 27 Mei 2009 Pkl. 21.00 Wib
Tkp : Stasiun Gondangdia Menteng Jakpus/Pospol Muitiah/1044.
Korban : Riyanto, 25th, Jl. Gajah No. 9A Rt. 03/03 Maricaya makasar.
Pelaku : MT, 20th, Al. Pule Pandak Rt. 07/08 Kaliurang Wonosobo.
Kronologis Kejadian : Pelaku berpura-pura ingin membeli, pada saat korban sedang melayani pembeli lain, pelaku mengambil HP milik korban dan pelaku melarikan diri tetapi diketahui oleh korban dan kemudian pelaku dikejar dan berhasil ditangkap oleh korban
Barang bukti : 1 unit HP Merk Nokia 2630.
Ditangani : Sektro Menteng.

2. PENEMUAN MAYAT
Waktu kejadian : 27 Mei 2009 Pkl. 12.30 Wib
Tkp : Kolong Tol kedung Panjang Penjaringan Jakut.
Korban : Laki-laki tanpa identias.
Saksi : Tatang dan Suhairi..
Kronologis Kejadian : Saksi menemukan korban sudah dalam keadaan MD, diduga Korban MD dikarenakan mengalami penganiayaan. Korban mengalami luka tusuk pada bagian perut dan punggun. Korban selanjutnya dibawa ke RSCM.
Ditangani : Sektro Penjaringan.

3. KEBAKARAN
Waktu kejadian : 27 Mei 2009 Pkl. 12.30 Wib
Tkp : Jl. Jatinegara Timur IV Rt. 09/02 Balimester Jaktim.
Korban : Ade Wiliyanto, 58th, Al. TKP.
Saksi : Masrudi, 41th.
Kronologis Kejadian : Kebakaran terjadi diduga karena Jenset yang berada di lantai IV di TKP meledak. Korban jiwa nihil, api dapat dipadamkan dengan menggunakan 3 unit mobil DPK.
Kerugian : ditaksir Rp. 30.000.000,-
Ditangani : Sektro Jatinegara.

4. PENCURIAN DENGAN KEKERASAN
Waktu kejadian : 27 Mei 2009 Pkl. 01.30 Wib
Tkp : Jembatan H. Santung pekayon Jaya Bekasi Selatan.
Korban : Fachrul Roji, 19th, Al. Kp. Dua Rt. 02/02 Jakasampurna Bekasi Barat.
Pelaku : Lidik.
Saksi : Ragil, 19th.
Kronologis Kejadian : Ketika korban hendak membeli rokok, sesampainya di TKP korban dicegat oleh 4 orang pelaku, kemudian pelaku menodongkan pistol sambil mengancam korban akan ditembak, selanjutnya pelaku mengambil KR R2 milik korban serta 1 unit HP.
Kerugian : 1 unit KR R2 Yamaha Mio No. Pol. B-6840-TRJ dan 1 unit HP .
Ditangani : Sektro Ciputat.

5. PENCURIAN DENGAN PEMBERATAN
Waktu kejadian : 27 Mei 2009 Pkl. 06.30 Wib
Tkp : Ruang X-Ray Terminal 1B Bandara Soetta.
Korban : Suparjana, 46th.
Pelaku : Lidik.
Kronologis Kejadian : Pelaku mengambil tas milik korban dengan cara menukarnya dengan tas milik pelaku saat sedang melewati ruang X-Ray.
Kerugian : Ditaksir Rp. 160.000.000,-
Ditangani : Restro Bandara Soetta.

* CARA STANDAR MERAWAT MOTOR

Sebagai modal angkutan yang bisa menerobos kemacetan lalu lintas, motor memang tiada duanya. namun agar performanya tetap optimal, jangan pernah mengabaikan perawatan motor. Berikut tips mudah merawat motor :

1. Periksa kondisi oli.
Karena oli berperan penting untuk melumas komponen-komponen mesin, seperti stang seher, seher, dan ring seher, kruk as dan noken as atau stang klep. Jika minyak pelumas berwarna kehitam-hitaman atau kelenturan daya lumasnya berkurang, maka sebaiknya segera diganti oli yang sesuai rekomendasi pabrikan.

2. Periksa kondisi aki.
Jangan biarkan air aki melewati batas maksimum dan minimum yang mengakibatkan bisa mempercepat kerusakan pada sel-sel aki. Tambahkan aki pada pagi hari. Segera ganti jika baterai atau aki kalau sudah melemah.

3. Periksa rantai dan gir. Jangan biarkan rantai kendor atau terlalu kencang. Cek juga kondisi gir, jika sudah tajam segera ganti karena jika tidak rantai bisa tiba-tiba putus.

4. Periksa kabel koil dan busi.
segera ganti kabel yang sudah cukup umur dan sudah tampak retak dan pengerasan pada kabel. Jangan lupa perhatikan keberadaan busi karena busi sangat vital untuk kelancaran sebuah mesin kendaraan.

5. Perhatikan selang bensin.
Jangan membiarkan kondisi selang bensin mengeras atau terjadi retakan-retakan. Karena bagian dalam selang bisa jadi sudah tidak elastis dan mengakibatkan serbuk kotoran yang berasal dari selang terbawa ke karburator.

6. Panaskan mesin selama dua menit.
Panaskan mesin sebelum motor dijalankan agar sirkulasi oli bisa melumasi seluruh bagian dalam mesin yang bergerak.

7. Periksa tekanan angin ban.
Jangan terlalu keras dan juga jangan kurang karena bisa berakibat kembang ban motor rusak.

8. Selalu menggunakan suku cadang asli.