31 Juli 2009

* KEJADIAN 31 JULI 2009

1. PENYALAHGUNAAN NARKOTIKA
Waktu kejadian : Tanggal 30 Juli 2009 Pukul 12.40 Wib.
TKP : Jl. Sinar Jaya Rt. 04/07 Pisangan Timur Pulogadung Jaktim.
Pelaku : HDR.
Saksi : IGD. Komang D.E Anggota Dit Narkoba.
Kronologis : Pelakukedapatan memiliki, menyimpan dan atau mengedarkan narkotika jenis ganja ketika dilakukan penggeledahan oleh saksi.
Barang bukti : 1) 1 buah tas yang berisi narkotika jenis ganja dengan berat bruto 7259 Gram, 2) 3 buah bungkus ganja denganberat bruto 2600 Gram.
Ditangani : Dit. Narkoba Polda Metro Jaya.

2. PENCURIAN DENGAN KEKERASAN R-4
Waktu kejadian : Tanggal 30 Juli 2009 Pukul 13.15 Wib.
TKP : Kawasan Hyundai samping PT. Daisung Jl. Blok C3 No. 12 Cibatu Cikarang selatan Bekasi Kab.
Korban : Aang Juhana, 26th, Al. kp. Pasir Ranji Rt. 02/02 Cikarang Pusat Bekasi Kab.
Pelaku : 4 orang tidak dikenal.
Kronologis : Pada saat korban tertidur didalam kendaraan, tiba-tiba datang pelaku menyergap korban dan menodongkan pistol serta mengancam korban agar tidak berteriak. Kemudian pelaku membawa korban berserta mobil korban dan dalam perjalanan korban sempat berontak namun korban dipukul dibagian kepala dengan menggunakan pistol warna hitam hingga korban mengalami luka robek serta berdarah kemudian korban dibuang dijalanan.
Kerugian : 1 unit mobil box B-9605-IV dan 5 Kg kawat solder.
Ditangani : Sektro Cikarang Selatan.

3. LAKA KERJA KORBAN MD
Waktu kejadian : Tanggal 30 Juli 2009 Pukul 11.00 Wib.
TKP : Depo SPIL Pasoso Tj. Priok Jakut.
Korban : Aep Saprudin, 23th, Kenek Kontainer, Al. Kp. Sukamandi Rt. 04/01 Luissadeng Bogor.
Saksi : Andri Permana, 21th, Security.
Pelaku : YJ.
Kronologis : Korban terjepit container No. SPNU 4601761 dengan Kontainer SPNU 4603845 yang terdorong oleh buntut truk container yang dikemudikan oleh pelaku. Korban mengalami luka dibagian kepala belakang pecah selanjutnya korban dikirim ke RSCM untuk otopsi.
Ditangani : Restro KPPP Tj. Priok.

4. PENYALAHGUNAAN PSIKOTROPIKA
Waktu kejadian : Tanggal 30 Juli 2009 Pukul 02.45 Wib.
TKP : Jl. Gunung Sahari Pademangan Jakut
Saksi : Anggota Dit Narkoba PMJ.
Pelaku : 1) JLIH, 2) SM.
Kronologis : Pelaku kedapatan menyimpan memiliki , menggunakan , mengedarkan psikotropika jenis extasy . dari tangan JLIH disita barang bukti 54 butir Extasy sedangkan dari Tangan SM disita 1 butir Extasy warna merah.
Ditangani : Dit Narkopba PMJ.

30 Juli 2009

* Kejadian 30 Juli 2009

1. Tindak Pidana Bidang Kesehatan

Waktu Kejadian : 29 Juli 2009 Pukul 11.30 Wib.
TKP : Pabrik Tahu TSA (Tahu Sari Asih) Jl. Harapan II No. 72 Rt. 04/10 Cipinang Melayu Makasar Jakarta Timur.
Pelaku : SUT.
Saksi : Anggota Dit Narkoba Polda Metro Jaya.
Kronologis Kejadian : Pelaku kedapatan memproduksi, mendistribusikan, memperdagangkan makanan/minuman yang tidak memenuhi standar kesehatan.
Barang Bukti : Satu Jerigen berisi cairan formalin, sepuluh tahu jadi, plat besi, mesin penggiling dan lain-lain.
Ditangani : Dit Narkoba Polda Metro Jaya.

2. Pencurian Dengan Kekerasan

Waktu Kejadian : 30 Juli 2009 Pukul 02.00 Wib.
TKP : Jl. Raya Cilincing Depan Dewa Kembar Kalibaru Jakarta Utara.
Korban : Saepudin (39 th), warga Jl. Kebantenan V Semper Timur Cilincing Jakarta Utara.
Pelaku : Dalam penyelidikan.
Kronologis Kejadian : Korban adalah seorang tukang ojek. Kemudian pelaku minta diantar ke TKP. Setelah sampai di TKP, saat korban ingin memberikan uang kembalian, tiba-tiba pelaku langsung memukul korban dengan kayu kaso sehingga korban mengalami luka memar pada tubuh dan wajah. Selanjutnya pelaku membawa kabur sepeda motor korban Honda Supra X B-6855-XX.
Ditangani : Polsek Metro Cilincing.

3. Penemuan Mayat Korban Penganiayaan

Waktu Kejadian : 29 Juli 2009 Pukul 18.00 Wib.
TKP : Jl. Asem Rt. 04/06 No. 58 Ciracas Jakarta Timur.
Korban : Anyen, (63 th).
Pelaku : Dalam penyelidikan.
Saksi : Zaenal Arifin, (16 th), Cucu korban.
Kronologis Kejadian : Saksi mendapati korban telah meninggal dunia di TKP. Didapati luka bekas penganiayaaan pada bagian kepala belakang dan leher. Mayat korban dikirim ke RS. Soekanto Kramat Jati.
Ditangani : Polsek Metro Ciracas.

4. Penganiayaan Berat

Waktu Kejadian : 29 Juli 2009 Pukul 05.30 Wib.
TKP : Kunciran RT. 01/01 Pinang Tangerang.
Korban : Euis, 27 th, Warga Cadas Kota Tangerang.
Pelaku : JS, 26 th.
Saksi : labek, 32 th.
Kronologis Kejadian : Korban mendatangi rumah pelaku dengan maksud mengambil anak yang hak asuhnya dikuasai korban. Pelaku merasa tidak terima dan cemburu karena korban adalah isteri muda suami pelaku. Pelaku menganiaya korban dengan cara menyiramkan bensin dan membakar korban. Korban mengalami luka bakar serius di bagian badan. Selanjutnya korban dibawa ke RSCM untuk visum dan perawatan. Pelaku menyerakan diri ke Polsek Cipondoh.
Ditangani : Polsek Cipondoh.

29 Juli 2009

* Pelaku Penggelapan Mobil Kreditan Ditangkap

29-07-2009, 14 : 15 Wib.
PUSKOMINFO - Satuan Kendaraan Bermotor (Ranmor) Ditreskrimum Polda Metro Jaya menangkap pelaku penggelapan kendaraan bermotor. Dari pelaku berinisial RDS, petugas menyita barang bukti delapan mobil.

"Dia kredit dari BCA Finance, ACC Finance, Tunas Finance, dan banyak lagi," kata Kepala Satuan Ranmor Dit Reskrimum Polda Metro Jaya AKBP Ferdi Sambo saat jumpa pers di Mapolda Metro Jaya, Jl Jend. Sudirman, Jakarta, Rabu (29/7/2009).

Dalam aksinya, pelaku RDS mengkredit mobil dengan mengisi aplikasi menggunakan Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik tersangka HS (masih buron). Untuk mobil merek Land Cruiser, tersangka HS memberikan uang muka Rp 100 juta.

Tanpa seijin pihak Finance, kemudian oleh tersangka RDS mobil tersebut dijual kembali secara tunai dengan harga baru, untuk Land Cruiser dijual Rp. 800 juta. Kepada pembeli, RDS mengatakan mobil yang dijual tersebut milik mantan pejabat, Kedubes dan Setneg. Mereka juga mengatakan bahwa BPKB akan diserahkan 2 atau 3 bulan setelah mobil diterima.

Aksi penggelapan ini terungkap atas laporan dari salah satu korban penipuan jual-beli mobil yang diduga hasil kejahatan.

Informasi tersebut ditindaklanjuti dengan cara petugas berpura-pura hendak membeli mobil hingga akhirnya pelaku berhasil diringkus di daerah Yogyakarta dan menyita 8 unit Mobil hasil kejahatan yang sudah dijual ke daerah Kalimantan Selatan.

Atas perbuatan tersebut, tersangka dijerat Pasal 372 KUHP tentang penggelapan dengan ancaman hukuman diatas lima tahun penjara.

* Kejadian 29 Juli 2009

1. Penganiayaan Berat

Waktu Kejadian : 28 Juli 2009 Pukul 09.00 Wib.
TKP : Jl. Perwira, tepatnya di pinggir Trotoar Masjid Istiqlal Jakarta Pusat.
Korban : Basuki (49 th).
Pelaku : AK (38 th).
Saksi : Ade Irawan (27 th).
Kronologis Kejadian: Pelaku langsung melempar batu dan menghampiri korban sambil marah-marah. Kemudian menusuk korban dengan pisau sehingga korban mengalami luka tusuk di bagian tulang iga dan bokong sebelah kiri. Lalu korban lari dan ditolong oleh saksi hingga pelaku dapat ditangkap warga.
Ditangani : Sektro Sawah Besar.

2. Pencurian Dengan Kekerasan

Waktu Kejadian : 28 Juli 2009 Pukul 21.15 Wib.
TKP: Jl. Sulaiman Rt. 01/03 Kel. Sukabumi Utara Kebon Jeruk Jakarta Barat.
Korban : Agus Maulana (27 th), warga Jl. Kemanggisan Pulo No. 34 B Rt. 02/09 Kemanggisan Palmerah Jakarta Barat.
Pelaku : 6 orang tak dikenal (Dalam penyelidikan).
Saksi : Subyani (43 th), tukang ojek.
Kronologis Kejadian: Selesai menutup toko, korban berjalan 500 meter tiba-tiba datang pelaku sebanyak 6 orang dan memepet korban dengan menggunakan sepeda motor dan menendang korban hingga terjatuh. Kemudian pelaku menembak paha kanan korban dan merampas tas yang dibawa korban. Pelaku kabur dengan melepaskan tembakan ke udara 3 kali. Korban dibawa ke RS. Medika Permata Hijau.
Kerugian : Uang tunai Rp. 20 juta.
Ditangani : Polsek Metro Kebon Jeruk.

3. Penganiayaan

Waktu Kejadian : 28 Juli 2009 Pukul 10.15 Wib.
TKP : Gedung KPK Jl. HR. Rasuna Said Kel. Karet Setiabudi Jakarta Selatan.
Korban : Rian (16 th).
Pelaku : 8 orang tak dikenal berpakaian batik.
Kronologis kejadian : Pada saat korban sedang melakukan aksi demo dari Gerakan Bersama Tolak Korupsi (Gasak) tiba-tiba pelaku masuk ke arah kerumunan pengunjuk rasa dan berkata "ini perintah siapa yang nyuruh" sambil memerintahkan massa pengunjuk rasa untuk bubar. Dan Poster-poster yang dipegang oleh massa diambil secara paksa oleh pelaku. Karena takut, massa melarikan diri dan terjadi kejar-kejaran dengan pelaku. Massa yang tertangkap oleh pelaku langsung dipukul dan ditendang. Selanjutnya Polisi yang sedang melakukan pengamanan unjuk rasa segera mengamankan para pelaku.
Ditangani : Polsek Metro Setia Budi.

4. Penemuan Mayat

Waktu Kejadian : 28 Juli 2009 Pukul 01.30 Wib.
TKP : Kolam Transit 17 Dermaga Timur Pelabuhan Muara Baru.
Korban : Samudi (44 th).
Saksi : 1) Budiman (16 th) 2) Harun (29 th).
Kronologis Kejadian : Korban dalam keadaan mabuk minta saksi 1) untuk membeli rokok. Tetapi korban mengikuti Saksi 1), saat korban akan menuruni kapal dengan cara melompat, korban kehilangan keseimbangan sehingga jatuh ke laut dan langsung tengelam. Saksi 1) yang melihat langsung menyelam namun korban tidak ditemukan. Selanjutnya saksi 1) melapor kepada Saksi 2) dan korban dibawa ke RSCM untuk otopsi.
Ditangani : Polsek Metro Pelabuhan Muara Baru.

5. Kecelakaan Lalu Lintas

Waktu Kejadian : 28 Juli 2009 Pkul 11.45 Wib.
TKP : Jl. Akses marunda Persimpangan Pergudangan Logistik KBN Jakarta Utara.
Korban : Bahtian Ari Nugroho (15 th), pengendara sepeda motor.
Pelaku : Ujang (49 th), pengendara truk trailer.
Kronologis Kejadian : Saat sepeda motor berjalan dari arah Timur ke Barat, tiba-tiba sepeda motor korban menabrak truk trailer dari arah berlawanan, truk trailer sedang bebelok ke arah pergudangan. Korban meninggal dunia di TKP, selanjutnya dikirim ke RSCM untuk otopsi.
Ditangani : Laka Lantas Polres Mero Jakarta Utara.

28 Juli 2009

KEBAKARAN RUMAH

Waktu kejadian : Selasa tanggal 28 Juli 2009 jam 01.30 wib
Tempat kejadian : Rumah JL.Sawo III no.01 Rt.002 Rw.09
Kelurahan Manggarai selatan kecamatan
Tebet Jakarta Selatan.
Korban : Empat(4)orangt meninggal dunia:
1. Bpk.EDI WIJAYA(laki-laki,usia 57 Tahun)
2. Ibu SALMAH (Perempuan 47 Tahun)
3. FEBRIANTI alias RIRIN binti EDI(Perempuan 24 Tahun)
4. MELINA binti ADITYA WARMAN (Perempuan 24 Tahun)
Saksi : WENDY(Laki-laki,23 Tahun,tetangga korban)
DIMAS (Laki-laki,24 Tahun,Islam,Karyawan)
Sebab kejadian : Diduga asal api berasal dari konsleting listrik.
Uraian singkat kejadian : Pada hari ini selasa tanggal 28 juli 2008,sekira jam 01.30 wib telah terjadi kebaklaran pada rumah yang beralamat di Jl.Sawo III No.01 Rt 002 Rw 09 Kel Manggarai Selatan Kec.Tebet Jakarta Selatan, sehingga menyebabkan 1(satu)rumah bertingkat 2(dua) tersebut habis terbakar dan terdapat empat orang korban jiwa yang mana kesemuanya adalah penghuni rumah yang sedang berada di lantai 2(dua).adapun awal mula kejadianya diduga asal api dari konsleting listrik sehingga menimbulkan percikan api dan kemudian membakar rumah tersebut,keempat korban jiwa tersebut di temukan di dalam kamar mandi lantai dua dalam keadaan terbakar hangus dan dalam posisi meringkuk,api dapat dipadamkan sekitar 1(satu)jam setelah kejadian,dan dinas kebakaran yang datang sebanyak 21(dua puluh satu)unit
Kerugian : Belum dapat di taksir
Ditangani : Polsek Metropolitan Tebet.

* KEJADIAN 28 JULI 2009

1. KEBAKARAN

Waktu kejadian : tanggal 27 Juli 2009 pkl.14.45 wib.
Tkp : Restoran Sop kronco jl. Boulevard ry TA2/38 Kelapa Gading.
Korban : H. Hanaping, 70th, Al. TKP.
Saksi : Marila, 22th, Al. TKP.
Kronologis kejadian : Api berasal dari kompor gas yang menyambar tabung gas sewaktu dipasang dari kompor gas yang lain, kemudian meledak, api berhasil dipadamkan jam 13.00 Wib dengan menggunakan 14 unit mobil DPK. Korban luka: Saksi pada tangan kanan memar.
Kerugian : Belum dapat ditaksir.
Kasus ditangani : Sektro Kelapa Gading.

2. KEDAPATAN NARKOTIKA

Waktu kejadian : tanggal 24 Juli 2009 pkl. 22.00 wib.
Tkp : Jl. Kh. Agus Salim Km. 19 Rt. 01/08 Bekasi.
Korban : AG, 17th, Al. TKP.
Kronologis kejadian : Pelaku kedapatan memiliki, membawa, dan atau menggunakan narkotika jenis daun ganja.
Barang bukti : 1 paket bungkus besar narkotika jenis daun ganja yang dibungkus dengan potongan kertas Koran.
Kasus ditangani : Sektro Bantar Gebang.

27 Juli 2009

* Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya Bekuk Bandar Narkoba, Disita Barang Bukti Narkoba Senilai Rp500 Juta

27-07-2009, 16:54 Wib
PUSKOMINFO - Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya membekuk seorang bandar narkoba, MGM, 37 th, di Perumahan Villa Bintaro Regensi Blok G 3 No 17 Pondok Aren, Tangerang. Dari rumah kontrakan tersangka petugas menyita 375 kg ganja kering, 50 gram shabu dan 50 butir ektasi atau senilai Rp 500 Juta.

Pengungkapan kasus ini bermula dari informasi masyarakat pada 15 Juli lalu, bahwa di tempat kejadian perkara (TKP), tersangka selalu mengadakan transaksi narkoba.

Atas informasi masyarakat tersebut, Petugas Direktorat Narkoba Polda Metro Jaya segera melakukan penyelidikan dan ternyata memang benar, selanjutnya petugas membekuk lelaki asal Ambon ini. Dan dari kamar tersangka petugas menyita 375 Kg ganja kering, 50 gram shabu dan 50 butir ektasi atau senilai Rp 500 Juta.

"Dia memang sudah menjadi target polisi sejak 2003 lalu," ujar Kasat III Obat Berbahaya Dit Narkoba Polda Metro Jaya AKBP Krisno Siregar yang didampingi Kompol Moch Ilyas Saad, kepada wartawan saat Konfrensi Pers, Senin (27/7).

Menurut pengakuan sementara tersangka, barang tersebut didapat dari seorang wanita asal Aceh bernama Piayah. "Biasanya dalam transaksi tersangka selalu menggunakan telepon yang selanjutnya diantar menggunakan kurir," ujarnya lagi.

Kini, petugas masih memburu kurir dan pemasok ganja asal Aceh itu. Untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya, kini tersangka meringkuk di sel tahanan Narkoba Polda Metro Jaya.

* KEJADIAN 27 JULI 2009

1. MENGAKIBATKAN ORANG MD
Waktu : Tanggal 26 Juli 2009 Pukul 08.00 Wib.
TKP : Jl. Kedondong No. 2A Rt. 11/09 Rawamangun Pulogadung Jaktim.
Korban : Noviansyah, 22th.
Pelaku : Lidik.
Saksi : Rudy Setiawan, 23th.
Kronologis : saksi menemukan korban dalam keadaan Md diduga korban dianiaya oleh pelaku. Saksi juga menemukan pecahan batu yang ada bercak darah. Korban mengalami luka memar dan sayat pada bagian wajah serta luka sobek pada bagian kepala. Selanjutnya korban dibawa ke RSCM untuk dilakukan visum.
Ditangani : Sektro Duren Sawit.

2. PENCURIAN DENGAN PEMBERATAN
Waktu : Tanggal 26 Juli 2009 Pukul 08.00 Wib.
TKP : Ps. Induk Cibitung Wanasari Bekasi.
Korban : Maryadi, 51th, Al. Kp. Utan Jl. Raya Bosih Rt. 03/02 Cibitung Bekasi.
Pelaku : Rudy, 27th, Al. Kp. Majalaya Jakbar.
Kronologis : Pelakumasuk kedalam TKP dengan cara merusak gembok dan memecahkan kaca pintu setelah pelaku masuk, pelaku mengambil HP yang berada di dalam TKP. Namun pelaku berhasil diamankan oleh petugas keamanan setempat
Barang Bukti : Potongan besi untuk merusak gembok.
Ditangani : sektro Cibitung.

26 Juli 2009

* Mengatasi masalah prilaku anak yang senang memukul, mencubit atau menendang adalah sebagai berikut :

1. Orang tua bersikaplah tegas dengan menegakkan disiplin yang sudah disepakati bersama (antara anak dengan orang tua).

2. Reward, berikanlah reward atau ganjaran yang positif untuk tingkah laku anak sesuai dengan yang diharapkan. Langkah ini di ambil manakala anak bertingkah laku baik seperti tidak memukul. Saat seperti itu berilah ia hadiah atas usahanya untuk berubah. Dan tidak harus hadiah selalu berupa barang tapi bisa dengan pelukan, ciuman, makanan kesukannya atau sekedar dengan ucapan terima kasih.

3. Ajarkanlah ketrampilan sosial pada anak. Karena anak perlu dilatih mengatakan apa yang ia kehendaki dan memikirkannya secara jelas.

4. Pada saat yang tepat. Berilah alternatif dengan memberikan kesempatan kepada anak untuk bermain, dan bercerita serta orang tua bertindak sebagai pendengar aktif.

5. Menetapkan aturan yang jelas. Artinya orang tua harus tegas ketika anak melakukan aksinya. Sehingga nada bicara maupun ekspresi menunjukkan bahwa orang tua tidak sepakat dengan aksi itu. Contoh, ketika anak menendang maka kita bisa mengatakan : “Maaf ade, kalau ade masih suka menendang seperti itu, maka mama tidak izinkan ade untuk bergabung bersama kakak dan mama melanjutkan permainan ini!”

6. Selalu menjaga hubungan yang harmonis dengan anak sesibuk apapun kita. Karena salah satu sumber perilaku negatif anak adalah karena kebutuhan akan kasih sayang yang tidak terpenuhi, terutama dari orang tuanya. (by.eramuslim.com)

* Lokasi SIM dan SAMSAT Keliling

Mobil SIM keliling beroperasi di :

- Padepokan Pencak Silat Taman Mini Indonesia Indah
- Pintu 7 Senayan dekat TVRI

Informasi dari TMC Dit. Lantas Polda Metro Jaya hari Minggu (26/7) SIM dan SAMSAT keliling beroperasi dari Pkl. 08.00 – 13.00 WIB.

* Traffic Radar (Radar Lalu-lintas)

Sejak dikenalkannya pada penegakan hukum lalu lintas tahun 1948, radar (deteksi radio dan jarak kisaran) menjadi komponen integral dari pengukuran kecepatan kendaraan. Setiap tahun ratusan ribu dolar dikumpulkan oleh pengadilan melalui pengendara motor yang kecepatannya telah termonitor dengan bantuan instrumen elektronik ini.

Saat ini, radar berevolusi menjadi peralatan canggih, secara keseluruhan daya guna dan efektivitasnya telah ditingkatkan. Kendati mengalami peningkatan, radar saat ini sedang diteliti, ditinjau, dan diadu, tidak hanya keandalannya tetapi juga kualitas pelatihan operator.

Penggunaan radar pertama kali diunggulkan selama Perang Dunia II, yang dikembangkan Inggris untuk mengukur jarak, kecepatan, dan arah pesawat terbang musuh dan kapal selam. radar militer awalnya merupakan ketikan denyut yang dipancarkan isyaratnya pada interval. Jauhnya jarak benda dapat diukur dengan menghitung lamanya waktu yang dipakai oleh sinyal tersebut, berjalan ke objek, dan kembali ke penerima sinyal. Arah, di sisi lain, diukur dengan membandingkan sudut pengiriman isyarat tersebut dengan sudut kembalinya.

Radar polisi sekarang berbeda dari radar awal pengukur denyut nadi. Radar polisi menggunakan isyarat gelombang tetap untuk mengukur kecepatan atau gerak nisbi. Sebagai contoh, suatu isyarat dikirimkan dari pemancar, mengarah ke suatu obyek yang sedang bergerak, dan bagian dari isyarat mencerminkan kembali ke penerima dalam unit radar. Pergeseran atau perubahan isyarat frekuensi kemudian diukur dan dikonversi oleh unit ke dalam pembacaan cepat.

Radar polisi beroperasi menggunakan "Efek Doppler, dinamai menurut nama ahli ilmu fisika dari Austria tersebut Johan Doppler, yang menemukannya pada tahun 1842. Prinsip ilmiah frekuensi gelombang suara ini akan bervariasi sesuai dengan jarak antara pemancar dan penerima yang ditingkatkan atau dikurangi. Sebagai tambahan terhadap gelombang suara, efek ini berlaku juga bagi gelombang cahaya, gelombang radio, atau lainnya.

Radar Lalu lintas pada saat ini digunakan untuk memonitor kecepatan aktif yang memancarkan gelombang radio pada tingkat milyaran atau lebih per detik kepada dua frekuensi radar utama, X dan K. unit X radar memancarkan isyaratnya pada frekuensi 10.525 GHz (giga hertz) atau 10,525,000,000 gelombang per detik. Unit K radar memancarkan isyaratnya pada frekuensi 24.150 GHz atau 24,150,000,000 gelombang per detik. Kedua isyarat pergi dengan kecepatan cahaya atau 186,000 miles per detik.
Berkas cahaya yang mengenai obyek ayng dioperlukan akan dipantulkan kembali kepada penerima di frekuensi yang sama ditempat awal dipancarkan, dan tidak ada pengukuran kecepatan yang akan ditunjukkan. Bagaimanapun, suatu obyek yang bergerak kearah radar pemancar akan mengkompresi isyarat tersebut, menyebabkan frekuensi yang dikembalikan lebih tinggi. Suatu obyek yang bergerak menjauh akan menyebabkan isyarat yang panjang, dengan demikian isyarat tersebut akan kembali pada suatu frekuensi lebih rendah. Kemudian kejadian keduanya, akan terdapat suatu perubahan terbatas antara isyarat yang diterima dan dipancarkan, mewakili gerak nisbi yang akan mengakibatkan unit radar tersebut menunjukkan suatu pengukuran kecepatan kendaraan.

Berapa banyak perubahan diperlukan untuk pembacaan kecepatan yang terdaftar? Untuk setiap mil per jam dengan unit X Radar harus ada pergeseran frekuensi 31.4 gelombang per detik, sedangkan pergeseran frekuensi 72.0 gelombang per detik frekuensi unit K Radar. Perlu diingat bahwa radar polisi lalu lintas akan mendaftarkan suatu pengukuran kecepatan hanya ketika ada perubahan frekuensi antara isyarat yang dipancarkan dan dipantulkan yang disebabkan oleh gerak nisbi dari obyek yang mampu memantulkan isyarat radar.

Pada saat ini, apa yang menjadi patokan untuk radar dan pelatihan operator radar? Untuk memberi kita beberapa pengertian perspektif, kita perlu menguji keadaan peristiwa yang telah berlangsung di tingkatan pemerintah pusat tersebut.
Agustus 1977 National Highway Traffic Safety Administration (NHTSA) masuk dalam kesepakatan antarjawatan dengan National Bureau of Standards (NBS) dengan harapan kerja sama itu akan menghasilkan standar prestasi untuk alat pengukur kecepatan di kepolisian.

Selama tiga tahun ke depan, biro Standar nasional menguji baik radar yang dapat menunjukan tingkat pengukuran kecepatan dan yang tidak menunjukan pengukuran kecepatan dan pada November 1980 diperkenalkan suatu draft salinan standar prestasi untuk peralatan radar kepada NHTSA. Hasil kerja sama ini diterbitkan sebuah "Daftar Produk Berkualitas" dari peralatan yang tidak memenuhi atau yang melewati standar ini.

Pada 8 Januari 1981, NHTSA mengajukan proposal kepada Pemerintah pusat untuk meminta taksiran kebutuhan dan metode evaluasi alat pengukur kecepatan. Manfaat dari proposal ini akan terukur dalam kaitannya dengan spesifikasi yang pasti untuk digunakan oleh administrator dan pejabat pembelian. Juga diharapkan agar ada pemenuhan.standar itu akan menghasilkan radar berkualitas lebih baik, dan Pengadilan akan menerima bukti berdasarkan radar lebih baik karena peralatan yang lebih baik.
Bagaimanapun, pemilihan nasional (pemilu) membawa perubahan dalam filosofi administrasi pemerintah pusat dan ketika wakil NHTSA memasukkan proposal, "akan dipertimbangkan lebih lanjut". Satu pemberitahuan pengakhiran dari pembuat aturan dikeluarkan pada 19 November 1981, pendaftaran Pemerintah pusat. Tidak ada "Daftar Produk Berkualitas"; sebagai gantinya negara memberikan biro standar nasional dalam rangka mengadopsi spesifikasi mereka sendiri untuk peralatan radar. Jelaslah bahwa pengeluaran untuk standar tampilan radar dapat menjadi sebuah masalah yang mungkin menganjurkan penggunaan peralatan di bawah standar.

Pada Oktober 1982 Perkumpulan Internasional Pemimpin Polisi (IACP) membuat persetujuan dengan NHTSA dan Laboratorium Standar Pelaksanaan Hukum untuk riset radar dan program pengujian. Proyek ini dikerjakan untuk menentukan pemenuhan peralatan radar yang sekarang ini dijual dengan "Spesifikasi Capaian Model untuk Alat Radar Lalu lintas Polisi," yang terpasang permanen Pada Kantor Standar Nasional. Hasil Akhirnya adalah "Daftar Produk Konsumen" untuk membantu para anggota pelaksanaan hukum di seluruh negeri dalam membeli radar masa depan.
IACP dimohon dan menerima lebih dari lima puluh penawaran untuk menguji dokumen program organisasi mandiri. Setelah meninjau ulang secara seksama, mereka memilih perusahaan Dayton T. Brown, Inc., Bohemia, New York, dan Departemen Teknik Elektrik dan Sistem Ilmu pengetahuan, Universitas negara bagian Michigan.

Sepanjang tahap persiapan uji coba setiap laboratorium telah memberikan satu alat radar untuk diuji di depan para saksi teknis berkualitas dari NHTSA, Biro Standar Nasional, dan Perkumpulan Internasional Pemimpin Polisi. Hal itu dilaksanakan untuk memastikan bahwa personel laboratorium kompeten, peralatan uji sesuai, dan tes diselenggarakan dengan cara yang sesuai.

Pada Juni dan Juli 1983, laboratorium tes telah memeriksa semua unit radar dan selesai menguji 24 alat pada bulan Oktober. Dari penyelesaian tahap awal ini dilaporkan bahwa tidak satu pun dari unit radar benar-benar mematuhi spesifikasi pencapaian model tersebut.

Sebagai contoh, beberapa unit tidak ditemani operator manual, sertifikat penyetel garpu, atau bahkan menyetel garpu dengan benar; beberapa kegagalan dalam memenuhi kebutuhan label; lainnya tidak mencukupi dalam proses isyarat kepekaan saluran, keseimbangan frekuensi dalam kondisi dari kelembaban tinggi atau temperatur ekstrem, dan menayangkan keadaan yang dapat dibaca, yaitu, luminesensi dan tinggi kuantatif.
Terhadap hasil tersebut dan kekurangan lainnya, IACP kemudian membuat rekomendasi kepada NHTSA dan NBS untuk membolehkan pabrik pembuat radar tersebut untuk melakukan modifikasi yang diperlukan untuk membawa tiap unit ke dalam pemenuhan kebutuhan.
Rekomendasi ini telah diterima, tetapi bukan tanpa syarat tertentu untuk setiap pabrik yang harus dipenuhi. Rekomendasi itu secara permanen menyebutkan bahwa (1) modifikasi yang diperlukan untuk dilakukan kepada unit yang sama diuji sepanjang tahap awal, (2) modifikasi harus dibuat dengan kehadiran di laboratorium uji personel, (3) staf teknis NBS (diharapkan) untuk disiapkan dengan informasi apa pun tentang modifikasi sirkuit dalam rangka menentukan jika uji tambahan diperlukan, dan (4) pabrik pembuat radar diharapkan membayar uji tambahan apa pun untuk penyelesaian modifikasi. Semua pihak yang mengambil bagian sebagai pabrik pembuat radar setuju mematuhi kondisi-kondisi ini dan menyampaikan kembali unit mereka untuk tahap akhir uji coba, yang telah dilaksanakan pada Januari 1984.

Analisis akhir menunjukkan semua alat radar yang diuji dalam kondisi penuh dengan spesifikasi pencapaian model. Sebuah daftar dari tiap-tiap alat diterbitkan pada April 1984 oleh Perkumpulan Internasional Pemimpin Polisi dalam bentuk "Daftar Produk Konsumen". Bersamaan dengan ini, IACP juga menerbitkan penjelasan rinci tentang keseluruhan program uji dalam satu set dokumen ringkasan berjudul uji coba peralatan Radar Lalu lintas Polisi-bagian I dan II.
Pada tahun 1986, Program Uji IACP dan NHTSA telah dikembalikan lagi dan tiga model radar baru telah ditambahkan pada "Daftar Produk Konsumen," yang berisi persetujuan total terhadap 27 unit.

Administrasi Keselamatan Lalu lintas Jalan raya Nasional telah aktif pula dalam persiapan program pelatihan operator radar menyeluruh untuk digunakan di depan para petugas penegak hukum dan institusi pelatihan. Mereka merekomendasikan program 40 jam, yang mana dibagi-bagikan pada September 1982, yang terdiri dari 24 jam instruksi kelas dan 16 pengawasan aplikasi praktek. Program ini telah menjadi standar pelatihan untuk operator radar di seluruh dunia.

Tidak ada keraguan bahwa usaha kerja sama yang dilakukan oleh Administrasi Keselamatan Lalu Lintas Jalan raya Nasional, Biro Standar Nasional, dan Perkumpulan Internasional Pemimpin-Pemimin polisi dalam menguji radar polisi lalu lintas sudah memberikan banyak manfaat dan informasi yang dibutuhkan demi kepentingan semua petugas penegak hukum. Tanpa kebohongan, pemerintah mensponsori program uji radar, peningkatan peralatan, dan penetapan suatu program pelatihan standar yang mempunyai dampak positif kepada yaitu keandalan dan kredibilitas operator satuan unit.
Radar Lalu Lintas datang melalui proses yang panjang sejak awal pengenalan penggunaannya dalam kegiatan memonitor kecepatan. Radar saat ini lebih canggih secara teknologi dengan operator yang terlatih baik; bagaimanapun, kendati ini kemajuan, radar terlalu sering dikritik. Dengan mengabaikan kritik tersebut, terdapat kenyataan bahwa di Amerika Serikat, Radar Lalu lintas dan aplikasinya adalah suatu bagian menyeluruh dalam menyediakan keselamatan, efisiensi, dan sistem transportasi ekonomis untuk keseluruhan pergerakan publik.
Robert E.Nichols, Jr.

Daftar Pustaka
Basic Training Program in Radar Speed Measurement. Washington, DC: AS Department of Transportation, National Highway Trafic Safety Administraton, September 1982.
Field Strength Measurements of Speed Measuring Radar Units. Washington, DC: U.S Department of Transportation, National Highwat Traffic Safety Administration, June 1981.
Model Performance Specifications for Police Traffic Radar Devices. Washington, DC: AS Department of Transportation, National Highway Trafic Safety Administration, March 1982.
Nichols, Robert E, Jr. Police Radar: A Guide to Basic Undeerstanding. Springfield, IL: Charles C. Thomas, 1982.
___ "Police Radar: The State of the Art." Wincousin Law Enforcement Journal (Summer 1983).
___ "A 1984 Update on Police Traffic Radar." Winconsin Law Enforcement Journal (Summer 1984).
Police Traffic Radar. Washington, DC: AS Department of Transportation, National Highway Traffic Safety Administration, Februari 1980.
Testing of Police Traffic Radar Devices, Volume I-Test Program Summary. Gaithersburg, MD: International Association of Chiefs of Police, April 1984.
Testing of Police Traffic Radar Devices, Volume II-Test Data. Gaithersburg, MD: International Association of Chiefs of Policee, Mei 1984

* Kejadian 26 Juli 2009

1. Pengeroyokan

Waktu Kejadian : 25 Jli 2009 Pukul 22.30 Wib.
TKP : Diskotik Stadium Jl. Hayam Wuruk Kelurahan Maphar Kecamatan Taman Sari Jakarta Barat.
Korban : 1) Eri Kawai (40 th) 2) Yusf Gusti Leuwol (35 th) 3) Bulen H.
Pelaku : Sekitar 100 orang mengenakan pakaian dan ikat kepala berwarna putih.
Saksi : Rian (19 th).
Kronologis Kejadian : Terjadi keributan di TKP, Saksi mendapati korban Eri Kawai mengalami luka robek pada rusuk kiri dan tembus ke jantung, sedangkan korban Yusuf Gusti Leuwol dan Bulen H terkena sabetan senjata tajam hingga luka robek pada kepala belakang dan punggung. Ketiga korban selanjutnya dibawa ke RS. Bhakti Husada, namun korban Eri Kawai meninggal dunia dalam perjalanan ke Rumah Sakit Bhakti Husada dan selanjutnya jenazah korban dikirim ke RSCM untuk Otopsi.
Ditangani : Polsek Metro Taman Sari.

2. Perbuatan Tidak Menyenangkan

Waktu Kejadian : 22 Juli 2009 Pukul 15.30 Wib.
TKP : Taman Tebet Jakarta Selatan.
Korban : Deden Suhendi (39 th).
Pelaku: Wendi Cagur.
Kronologis Kejadian : Pelaku tiba-tiba memantik korek api kemudian pelaku memasukkan bara api tersebut ke dalam kaos yang dikenakan oleh korban sehingga koban mengalami luka pada punggung dan bokong.
Ditangani : Polres Metro Jakarta Selatan.

3. Penembakan Pelaku Pencurian Dengan Pemberatan


Waktu Kejadian : 25 Juli 2009 Pukul 01.30 Wib.
TKP : ATM BCA Jl. Bayar Kel. Keong Jaya Kec. Karawaci Tangerang.
Pelaku : Dar Cs.
Saksi : Anggota Polres Metro Tangerang.
Kronologis Kejadian : Saksi (Anggota Polres metro Tangerang) sedang observasi di TKP, kemudian melihat mobil mencurigakan, tiba-tiba mobil tersebut berjalan mundur dengan kecepatan tinggi sehingga tercebur ke sungai Cisadane yang di dalamnya terdapat pelaku pembobol mesin ATM BCA. Saat pelaku mengetahui keberadaan saksi lalu pelaku berusaha kabur. Kemudian oleh saksi diberikan tembakan peringatan namun tidak dihiraukan. Saksi mengeluarkan tembakan ke arah salah satu pelaku (Yan) dan meninggal dunia di TKP dengan luka tembak di bagian bawah ketiak kiri. Dua pelaku lainnya (Dar dan Fer) mengalami luka di bagian lutut kaki kanan dan kiri. Saksi juga menemukan salah satu pelaku (Alv) meninggal dunia karena terjepit di dalam mobil.
Barang Bukti : Toyota Kijang B-8223-YO.
Ditangani : Polres Metro Tangerang.

4. Pencurian Dengan Kekerasan Sepeda Motor


Waktu Kejadian : 24 Juli 2009 Pukul 23.00 Wib, Dilaporkan 25 Juli 2009 Pukul 01.00 Wib.
TKP : Perum Pondok Tanah Mas Rt. 09/05 Desa Wanasari Cibitung Kabupaten Bekasi.
Korban : M. Febrian Rizky (20 th).
Pelaku : 1) Cah (19 th) 2) Am
saksi : Mulyono (45 th)
Kronologis Kejadian : Pelaku 1) menumpang sepeda motor korban, tiba di TKP pelaku 1) berhenti dan meminjam HP korban. Tiba-tiba pelaku 2) datang dan mengarahkan pisau ke leher korban dan meminta sepeda motor korban. Ketika pelaku lengah, korban lari meminta bantuan warga sehingga pelaku 1) berhasil ditangkap warga sedangkan pelaku 2) berhasil melarikan diri dengan membawa kabur sepeda motor korban Suzuki B-6118-FNH.
Ditangani : Polsek Metro Cibitung.

25 Juli 2009

* Mobil Angkot Terbakar di Cawang Kompor

25-07-2009, 20:44 WIB
PUSKOMINFO - Sebuah mobil angkot jurusan Kampung Melayu-Kalibata terbakar di bawah Fly Over Jl. MT Haryono mengarah ke Jl. Dewi Sartika, Jatinegara Jakarta Timur.

Angkot bernopol B 1828 QO itu terbakar di Jalan Otto Iskandar Dinata (Otista) dekat Polsek Metro Jatinegara sekitar pukul 19.30 WIB.

Belum diketahui penyebab kebakaran angkot tersebut. Api segera dapat diatasi dan tidak menimbulkan kebakaran besar, hanya sebagian body angkot yang hangus. Jalan Otista pun sempat tersendat karena kejadian tersebut.

* Beberapa Ruas Jalan Rawan Ranjau Paku

25-07-2009, 20:21 WIB
PUSKOMINFO – Berdasarkan laporan beberapa petugas Polisi Lalu Lintas yang dihimpun TMC Dit Lantas Polda Metro Jaya, lokasi ruas jalan yang rawan ranjau paku di wilayah DKI Jakarta, antara lain:

Jakarta Barat:
1 Jalan S Parman dari RS Harapan Kita arah lampu merah Slipi (termasuk fly over Slipi).
2 Dari lampu merah Slipi ke arah Tomang.

Jakarta Selatan:
1 Fly Over Permata Hijau ke arah Pondok Indah (depan Masjid Istiqomah).
2 Dari William Mobil ke arah lampu merah Kostrad.
3 Jalan Prof Satrio (dari Mal Ambassador ke arah Jalan Casablanca).
4 Terowongan Casablanca (ke arah Mal Ambassador).

Jakarta Timur:
1 Jalan TB Simatupang (terutama dekat fly over Lenteng Agung dan ke arah Pasar Minggu).
2 Dari Menara Saidah ke arah perempatan Kuningan.
3 Jalan MT Haryono (terutama perempatan Patung Pancoran dan fly over Pancoran).

Jakarta Pusat:
1 Jalan Gatot Subroto hingga ke perempatan lampu merah Kuningan dan arah sebaliknya.
2 Jalan Majapahit (dari Tanah Abang menuju Harmoni).
3 Jalan Gatot Subroto dari depan Bank Mandiri sebelum Polda sampai Semanggi.
4 Jalan Jenderal Sudirman jalur lambat sekitar Semanggi.

Pengendara disarankan untuk berhati-hati ketika melewati jalan-jalan yang rawan ranjau paku. Selain itu TMC juga meminta partisipasi masyarakat yang melihat pelaku penebar paku agar menghubungi TMC di nomor 021-5276001 atau SMS 1717 supaya pelaku dapat segera ditangkap.

* White Collar Crime (Kejahatan Kerah Putih)

Istilah kejahatan kerah putih mengacu pada suatu kategori yang menggambarkan perilaku tidak sah yang sangat mendasar, dibedakan dari kejahatan “jalanan” atau “tradisional” seperti perampokan, pencurian, penyergapan, dan pembunuhan. Tidak ada pelanggaran KUU Pidana yang secara khusus memberi judul “kejahatan kerah putih,” selain penunjukan yang mencakup pelanggaran hukum yang berbeda, terutama delik pengaturan. Bentuk kejahatan kerah putih adalah perdagangan saham oleh orang dalam, konspirasi antitrust dalam pembatasan perdagangan, mengetahui pemeliharaan dari kondisi tempat kerja yang membahayakan kesehatan, dan penipuan oleh dokter terhadap program pemanfaatan medis. Ukuran yang digunakan untuk membedakan seseorang melakukan kejahatan kerah putih dari kejahatan lainnya adalah, bahwa tindakan yang dilaksanakan merupakan bagian dari peran jabatan yang dilanggar; suatu peran yang biasanya menempati dunia bisnis, politik, atau profesi (Green, 1990).

Istilah kejahatan kerah putih dikatakan oleh Edwin H. Sutherland, seorang profesor sosiologi di Indiana University, dalam posisinya sebagai ketua American Sociological Association Pada tahun 1939 (Sutherland, 1940). Monografi Sutherland, White Collar Crime, diterbitkan 10 tahun kemudian, memperoleh sedikit penghargaan internasional yang sejajar dengan sedikit acuan mengenai ilmu kejahatan lain. Hermann Mannheim (1965:170) menyatakan bahwa bila ada suatu hadiah Nobel untuk ilmu pidana, Sutherland niscaya mendapatkannya. White Collar Crime merupakan suatu pembeberan keras dan tegas, yang mendokumentasikan pelaku hukum oleh korporasi dan orang dalam eselon masyarakat bagian atas. Buku itu meremehkan teori populer perilaku jahat; seperti menyalahkan rumah tangga yang berantakan untuk kenakalannya, dengan menunjukkan bahwa penjahat kerah putih telah memperoleh pendidikan terbaik serta kemewahan dan perlakuan khusus. Mereka tidak menderita penyakit yang komplek atau pelatihan toilet penuh tekanan. Meskipun begitu, tidak diragukan bahwa mereka adalah pelaku kejahatan.

Telah dicatat bahwa tindak pidana biasa mempunyai kecenderungan untuk mempersatukan masyarakat. “Orang-orang yang “baik” dan “pantas” datang bersama-sama untuk menghukum penjahat yang umum. Mereka menguatkan kesanggupan mereka sendiri untuk penyesuaian diri, di samping belajar bahwa tindakan seperti itu dapat mendorong kearah hukuman penjara dan sakit. Penjahat kerah putih, pada sisi lain, mengancam integritas suatu masyarakat sebab mereka menyangsikan hak kekuasaan kehendak masyarakat sosial, dan mereka mengikis kepercayaan dan kesadaran hukum. Di samping mereka lebih mengakibatkan kejahatan dan kematian warga dibanding kejahatan jalanan. Pengelapan uang oleh petugas bank lebih banyak dibandingkan pencurian oleh perampok bank, banyak orang dibunuh oleh pembedahan yang tak perlu dibanding dibunuh oleh para pembunuh tradisional.

The Police and White-Collar Crimes (Polisi dan Kejahatan Kerah Putih)
Penegakan hukum melawan kejahatan kerah putih sebagian besar merupakan pekerjaan dari penyidik khusus yang dipekerjakan oleh badan pengatur. Usaha Penegakan yang sangat luas ada di tingkat federal, di tempat seperti Makanan Food and Drug Administration, Internal Revenue Service, Securities and Exchange Commission, dan Federal Trade Commission. Perhatian baru sudah memproduksi suatu pengembangbiakan lembaga federal, termasuk Office of Surface Mining, Environmental Protection Agency Occupational Health and Safety Agency, seperti halnya berbagai birokrasi federal yang memantau pabrik nuklir.

Di samping itu, berkembangnya sikap sinis tentang kejujuran yang mengikuti penanganan skandal Watergate dan perang Vietnam, banyak para badan pemerintah pusat sekarang dipantau oleh inspektur umum. Sering lembaga penegakan hukum terdahulu, siapa, dalam kata-kata dari mantan Presiden Reagan, “sekotor anjing pengawas barang loak.”

State, Local and Private Enforcement (Penegakan Negara Bagian, Lokal, dan Swasta)
Jawaban negara bagian terhadap kecurangan dalam praktik bisnis, profesional, dan politik kurang terdengar dibandingkan di tingkat pemerintah federal, terutama oleh karena sumber daya yang diperlukan untuk menyusun penyidikan dan penuntutan yang berhasil dan karena pemerintah federal lebih dulu menguasai bidang tersebut.

Banyak Negara selama beberapa dasa warsa yang lalu mendirikan Economic Crime Units (ECUs) untuk menghadapi kejahatan kerah putih. Unit ini cenderung memusatkan perhatian kepada kasus yang gampang dan cepat, seperti peningkatan rumah sebagai tempat judi dan penipuan asuransi mobil, alih-alih tindakan yang tidak sah dari organisasi bisnis yang kuat. Somers (1982:12), dalam satu pedoman penyidikan tindak pidana mengeluarkan empat keterampilan penting bagi pekerjaan itu: (1) akuntansi, (2) ilmu pengetahuan komputer, (3) kemampuan penyidikan yang maju, dan (4) pengetahuan hukum peraturan khusus mengenai tindak pidana ekonomi.

Setelah menguji pekerjaan ECUs Connecticut, Whitcomb et al. (1976) yang melaporkan ada enam macam kasus menerima perhatian utama: (1) yang melibatkan sejumlah besar korban atau sejumlah besar uang; (2) yang cenderung mempunyai suatu dampak penghalang yang utama; (3) yang kemungkinan besar akan sukses berdasarkan bukti yang dikumpulkan; (4) yang melibatkan pelanggaran serius terhadap undang-undang; (5) di mana penipuan nampak cenderung terulang; dan (6) yang mempunyai kemungkinan penggantian kerugian korban yang tinggi.

Pemolisian negara bagian dan lokal untuk kejahatan kerah putih sering beroperasi di bawah kendala menjengkelkan karena personel dan dana yang terbatas (Benson et al., 1988, 1990). Contoh pemolisian yang tak berdaya adalah pekerjaan yang ditugaskan pada Hector Vila, manajer distrik di El Paso untuk Texas Water Commission, lembaga penegakan hukum lingkungan negara bagian yang utama. Vila harus menjaga daerah yang meliputi 8.800 mil persegi, mencakup 100 mil Rio Grande antara Mexico dan Amerika Serikat. Ia mencoba untuk menghadang pengiriman limbah ilegal berbahaya yang diangkut melintasi perbatasan dari Amerika Serikat untuk dibuang ke Mexico, di samping menghalangi lalu-lintas yang sama yang bergerak ke utara. Di bawah hukum Mexico dan persetujuan internasional, limbah berbahaya dari barang yang diimport dari Amerika Serikat dan harus dikembalikan ke Amerika Serikat untuk dibuang. Pemusnahan limbah secara sah dapat berharga $1.000 tiap barrel untuk beberapa unsur; pelanggar hukum membuang material berbahaya dalam saluran pembuangan, tanah kosong, dan daratan padang pasir (Tomsho, 1992).

Kajian menunjukkan bahwa warga Amerika Serikat sudah prihatin terhadap kejahatan kerah putih seperti halnya terhadap tindak pidana jalanan. Cullen et al. (1982) menemukan dalam suatu survei bahwa pelaku yang dengan sadar menjual makanan tercemar dinilai lebih serius dibanding penyergapan, perkosaan secara paksa, atau menjual dokumen rahasia kepada pemerintah asing. Dengan cara yang sama, menyebabkan kematian seorang karyawan akibat kelalaian memperbaiki mesin dianggap lebih serius dibanding menganiaya dan menculik anak untuk minta tebusan. Survei lain menemukan contoh dari seorang kepala polisi Amerika memandang para penjahat kerah putih sebagai pelanggar hukum sama seperti masyarakat memandang mereka, sementara penyidik pemerintah federal memandang mereka lebih kejam lagi dibandingkan kepala polisi maupun kelompok warga (Pontell et al., 1983).

Pada tingkat lokal, ada suatu kebutuhan untuk menetapkan sensitivitas terhadap penjahat kerah putih di antara petugas patroli. Beberapa ECUs sudah menghasilkan format laporan untuk digunakan kapan saja hubungan komunikasi atau kendaraan regu petugas penolong: menghadapi apa yang nampak seperti penjahat kerah putih. Britnall (1978) mencatat suatu kasus di Los Angeles di mana seorang petugas patroli mengamati suatu perkelahian tidak biasa antara pemilik dan sejumlah besar pelanggan di suatu toko perbaikan mobil, dan mencurigai bahwa pemilik sibuk dengan aktivitas curang. Los Angeles mempunyai suatu regu detektif khusus untuk menangani laporan seperti itu, tetapi dalam kebanyakan yurisdiksi, Britnall menegaskan, petugas hanya mengarsipkan laporan dugaan penipuan satu kali sebab belajar bahwa selanjutnya tidak akan terjadi apa-apa.

Pada sisi lain, suatu kajian di Inggris menunjukkan bahwa banyak polisi menganut ide egalitarianism. Subjek wawancara sering menceritakan kepada Reiner (1972:219) bahwa mereka akan menikmati pengambilan tindakan terhadap seorang anggota kaum atas jika kesempatan muncul. “Tidak ada yang dapat memberikan aku kesenangan yang lebih besar dibanding menjadi mampu menangkap Lord Mayor,” kata seorang polisi.
Di samping polisi negara bagian dan polisi lokal, ada juga sejumlah besar penyidik swasta yang secara khusus terlibat dalam penangkapan penjahat kerah putih yang terbukti melawan perusahaan yang mempekerjakan mereka. Arena pekerjaan ini dikatakan “salah satu bidang profesional yang tumbuh paling cepat di tahun 1990-an,” dan banyak polisi yang disumpah cenderung mengundurkan diri di usia relatif muda, membuat karir kedua di pekerjaan keamanan swasta (Mannix et al., 1991:97). Petugas enegakan swasta dikenaldenan berbagai nama, seperti pemeriksa penipuan, auditor penipuan, dan akuntan forensik. National Association of Certified Fraud Examiners, yang didirikan tahun 1988 dan bermarkas besar di Austin, Texas, sekarang mempunyai 7.000 anggota dan menawarkan kursus pelatihan di seluruh negara tentang bagaimana cara berhadapan dengan pelanggaran seperti korupsi, penipuan, klaim palsu, penipuan melalui pos dan telegram, pencucian uang, penyuapan dan pembayaran kembali, dan penipuan kontrak dan pengadaan.

The Federal Response (Tanggapan Pemerintah Federal)
Meningkatnya fokus penegakan hukum terhadap kejahatan kerah putih telah ditegaskan oleh keputusan Federal Bureau of Investigation awal tahun 1980 untuk menurunkan usaha menangkap penjahat seperti perampok bank dan transportasi kendaraan antarnegara bagian (penjahat Dyer Act) dalam upaya berkonsentrasi lebih intensif kepada penipuan, korupsi, dan pelanggaran undang-undang federal untuk mengendalikan perilaku unsur masyarakat yang semakin “terhormat.” FBI telah disengat oleh tuntutan bahwa itu adalah “hal yang mudah dalam bangunan pidana” dan bahwa gagasan kejahatan kerah putih adalah “kesejahteraan yang menipu dan contoh lain dari... penipuan skala kecil individu melawan pemerintah” (Wilson, 1980:8"9). Rangking penegakan yang dibentuk oleh Departemen Kehakiman sekarang memberi keunggulan untuk tindakan seperti “tindak pidana melawan pemerintah oleh pejabat publik, termasuk korupsi di tingkat federal, negara bagian, dan lokal,” dan “kejahatan terhadap konsumen, termasuk menipu konsumen, pelanggaran terhadap monopoli industri, pelenggaran terhadap penetapan harga bahan bakar dan tindakan ilegal terkait (U.S. Department of Justice, 1980).

Hasil penyusunan kembali prioritas FBI terutama secara nyata sengatan (sting) “Abscam” yang mencolok, di mana dua petugas yang berpakaian pelaku bisnis Arab menggoda politikus dengan penawaran tunai untuk membantu mengamankan sertifikat kasino. Sengatan tersebut mengarahkan hukuman kepada sejumlah pejabat lokal, beberapa anggota kongres, dan satu senator Amerika Serikat. Sesudah itu FBI meluncurkan “Greylord Operation” yang membongkar korupsi dalam sistem pengadilan di Cook County, Illinois, dan mengakibatkan dakwaan terhadap sekitar 90 hakim, pengacara, dan pejabat pengadilan. Sengatan FBI di South Carolina—yang ini disebut “Operation Lost Trust” tetapi dijuluki “Bubbagate”—yang menangkan 10 anggota legislatif yang menerima suap, sementara operasi “Ascam” yang sama di Arizona menghasilkan dakwaan terhadap 17 orang, termasuk 7 anggota legislatif (Sykes dan Cullen, 1992:269).

Regulatory Policing Styles (Gaya Pengaturan Pemolisian)
Kajian terhadap penyidik badan pengaturan menemukan perbedaan antara kinerja mereka dengan kinerja petugas penegak hukum yang bekerja pada tindak pidana jalanan. Inspektur pengaturan, terutama sekali jika mereka mempunyai pelatihan ilmiah (dan banyak polisi terdahulu mengambil kursus khusus ketika mereka masuk pekerjaan pengaturan), yang berpikir bahwa mereka lebih sebagai tenaga ahli teknis daripada polisi. Penegakan ini hampir sama dengan petugas patroli yang memandang pekerjaannya sebagai pelayanan jasa sosial alih-alih sebagai kegiatan pengendalian tindak pidana. Perkiraan mengenai peran “tenaga ahli teknis” yang ramah mengizinkan seorang penyidik untuk membangun hubungan yang saling menguntungkan satu sama lain dengan organisasi bisnis. Masih diragukan bahwa perusahaan akan memberikan informasi kepada penyidik berbagai kesulitan alih-alih mencoba untuk menutupinya, sehingga memungkinkan perbaikan cepat dan meningkatkan perlindungan publik. Seperti laporan Richardson et al. (1982:96"97) mengenai gaya penegakan ini: “Mayoritas petugas dari semua golongan percaya bahwa kendali tidak dapat dicapai tanpa kerja sama dengan industri dan mereka secara bersemangat mendukung pendekatan yang kooperatif dan akomodatif untuk penegakan dalam suatu pertentangan kebijakan.

Atas dasar suatu survei literatur terhadap gaya penegakan, Frank (1984:237) melaporkan dengan sedikit pengecualian “kajian... mengungkapkan jumlah yang lebih besar tentang orientasi pembujukan para agen.” “Gaya pemenuhan yang dipaksakan” dari kendali pengaturan (Shover et al. 1986), bagaimana pun, digunakan hampir secara universal melawan pelaku yang telah diberi label “kalkulator amoral “ (Kagan dan Scholz, 1983:67"68), dan ketika, sebagaimana dinyatakan dua penulis Australian, “masyarakat memperhatikan darah di lantai dan berharap dilakukan tindakan untuk menandakan kebutuhan untuk mematuhi hukum.” Penuntutan, menurut mereka “adalah sesuatu untuk kepentingan orang luar” (Braithwaite dan Grabosky, 1985:53).

Inspektur yang berorientasi aturan, berlawanan dengan mereka lebih menyukai bujukan, secara rutin mengeluarkan kutipan untuk setiap pelanggaran yang mereka amati. Mereka memperkecil strategi negosiasi, seperti konsultasi dan tawar-menawar. Kebanyakan penelitian menunjukkan bahwa gaya pemenuhan penegakan yang ekstrim ini, meski menunjukkan keuntungan jangka pendek dalam pemenuhan, menderita untuk jangka panjang sebab bisnis tidak pernah mengembangkan komitmen penyesuaian. Stone (1975:104) berpendapat bahwa, “Suatu jaringan aturan dan peraturan, yang didukung oleh ancaman proses pengadilan, mencurigai keturunan, pemusnahan dokumen, dan suatu sikap yang “Aku tidak ingin melakukan apa pun lebih daripada yang harus aku lakukan.“ Juga diragukan bahwa penyidik, tidak seperti polisi jalanan, membutuhkan fleksibilitas taktis, dalam susunan situasi rumit yang harus dihadapi. Bisnis yang sangat teratur dapat menemukan pelaku atas satu atau bermacam pelanggaran lain jika seorang inspektur memilih untuk keras kepala terhadap perannya; inspektur, meski diragukan, harus menggunakan kekuasaan mereka dengan baik, dengan cara imbalan dan hukuman (carrot and stick), untuk mencapai hasil terbaik mereka (Shover et al., 1986).

Penyidik secara khas mempertahankan pengawasan yang tajam terhadap suasana dan etos lembaga penuntutan. Pengacara distrik dan federal cenderung enggan memberantas kejahatan kerah putih yang rumit. Untuk satu hal, kasus ini menuntut pengetahuan teknis yang memerlukan sangat banyak waktu untuk menguasainya. Kejahatan itu juga cenderung menghabiskan banyak waktu dan kurang menonjol dibandingkan kasus besar narkoba besar atau tindak pidana kekerasan yang dramatis. Ditambah lagi, terdakwa sering mempunyai dana yang kuat dan mampu membayar pengacara pembela yang canggih. Pengacara ini dapat mengulur pemeriksaan, memukau pengadilan dengan gerakan, memerintah sumber daya, seperti para saksi ahli, yang akan menaklukkan seorang jaksa penuntut umum yang tidak berpengalaman dan beranggaran terbatas (Jesilow et al., 1993).

Wilson. (1981:173) menekankan bahwa untuk tindak pidana ekonomi, dibandingkan tindak pidana jalanan, “ada keharusan mutlak untuk menyatukan jaksa penuntut umum dalam usaha penyidikan sejak awalnya. Hal ini mungkin merupakan aspek tunggal yang paling penting dalam menyelidiki suatu tindak pidana ekonomi yang kompleks.” Jaksa penuntut tersebut, Wilson menunjuk, harus secara terus-menerus meneliti fakta, mengubah teori penuntutannya jika perlu, dan mengarahkan kembali upaya penyidikan. Seperti catatan dua penulis lain:

Penyidikan tindak pidana ekonomi cenderung memakan waktu lama, untuk diungkapkan kepada sasaran yang dimaksud sebelum ada dakwaan, dan untuk melibatkan sejumlah hubungan yang tidak sesuai dengan kebiasaan antara pemerintah dan mereka yang sedang diperiksa. Akibatnya, pengacara terdakwa tampaknya bertindak atas nama sasaran lebih cepat dibandingkan dalam kasus biasa. Ini membuat langkah kerja penyidikan proses tindak pidana menjadi penting sekali. (Wilson dan Mac, 1977:713).

Penegakan hukum kejahatan kerah putih sering memerlukan kerja sama antara sejumlah anggota kepolisian, banyak yang menjadi masalah kecemburuan kerja, hasrat ingin dipublikasikan, dan kebutuhan untuk ikut bertanggung jawab. Untuk menyelesaikan pekerjaan kolaboratif, Wilson (1981) mencatat, diperlukan suatu jumlah besar diplomasi; ia percaya pentingnya “diberi pengakuan sebanding dengan masing-masing sumbangan para anggota.” Kajian kasus antaranggota penyidikan yang bekerja meliputi kejahatan kerah putih kajian Vaughan (1983) terhadap apotik Revco sebagai rangkaian pelanggaran dari Medicaid Law di Ohio, dan kajian Pontell dan Calavita (1993) penelusuran jejak penjahat uang terlibat dalam skandal tabungan dan pinjaman perbankan.

Suatu masalah khusus berhubungan dengan pekerjaan polisi melawan kejahatan kerah putih adalah pentingnya mengambil suatu pendirian proaktif alih-alih suatu cara reaktif. ECUs, sebagai contoh, pada mulanya secara khas menggunakan taktik proaktif untuk menemukan pelaku, tetapi ketika mereka mulai dikenal dan menerima keluhan warga, mereka mengalokasikan hampir semua sumber daya mereka untuk menanggapi keluhan. Usaha proaktif tetap perlu, bagaimana pun, sebab kebanyakan korban tidak pernah diketahui oleh mereka yang sangat kekurangan atau luka; mereka pada umumnya tidak menyadari bahwa udara kotor dalam pabrik sedang meracuni paru-paru mereka, orang dalam sedang merampok nafkah mereka melalui surat kas, mark-up ilegal sedang memakan anggaran mereka, dan produk farmasi yang dipalsukan meruntuhkan kesehatan mereka. Bantahan dalam hal ini adalah bahwa penggunaan “kemudahan tersembunyi” (yakni, pekerjaan menyamar seperti operasi sengatan Abscam) sangat penting untuk penegakan hukum yang memuaskan terhadap kejahatan kerah putih (Braithwaite, Fisse dan Gels, 1987).

Sebagaimana dicatat oleh Scotland dan Dalhart (1989), pekerjaan menyelidiki kejahatan kerah putih dapat menawarkan tugas penegakan hukum yang lebih menarik karena penjahat kerah putih sering dihalangi oleh penangkapan dan hukuman, tidak seperti kegagalan pintu-putar di kebanyakan pekerjaan polisi melawan penjahat jalanan. Pemolisian kerah putih, yang juga mereka tunjukkan, dapat menyediakan suatu tantangan intelektual dengan menghilangkan pekerjaan polisi.

Suatu proposal untuk mendirikan National Academy of White Collar Crime telah ditindaklanjuti oleh Douglas (1978). Di antara tugas-tugasnya, akademi akan menyiapkan penyidik untuk menangani tindak pidana “yang direncanakan di ruang rapat dewan dan makan siang di klub.” Pejabat penegak hukum jua mulai menuntut hukuman yang lebih keras bagi penjahat ekonomi. Sebagaimana mantan Jaksa Agung Richard L. Thorn Burgh menyatakan perihal tersebut: “Kita harus menjamin bahwa pengadilan “buta terhadap kerah” seperti halnya “buta berhadap warna.”
Gilbert Geis

Daftar Pustaka
Benson, Michael L. et al. “District Attorneys and Corporate Crime: Surveying the Prosecutorial Gatekeepers.” Criminology 26 (1988):505”518.
______. “Local Prosecutors and Corporate Crime.” Crime and Deliquency 36 (1990):356"372.
Blumberg, Paul. The Predatory Society: Deception in the American Marketplace. New York: Oxford University Press, 1989.
Braithwaite, John. Corporate Crime in the Pharmaceutical Industry. London: Routledge and Kegan Paul, 1984.
Braithwaite, John dan Peter Grabosky. Occupational Health and Safety Reinforcement in Australia: A report to the National Health and Safety Commission. Canberra: Australian Institute of Criminology, 1985.
Braithwaite, John, Brent Fisse dan Gilbert Geis. “Convert Facilitation and Crime: Restoring Balance to the Entrapment Debate.“ Journal of Social Issues 43 (1987):5”41, 101"122.
Britnall, Michael A. “Police and White Collar Crime.” Policy Studies Journal 7 (1978):431"436.
Cullen, Francis T. et al. “The Seriousness of Crime Revisited.“ Criminology 20 (1982):88"102.
Douglas, Cathleen H.” White Collar Crime: Proposed Solution.” Police Law Quarterly 7 (1978):11"18.
Frank, Nancy. “Policing Corporate Crime: The Typoligy of enforcement styles.” Justice Quarterly 1 (1984):235"251.
______. Crimes againts Health and Safety. Albany, NY: Harrow and Heston, 1985.
Green, Gary S. Occupational Crime. Chicago: Nelson Hall, 1990.
Jesilow, Paul et al. Prescription for Profit: How Doctors Defraud Medicaid. Berkeley: University of Californioa Press, 1993.
Kagan, Robert dan John Scholz. “The ‘Criminology’ on the Corporation and Regulatory Enforcement Strategies.” Enforcing Regulation. Keith Hawkins dan John M. Thomas (ed.). Boston: Kluwer –Nihjoff, 1983:67"95
Mannheim, Hermann. Comparative Criminology. London: Routledge and Kegan Paul , 1965.
Mannix, Margaret et al. “Best Jobs for the Future: Salary Surveys.” U.S. News and World Report (11 November 1991):88"100.
Pontell, Henry N. dan Kitty Calavita. ”Organizational Crime in the Savings and Loan Industry.” Crime and Justice. Michael Tonry dan Albert J. Reiss, Jr. (ed). Chicago: University of Chicago Press, 1993.
Pontell, Henry N. et al. “White Collar Crime Seriuousness Assessments by police Chiefs and Regulatory Agency Investigators.” American Journal of Police 3 (1983):1"16.
Reiner, Robert. The Blue-Coated Worker: A Sociologycal Study of Police Unionism. Cambridge: Cambridge University Press, 1978.
Richardson et al. Policing Pollution: A Study of Regulation and Enforcement. Oxford : Clarendon Press, 1982.
Shover, Neal et al. Enfocement or Negotiation: Constructing a Regulatory Bureaucracy. Albany: State University of New York Press, 1986.
Sommers, Leigh E. Economic Crimes: Investigative Principles and Techniques. New York: Clark Boardman, 1982.
Stone, Christopher D. Where the Law Ends: The Social Control of Corporate Behaviour. New York: Harper Colophon, 1975.
Stotland, Ezra dan Herbert Edelhertz. “White Collar Crime, Police Responses To.“ The Encyclopedia of Police Science. William G. Bailey (ed.). New York: Garland, 1989:672”77.
Sutherland, Edwin H. “White Collar Criminality.” American Sociological Review 5 (1940):1"12.
______. White Collar Crime. New York: Drydeen, 1949.
Sykes, Gresham M. dan Francis T. Cullen. Criminology. Edisi ke-2. Orlando, FL: Harcourt Bracee Jovanovich, 1992.
Sszockyj, Elizabeth. Insider Trading and the Law: In Search of a level Playing Field. Bufallo, NY: William S. Hein, 1993.
Tomsho, Robert. “Environmental Posse Fight a Lonely War along the Rio Grande,” Wall Street Journal (Western Ed.) (10 November 1992) : A1, A12.
U.S. Deparment of Justice. National Priorities of for the Investigation and Prosecution of White Collar Crime. Washington, DC: Office of the Attorney General, 1980.
Vaughan, Diane. Controlling Unlawful Organizational Behaviour: Social Structure and Corporate Misconduct. Chicago Press, 1983.
Whitcomb, Debra et al. An Exemplary Project: Conneticut Economic Crime Unit. Washington, DC: National Institute of Law Enforcement and Criminal Justice, U.S.Department of Justice, 1976.
Wilson, George E. Economic Crime. Albany, NY: Bureau of Prosecution and Defense Services. Execuive Office, 1981.
Wilson, James Q. ”The Changing FBI: The Road to Abscam.” Public Interest 26 (1980):3"14.
Wilson, Steven W. dan A. Howard Matz. “Obtaining Evidene for Federal Economic Crime Prosecutions: An Overview and Analysis of Investigative Methods.” American Criminal Law Review 14 (1977):651"716.

* SIM DAN STNK KELILING

WILAYAH LOKASI
JAKARTA PUSAT Lokasi : SIM & STNK :Gambir Expo Kemayoran
JAKARTA TIMUR SIM & STNK : Depan Swalayan Makro Pasar Rebo
JAKARTA UTARA Samsat Keliling Jakarta utara megamall Puit ,untuk SIM keliling Jakarta utara tidak beroperasi (bisa pelayanan di lokasi SIM jakarta pusat )
JAKARTA BARAT SIM : Di SPBU Jl. Raya Joglo STNK : Di Carrefour Puri Indah Kembangan

Informasi dari TMC Dit. Lantas Polda Metro Jaya untuk hari Sabtu (25/7) ini SIM dan SAMSAT keliling beroperasi dari Pkl. 08.00 – 12.00 WIB.

* KEJADIAN 25 JULI 2009

1. KEBAKARAN
Waktu kejadian : Tanggal 24 Juli 2009 Pkl. 11.00 Wib
Tkp : Restoran Swikee Purwodadi Gloris Jl. Hibrida Raya Blok QG rt. 10/18 Kelapa Gading Barat.
Korban : Hartanto, Al. Jl. Boulevard Raya TA 2/9 Kelapa Gading Jakut.
Saksi : Budi santoso, 32th, Karyawan, Al. TKP.
Kronologis Kejadian : Api membakar plafon dapur yang berada di lantai 2 berikut meja kompor yang terbuat dari kayu. Api diduga berasal dari kompor gas yang habis dipakai oleh saksi untuk menggoreng kodok. Selanjutnya api berhasil dipadamkan jam 11.20 Wib dengan menggunakan 6 unit mobil DPK.
Kerugian : belum dapat ditaksir.
Ditangani : Sektro Kelapa Gading.

2. PENEMUAN MAYAT
Waktu kejadian : Tanggal 24 Juli 2009 Pkl. 06.30 Wib
Tkp : Gg. Awab Rt.11/01 No. 20 Jatinegara jaktim.
Korban : Geed Manjes tamudia, 70th, Al. Jl. Enim No. 86 Rt. 09/03 Sungai Bambu Tj. Priok Jakut.
Saksi : Ezon Zaqwa, 27th, Wiraswasta, Al. TKP.
Kronologis Kejadian : Korban ditemukan MD dengan posisi tergeletak di teras rumah milik saksi. Ciri-ciri korban berambut lurus, berhidung mancung, kulit sawo matang, tinggi + Cm dengan menggunakan pakaian kaos warna biru, celana hitam, jaket warna hitam. Ditubuh korban tidak ditemukan tanda-tanda penganiayaan, korban MD diperkirakan karena sakit. Selanjutnya korban dibawa ke RSCM.
Ditangani : Sektro jatinegara.

24 Juli 2009

*PHRI (Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia)


Pagi tadi PHRI (Perhimpunan Hotel & Restoran Indonesia) menghimbau kepada anggotanya untuk meningkatkan keamanan dilingkungannya masing-masing dan berkoordinasi dengan aparat keamanan. PHRI akan berkoordinasi dengan POLRI untuk melaksanakan program peningkatan keamanan di hotel & Restoran serta mengevaluasi fasilitas pengamanan (CCTV, Alat Ditektor dan SDM yang melaksanakannya).

* MENGHEMAT BATERAI BLACKBERRY

KapanLagi.com - Daya baterai Blackberry memang tidak bisa diandalkan. Namun itulah resiko yang harus dihadapi oleh sebagian besar ponsel pintar, termasuk Blackberry.

Untuk mengantisipasinya, terdapat beberapa tip yang bisa Anda gunakan agar Blackberry Anda lebih tahan lama:

1. Matikan beberapa fitur yang tidak digunakan seperti wifi dan bluetooth.

2. Tingkat keterangan layar bisa diatur ke tingkat yang paling rendah.

3. Pengaturan backlight time out secepat mungkin.

4. Ketika handheld tidak digunakan, ada baiknya aktifkan standby mode.

5. Pilih salah satu network saja sebagai 'jalan' untuk Blackberry beroperasi (bisa 3G atau 2G saja). Jika berada di wilayah yang tidak terdapat sinyal jaringan, jangan ambil resiko. Matikan saja Blackberry Anda karena secara otomatis perangkat Anda akan melakukan pencarian sinyal. Hal inilah yang semakin menyedot banyak tenaga baterai.

6. Penggunaan nada dering memang sangat menarik. Namun adakalanya nada dering digunakan bersamaan dengan fitur getar. Penggunaan keduanya disinyalir membutuhkan daya baterai yang cukup besar. Oleh karena itu, ada baiknya jika Anda menggunakan satu fitur saja, nada dering atau getar saja.

7. Jika Anda sudah menggunakan ringtone atau nada getar saja, penggunaan LED indicator sepertinya tidak terlalu berpengaruh di Blackberry. Oleh karena itu, jika LED indicator diposisikan dalam keadaan off maka proses ini dapat membuat baterai lebih irit.

8. Ada baiknya jika Anda mengatur email dan sms yang masuk ke dalam perangkat. Diprediksi, kuantitas akses informasi yang masuk ke Blackberry akan mempengaruhi daya tahan baterai. Semakin banyak email/sms yang masuk maka semakin cepat baterai Blackberry tersebut mengalami low.

9. Setel perangkat BlackBerry Anda untuk hidup dan mati secara otomatis.

10. Jagalah kebersihan sambungan baterai. Setiap beberapa bulan, gunakan pembersih telinga atau kain kering untuk membersihkan kontak logam pada baterai dan perangkat.

11. Hapus pesan asli bila Anda mengirim balasan.

12. Kirim pesan ke beberapa kontak sekaligus menggunakan Tambah Ke, Tambah Cc, atau Tambah Bcc.

13. Matikan lampu kilat (flash) di kamera.

14. Tutuplah aplikasi pihak ketiga dari menu aplikasi bila Anda selesai menggunakannya.

15. Ubah opsi browser Anda untuk grafik animasi agar tidak sering diulang pada halaman web.

Intinya, semakin sering Anda mengoperasikan Blackberry kesayangan maka Anda juga harus mau menghadapi resiko baterai cepat terkuras. Tetapi resiko baterai cepat low juga dialami oleh hampir semua smartphone. Untuk mengatasi hal ini, ada baiknya jika Anda selalu menyediakan baterai cadangan yang sudah terisi penuh, untuk menghindari perangkat ini mati di tengah Anda mengerjakan pekerjaan kantor. (indosat/cax)

* LOKASI SIM DAN STNK KELILING

WILAYAH LOKASI
JAKARTA PUSAT Lokasi : SIM & STNK :Gambir Expo Kemayoran
JAKARTA TIMUR SIM & STNK : Depan Swalayan Makro Pasar Rebo
JAKARTA UTARA Samsat Keliling Jakarta utara megamall Puit ,untuk SIM keliling Jakarta utara tidak beroperasi (bisa pelayanan di lokasi SIM jakarta pusat )
JAKARTA BARAT SIM : Di SPBU Jl. Raya Joglo STNK : Di Carrefour Puri Indah Kembangan

Informasi dari TMC Dit. Lantas Polda Metro Jaya untuk hari Sabtu (25/7) ini SIM dan SAMSAT keliling beroperasi dari Pkl. 08.00 – 12.00 WIB.

*Identitas Pelaku Bom Bunuh Diri

* KEJADIAN 24 JULI 2009

1. PENGEROYOKAN
Waktu kejadian : 23 Juli 2009 Pkl. 14.30 Wib
Tkp : Duri Pulo II No. 31 Jakpus.
Korban : A Djin, 55th, Al. TKP.
Saksi : Asui, 62th.
Pelaku : AN dan YT.
Kronologis Kejadian : Pelaku dan korban tinggal di TKP. Saksi selaku pemilik kst melihat para pelaku memukuli korban secara bersama-sama dengan menggunakan sandal dan tangan kosong sehingga menyebabkan korban mengalami luka pada wajah dan pendarahan pada hidung serta telinga.
Ditangani : Sektro gambir.

2. PENGEROYOKAN
Waktu kejadian : 23 Juli 2009 Pkl. 15.30 Wib
Tkp : Jl. Katini Raya Jakpus.
Korban : Deden Irwansyah, 17th, Al. Jl. Galur Selatan Rt. 03/03 Jakpus.
Saksi : Nining Nurbaiti.
Pelaku : Lidik.
Kronologis Kejadian : ada saat korban hendak pulang sekoah, tiba-tiba pelaku mengeroyok korban dengan menggunakan senjata tajam sehingga korban mengalami luka pada bagian kepala bagian belakang. Korban dibawa ke RS. Husada.
Ditangani : Sektro Sawah Besar.

3. PENCURIAN DENGAN KEKERASAN
Waktu kejadian : 23 Juli 2009 Pkl. 04.15 Wib
Tkp : Kawasan Kobe Kp. Pegaulan Rt. 11/02 Sukaresmi Cikarang Selatan bekasi.
Korban : Umi Wardatun, 20th, Al. Gembat Padas Rt. 14/04 Cemolong.
Pelaku : YN dan AD.
Saksi : Mutaqin.
Kronologis Kejadian : Pelaku masuk kedalam TKP dengancara merusak dan mencongkel jendela lalu mengambil 2 unit HP dan uang tunai. Lalu pelaku membekap mulut dan leher korban lalu melarikan diri. Pelaku AN. YN berhasil diamankan oleh warga sedangka pelaku lainnya berhasil melarikan diri.
Ditangani : Sektro Cikarang Selatan.

23 Juli 2009

PERKEMBANGAN PERISTIWA PELEDAKAN BOM DI HOTEL JW. MARIOT DAN RITZ CARLTON



oleh Kabid Penerangan Umum Mabes Polri

1.PERKEMBANGAN HASIL IDENTIFIKASI DVI POLRI TELAH BERHASIL MENGIDENTIFIKASI 1 DARI 4 JASAD YANG BELUM TERIDENTIFIKASI, YAITU ATAS NAMA Mrs. EJC KEANING WARGA NEGARA BELANDA SEDANGKAN UNTUK 3 (TIGA) JASAD MASIH DALAM IDENTIFIKASI LANJUT OLEH TIM DVI.

2.TIM DVI POLRI SEDANG MEMERIKSA BARANG-BARANG MILIK PENGHUNI KAMAR 1002 HOTEL RITZ CARLTON A.N. MR. PETER BURER DAN Mrs. EJC KEANING ; BERUPA PISAU CUKUR, TOPI, RAMBUT, SIKAT GIGI, DLL YANG DIMUNGKINKAN ADA BEKAS-BEKAS YANG DAPAT DICOCOKAN DENGAN PROFILE DNA TERHADAP JASAD YANG DIDUGA SEBAGAI MR. PETER BURER. DISAMPING ITU DVI JUGA MASIH MEMERLUKAN ANTE MORTEM YANG BERSANGKUTAN.

3.DENGAN DITEMUKANNYA FAKTA BAHWA KEDUA JASAD YANG SEMULA DIDUGA SEBAGAI NURDIN HASBI DAN IBRAHIM KEMUDIAN DARI HASIL TEST DNA OLEH DVI TERNYATA HASILNYA NEGATIF, MAKA TERKAIT ASUMSI DUGAAN PENGHUNI KAMAR 1808 JW. MARIOT A.N. INISIAL “N” SEBAGAI PELAKU PEMBOMAN YANG TELAH DILANSIR BERBAGAI MEDIA SELAMA INI, SAMPAI SAAT INI MASIH MENJADI BAHAN PENDALAMAN OLEH TIM PENYIDIK.

4.RESPON MASYARAKAT KE. NOMOR TLP. 021-7256586 POSKO BOM, SAMPAI SEKARANG TERCATAT BARU 15 (LIMA BELAS) PENELPON YANG PADA INTINYA MEMBERI MASUKAN ANTARA LAIN ;

-MENGINFORMASIKAN BAHWA SKETSA WAJAH YANG DISEBARKAN POLRI, MEMANG BENAR ITU MIRIP WAJAH IBRAHIM DAN NURDIN.
-MENGINFORMASIKAN BAHWA GAMBAR SKETSA WAJAH YANG DISEBARKAN POLRI MIRIP DENGAN ORANG YANG AKAN BEPERGIAN KE LUARNEGERI.
-MEMBERI DUKUNGAN KEPADA POLRI UNTUK TERUS MENGUNGKAP KASUS INI SAMPAI TUNTAS

Pemuka agama di Jakarta berkumpul Di Jakarta Media Center untuk menyatakan sikap dan mengecam aksi teror bom di Hotel JW MARRIOT dan Hotel RITZ CARLTON yang mengakibatkan beberapa orang tewas dan beberapa orang lainnya luka-luka.

Pembicara :
1. KH Mundzir Tamam ( ketua MUI Jakarta )
2. Habib Abdurahman Al-Habsy ( Pimpinan Islamic Center Indonesia )
3. Habib Ali Bin Abdurrahman Assegaf ( Pimpinan Majelis Ta'lim Al Affaf )
4. Habib Mundzik Al Musawa ( Pimpinan Majelis Rasulullah SAW )
5. KH. Syaifuddin Amsir ( Pimpinan Majelis Dzikir Jakarta )
6. KH. Maulana Kamah Yusuf ( Pembina Forum Ulama Habib Betawi )
7. KH. Mahfuds Asirun ( Pimpinan pondok pesantren Al Itkon )
8. Pendeta Richard Daulay ( Sekretaris Jendral Persatuan Gereja Indonesia )
9. Biksu Eka Wimsati Wirya ( Perwakilan Umat Budha Indonesia )
10.Biksu Sapta Wiry ( Perwakilan Umat Budha Indonesia ).
(Bub/PJKA/KOER)

* KEJADIAN 23 JULI 2009

1. PENCURIAN DENGAN KEKERASAN
Waktu kejadian : Tanggal 22 Juli 2009 Pukul 10.30 Wib.
TKP : Jl. Meruya Ilir depan Perumahan Taman Aries Blok H/1 Meruya Utara Jakbar.
Korban : HJ. Mastura, 54th.
Pelaku : 2 orang dalam Lidik.
Kronologis : Pada saat korban sedang dalam perjalanan pulang dari Bank Sariah Mandiri, sesampainya di TKp tiba-tiba pelaku yang beboncengan dan mengendarai KR R2 merampas tas korban dari arah belakang.
Kerugian : uang tunai senilai Rp. 11.850.000,-, 3 unit HP merk Nokia, SIM A, SIM C, kwtansi pinjaman uang, Kartu ATM Bank BNI, Kartu ATM Bank BCA serta buku tabungannya, Kartu Member, Kartu NPWP.
Ditangani : Sektro Kembangan.

2. LAKA KERJA
Waktu kejadian : Tanggal 22 Juli 2009 Pukul 07.30 Wib.
TKP : Depan Salon leli Dewi Jl. Limo I No. 38 Kramat Pela Keb. Baru Jaksel.
Korban : Iis Syahri, 33th.
Saksi : Toto, 39th.
Kronologis : Ketika korban sedang membersihkan/service AC bersama dengan saksi di TKP, di lantai atas korban sedang mencuci Out Door AC dengan menggunakan Steam, setelah selesai selang kemudian ditarik oleh saksi dari lantai bawah tetapi karena tidak ada respon saksi meminta pembatu rumah tersebut untuk mematikan NCB dan saksi melihat korban sudah dalam keadaan MD dengan posisi badan telungkup setelah di cek korban MD akibat tersetrum aliran listrik. Selanjutnya korban di bawa ke RS untuk Verb.
Ditangani : Sektro Pulogadung.

3. PENCURIAN DENGAN KEKERASAN
Waktu kejadian : Tanggal 22 Juli 2009 pukul 12.30 Wib.
TKP : Jl. Tanah Mas kayu Putih Pulo Gadung Jaktim.
Korban : Relevani Kirombi, 21th.
Pelaku : 2 orang tak dikenal (tertangkap)
Kronologis : Pada saat korban sedang dalam perjalanan, sesampainya di TKP tiba-tiba pelaku yang berboncengan dengan menggunakan KR R2 merampas tas korban yang berisi uang tunai senilai Rp. 10.000.000,-, kemudian korban berteriak karena panik pelaku terjatuh dari KR R2 yang dikendarainya selanjutnya pelaku dapat diamankan oleh masa.
Ditangani : Sektro Pulogadung

* Cara Mengatasi Sikap Manja Anak

Cara mengatasi sikap manja yang berlebihan apalagi sampai mengganggu kemandirian anak diantaranya adalah dengan :

1. Melakukan pengenalan terhadap pengalaman pribadi kita, kemudian sadari bahwa masa kecil yang kurang bahagia, dikekang atau serba kekurangan tidaklah berarti dengan begitu kita ingin memanjakan anak kita lantaran tidak ingin terulangnya masa-masa yang lalu tersebut terhadapnya.

2. Anak jangan selalu dijadikan sebagai pusat perhatian. Sebaiknya usahakan agar anak juga banyak melihat kegiatan dan mendengar pembicaraan orang-orang disekitarnya.

3. Anak yang merengek minta perhatian. Cobalah alihkan dengan hal lain yang disukainya. Lakukan hal ini setiap kali sambil menjelaskan bahwa anak perlu melakukan hal penting terlebih dahulu.

4. Berilah contoh cara bergaul yang baik. Misalnya, dengan mengajarkan anak kita meminjamkan barang yang diperlukan oleh temannya.

5. Berikan pelukan kasih sayang dan kata-kata yang membuat dirinya nyaman.

6. Jika keinginan anak bermanja secara tiba-tiba meningkat dan nampak dengan jelas ada reaksi pada waktu-waktu tertentu. Berikanlah waktu pada anak untuk menyesuaikan diri memenuhi kebutuhannya tersebut.(Meti Mediya)

* LOKASI SIM DAN SAMSAT KELILING

WILAYAH LOKASI
JAKARTA BARAT SIM : SPBU lama Jl. Joglo Lama STNK : Carefour Puri Kembangan
JAKARTA SELATAN Depan Pos Pol Taman Makam Pahlawan Kalibata
JAKARTA TIMUR Depan Swalayan Makro Pasar Rebo
JAKARTA UTARA Mega Mall Pluit
JAKARTA PUSAT SIM Keliling di LTC Glodok dan STNK Keliling di Depan Gd Kantor PELNI Jl. Gajah Mada


Informasi dari TMC Dit. Lantas Polda Metro Jaya untuk hari Sabtu (25/7) ini SIM dan SAMSAT keliling beroperasi dari Pkl. 08.00 – 12.00 WIB.

* Special Weapons and Tactics (SWAT) (Senjata Khusus dan Taktik)

Pada tahun 1964, Philadelphia Police Department, sebagai jawaban terhadap meningkatnya perampokan bank, mendirikan pasukan pasukan Special Weapons dan Tactics Squad yang terdiri atas seratus orang. Tujuan dari unit ini adalah untuk bereaksi cepat dan tegas terhadap perampokan bank ketika mereka sedang bergerak dengan memanfaatkan sejumlah besar petugas terlatih yang mengatur sejumlah besar tembakan. Siasat itu berhasil.

Tidak lama sesudah sukses tim SWAT Philadelphia dipublikasikan, departemen lain membentuk unit khusus serupa, yang paling khusus adalah Los Angeles Police Department (SWAT). Banyak nama berbeda diberikan kepada regu ini, beberapa nama: SRT (Spesial Reaction Team), Los Angeles Sheriffs Department; MUST (Metro Unique Situation Team); Nashville Police Department; HRT (Hostage Rescue Team).

Pembentukan tim SWAT oleh departemen polisi utama menandai suatu permulaan perubahan layanan polisi tradisional dan datangnya suatu metode manajemen krisis yang baru dari para eksekutif polisi modern. Banyak lapisan petugas kepolisian yang lamban dalam melihat tim ini sebagai unsur yang sangat ideal dari suatu departemen untuk dengan tepat menangani risiko yang tinggi dari situasi tertentu. Tetapi para eksekutif polisi dengan cepat mengenali penggunaan pasukan petugas bermotivasi tinggi, dipersenjatai secara khusus, dilatih dengan khusus, dan terpimpin secara khusus.

Pasukan yang ketika berhadapan dengan penjahat bersenjata berat atau media yang terjadi seperti insiden penyanderaan, biasanya mengurangi kewajiban sipil dan melengkapi hubungan masyarakat ketika insiden telah berhasil dipecahkan dengan sedikit atau tidak ada sama sekali korban nyawa. Pada akhir tahun 1970-an, semua departemen utama di Amerika Serikat telah membentuk tim SWAT, dan lapisan petugas kepolisian dari Amerika telah menerima mereka sebagai suatu bagian integral dari layanan kepolisian.

Staffing (Susunan Staf)
Staf tim SWAT adalah polisi reguler yang terpilih dan memenuhi kriteria tertentu. Anggota tim SWAT diharuskan memiliki suatu profil psikologis normal dengan penekanan kepada kemampuan bekerja dengan baik sebagai anggota suatu regu. Tentu saja masing-masing anggota harus secara fisik cocok dan tidak mempunyai keterbatasan karakteristik fisik, seperti hilang pendengaran atau rabun ekstrim. Anggota regu harus mampu bereaksi baik di bawah stres dan kondisi kelelahan ekstrim. Tentu saja mereka harus mampu mengikuti perintah dan pada waktu yang sama menunjukkan kemampuan tersebut untuk memimpin yang lainnya ketika diminta.

Equipment (Peralatan)
Karena tim SWAT diperlukan untuk mengatasi situasi permintaan yang tak lazim di bawah kondisi merugikan yang sangat besar, mereka harus ahli dalam penggunaan peralatan khusus seperti tali-temali dan perlengkapan rappelling, yang dapat mereka gunakan untuk masuk dari atap atau melayang dari helikopter. Mereka harus mampu menggunakan bahan peledak untuk meledakkan pintu, dinding, atau atap ar dapat masuk dengan cepat dan aman.

Seragam tim SWAT harus menyediakan perlindungan terhadap segala cuaca, harus dapat dikenakan di malam hari tanpa membuat petugas tersebut mudah dikenali target. Juga harus longgar agar petugas dapat bebas bergerak. Banyak tim sudah memilih topi wol jenis topeng ski, yang dapat digulung selama hari panas dan diturunkan di malam hari untuk penyamaran. Anggota tim pada umumnya memakai sepatu boot jenis militer. Pada tahun-tahun terakhir ini, perlengkapan tim SWAT dengan cepat menjadi suatu bisnis di Amerika, dengan perusahaan yang mengembangkan suatu pemilihan seragam yang eksotis, persenjataan SWAT, dan bahkan sarana pengangkutan SWAT.

Senjata tim SWAT didikte oleh keperluan taktis. Dalam penyerangan mempertahankan kekayaan, tim menggunakan senjata otomatis, pada umumnya tidak kekurangan persediaan dan senjata laras pendek, dengan suatu tembakan tingkat tinggi. Sebuah senjata biasanya dibawa di setiap operasi untuk melengkapi gas air mata atau asap. Tim akan mempekerjakan penembak jitu untuk menutupi pergerakan dari anggota tim lain. Para penembak jitu menggunakan senapan laras panjang berdaya tinggi, yang pada umumnya dicoba dengan resolusi tinggi yang dapat digunakan di siang atau malam hari. Menurut peraturan, tim akan memberikan pistol otomatis kepada masing-masing anggotanya, dilengkapi dengan senjata, agar mereka mampu menembak dengan cepat dan mampu mengisi kembali dengan cepat.

Peralatan lain yang dimiliki oleh tim meliputi kedok gas untuk masing-masing anggota, teropong starlight untuk visi malam, lampu senter yang melekat pada senjata untuk menguasai target di malam hari, rompi anti peluru, rompi SWAT yang sesuai dengan ukuran badan dan mampu membawa apa pun, dari amunisi cadangan sampai termos air, sarung pistol kaki yang memungkinkan menarik senjata dengan cepat, dan radio berfrekuensi tinggi, bersuara aktif, tidak berisik untuk komunikasi intertim yang dapat dipakai bahkan ketika seorang anggota regu sedang diserang. Terakhir, tim mempunyai sarana angkut khusus SWAT, pada umumnya van, yang dibawa ke tempat kejadian dan menyediakan pos komando dan fungsi pusat logistik.

Training (Pelatihan)
Karena tim SWAT diperlukan untuk melaksanakan tugas yang sangat penuh resiko, seperti membebaskan sandera, maka mereka harus dilatih dengan baik. Masing-masing tim harus mempunyai suatu program pelatihan tahunan yang ditentukan oleh potensi misi mereka. Jenis pelatihan yang dibutuhkan tim meliputi penggunaan bahan peledak untuk masuk kedalam struktur; menembak sasaran bergerak yang diketahui dan diperoleh; prosedur pergerakan siang dan malam hari di semua jenis daerah dan cuaca; prosedur masuk untuk semua jenis struktur; teknik penyelubungan, teknik pembersihan ruangan dan gedung; rappelling dari bangunan, jurang dan helikopter; penggunaan letusan kilat dan granat asap untuk menutupi pergerakan dan fasilitas masuk; kondisi fisik; perkelahian satu lawan satu; memeriksa prosedur radio dan komunikasi nonverbal di siang dan malam hari; teknik membunuh dengan cepat, teknik sniper dan antisniper; konsep organisasi unit kecil; prosedur anti jebakan; pengenalan dan penggunaan bahan kimia; penggunaan perlindungan, kamuflase, dan tempat persembunyian; menutupi gerakan di bawah tembakan; dan kepemimpinan unit kecil.

Team Characteristics (Karakteristik Tim)
Tim SWAT memiliki karakteristik dengan beberapa fitur yang tidak dimiliki oleh unit polisi lain. Dengan mengabaikan ukuran mereka (kebanyakan regu rata-rata terdiri dari dua belas anggota), tim pada umumnya dibentuk dalam dua kelompok berbeda: kelompok penyergap, yang berfungsi untuk masuk dan membersihkan struktur; dan kelompok pelindung, yang berfungsi untuk melindungi kelompok penyergap tersebut dan melindungi garis perimeter tim. Tim SWAT mempunyai rantai komando yang tergambar jelas mulai dari pemimpin tim langsung kepada kepala departemen mereka, sehingga menghilangkan petugas antara yang ikut campur di saat-saat kritis dan dapat menimbulkan bahaya. Tim SWAT bekerja selama dua puluh empat jam dan mempunyai suatu prosedur panggilan yang jelas kapan pun suatu departemen menerima panggilan untuk mengirimkan tim SWAT.

Uses (Penggunaan)
Tim SWAT digunakan secara eksklusif dalam satu dari lima peristiwa ini: (1) mereka digunakan dalam peristiwa penyanderaan. Sementara negosiasi merupakan metode ideal untuk memecahkan situasi penyanderaan, negosiasi kadang gagal dan krisis harus dipecahkan secara taktis. (2) Situasi penempatan sniper merupakan ancaman besar bagi warga sipil tak bersalah dan harus dipecahkan dengan cepat dan dengan jelas. (3) Barikade tersangka sering harus ditempuh dan melakukan penangkapan dengan maksud supaya masyarakat di daerah sekitar atau daerah komersial kembali tenang. (4) Kadang-kadang unit polisi lain akan memanggil tim SWAT untuk membantu menangap subjek yang bersenjata berat. Pada umumnya suatu tim akan dibagi untuk memenangkan tembak-menembak. (5) Tim pada umumnya dipanggil untuk menyediakan perlindungan antisniper untuk orang terkemuka.

Evolution (Evolusi)
Sejak kedatangan terorisme transnational dengan pembantaian atlet Israel dalam pertandingan Olimpiade tahun 1972 di Munich, negara-negara utama mengembangkan unit khusus yang dirancang untuk mengatasi teroris. Britania Raya menggunakan SAS (Strategic Air Service), Jerman Barat dengan GSG 9 (Border Police Unit 9), Prancis dengan Groupe D'Intervention Gendarmerie Nationale (National Police Intervention Group), dan Amerika Serikat membentuk Delta Force. Semua unit ini dalam pengertian luas yang sangat fundamental adalah tim SWAT. Mereka menurunkan langsung-unit seratus orang-dari departemen kepolisian Philadelphia. Mereka menerima pelatihan serupa, memakai seragam yang sama, menggunakan senjata, peralatan, dan organisasi yang sama, dan mempunyai misi yang serupa. Satu-satunya perbedaan nyata adalah, mereka beroperasi di banyak skala yang lebih besar dengan yurisdiksi yang lebih luas.

Future Use of SWAT Team (Masa Depan Tim SWAT)
Sebagian besar yurisdiksi Amerika sudah membentuk tim SWAT untuk menangani situasi penuh risiko. Tim dengan sedikitnya lima anggota berfungsi sangat baik dengan pelatihan yang cukup. Dengan reaksi apa pun dalam terorisme domestik, unit yang terlatih khusus seperti tim Special Weapons dan Tactics (SWAT) akan diperlukan untuk memelihara ketenteraman.
Phillip A. Davidson

Daftar Pustaka
Beckwith, Charles A. dan David Knox. Delta Force. New York: Harcourt Brace Jovanovich, 1983.
Cappel, Robert P. S.W.A.T. Team Manual. Boulder, CO: Paladin Press, 1979.
Davidson, Phillip L. S.W.A.T. Springfield, IL: Charles C. Thomas, 1979.
Jacobs, Jeffrie. S.W.A.T. Manual. Boulder, CO: Paladin Press, 1983.
Kolman, John A. A Guide to the Development of Special Weapons and Tactics Teams. Springfield, IL: Charles C. Thomas, 1982.
Miller, Abraham H. Terrorism and Hostage Negotiation. Boulder, CO: Westview Press, 1980.

22 Juli 2009

*PRESS RELEASE



PRESS RELEASE
DIVISI HUMAS POLRI 22 JULI 2009
TEMPAT DI JAKARTA MEDIA CENTER
KUNINGAN JAKARTA SELATAN



MATERI : PERKEMBANGAN BERITA YANG BERKAITAN DENGAN LEDAKAN BOM DI HOTEL JW MARRIOTT & RITZ CARLTON JAKARTA


1.DATA JUMLAH KORBAN YANG DIRAWAT SD. 22 JULI 2009 JAM 06.30 WIB BERJUMLAH 11 ORANG YANG MASIH DIRAWAT DI :

A.RS MMC : 7 ORANG ( 1 WNA DAN 6 WNI)
-ANDREW STUART COBHAM (L/60 TH) WN CANADA
-GIOVANNI ME SUHARDI (P/44 TH) WNI
-I GUSTI AGUNG RAY (L/64 TH) WNI
-MARIKO ASMARAWATI (P/40 TH) WNI
-OKI UTOMO (L/25 TH) WNI
-YURIKE MARTININGRUM (P/24 TH) WNI
-YUSUF PURNOMO (L/23 TH) WNI

B.RS JAKARTA : 3 ORANG (WNI)
-ANDRI (L/23 TH) WNI
-DENI PURWANTO (L/33 TH) WNI
-DIKDIK AHMAD TAUFIK (L/39 TH) WNI

C.RS PERTAMINA PUSAT : 1 ORANG (WNI)
-DADANG HIDAYAT (L/30 TH) WNI

KORBAN YANG DIPERBOLEHKAN PULANG PADA TANGAL 21 JULI 2009, KEMARIN ADALAH
-BAMBANG TRIYANTO DARI RS JAKARTA.


2.EMPAT JAZAD KORBAN BELUM TERIDENTIFIKASI. PROSES IDENTIFIKASI SAAT INI MASIH DILAKUKAN TERHADAP DUA JENAZAH OLEH TIM DVI (DISASTER VICTIM IDENTIFICATION). SECARA IDENTIFIKASI PENYIDIKAN KEDUA JENAZAH DIDUGA ADALAH PASANGAN SUAMI ISTERI WN BELANDA(PETER BURERR DAN EJC KEANING) NAMUN SECARA “DVI” BELUM DAPAT DIPASTIKAN, PROSES PENCOCOKAN POST-MORTEM DENGAN ANTE-MORTEMNYA MASIH TERUS DILAKUKAN. SEDANGKAN UNTUK DUA POTONGAN KEPALA YANG DIDUGA SEBAGAI PELAKU HUMAN BOMB TERUS DILAKUKAN PROSES PENGIDENTIFIKASIAN SELANJUTNYA.

3.DISAMPAIKAN SKETSA KEDUA TERSANGKA YANG DIDUGA SEBAGAI PELAKU TERSEBUT, MOHON DAPATNYA MENJADI BAHAN UNTUK IDENTIFIKASI DAN SANGAT DIHARAPAKAN INFORMASINYA.

4.SAMPAI HARI INI, SUDAH 39 SAKSI DIPERIKSA.(bub/pjka/koer)

* Kunjungan Pejabat UN-WTO ke Jakarta Sebagai Dukungan Moral


Regional Representative for Asia and The Pasipic,United Nations World Tourism Organization (UN-WTO), Xu Jing, melakukan kunjungan ke Jakarta dalam rangka memberikan dukungan moral dan solidaritas kepada pemerintah Indonesia atas peristiwa aksi teror bom di Hotel JW Marriott dan Ritz Carlton Jakarta Jumat pagi.

Xu Jing menurut rencana pada Rabu pagi (22/7) akan mengunjungi zero ground hotel JW Marriott, dan selanjutnya bersama Menteri Kebudayaan dan pariwisata (Menbudpar) Ir.Jero Wacik,SE akan memberikan keterangan pers di Media Center Mall Bellagio Mega Kuningan Jakarta seputar langkah-langkah recovery dan komitmen UN-WTO dalam membantu pemulihan (recovery) kepariwisataan Indonesia.

Organisasi pariwisata Dunia (UN-WTO) telah menyatakan komitmennya untuk membantu Indonesia dalam melakukan program recovery pariwisata Indonesia pasca peristiwa aksi terror bom JW Marriott-Ritz Carlton Jakarta.

Sebelumnya UN-WTO juga telah membantu Indonesia dalam melakukan revovery pada pasca bom Bali I (Oktober 2002) dan bom Bali II (November 2005) serta peristiwa musibah tsunami di aceh (Desember 2004) dan bencana alam gempa bumi di Yogyakarta (Mei 2006)

Bantuan dalam bentuk esistensi juga diberikan UN-WTO kepada pemerintah Indonesia (Depbudpar) dalam menanggulangi dampak wabah penyakit seperti flu burung atau Avian Influenza (H5N1) maupun flu babi (H1n1) antara lain melalui seminar dan workshop.

Menbudpar Jero Wacik mengharapkan kunjungan Xu Jing selain sebagai dorongan moral dalam melawan aksi terror bom, juga untuk meyakinkan masyarakat dunia bahwa pemerintah Indonesia mampu mengatasi peristiwa aksi terror bom JW Marriott – Ritz Carlton Jakarta, karena sebelumnya Indonesia telah berhasil mengatasi hal serupa dalam peristiwa bom Bali II pada November 2005.

Langkah Recovery

Departemen Kebudayaan da Pariwisata (Depbudpar) akan melakukan enam langkah pemulihan (recovery) pasca-peristiwa bom hotel JW Marriott dan Ritz Carlton di kawasan Mega Kuningan Jakarta Jumat pagi (17/7), demikian hasil rapat tim crisis center Depbudpar di Gedung Sapta Pesona Jakarta, Senin (20/7).

Langkah pertama, menyeleggarakan kunjungan jurnalis luar negeri ke Indonesia atau media tour.

Langkah kedua, Menyelenggarakan farm tour dari sumber-sumber pasar utama wisatawan mancanegara (Wisman) dengan mengundang para tour operator public figures, serta dan prominent persons.


Langkah ketiga, mengefektifkan perwakilan promosi pariwisata atau torism promotion representatives Indonesia di 9 negara di luar negeri yakni Singapura, Malaysia, China, Jepang, korea, Australia, India Timur tengah (Dubai), Eropa (Jerman).

Langkah keempat, melakukan roadshow untuk memulihkan citra Indonesia di pasar utama wisman. Dalam road show ini akan dilakukan dialog interaktif dan table rop, functions (gathering) serta penyampaian informasi terkini tentan kepariwisataan Indoesia kepada para industri pariwisata dan press serta prominent persons.

Langkah kelima, adalah melakukan kampanye iklan atau pencitraan antara lain dengan melakukan promosi pariwisata melalui media cetak dan elektronik serta co-promotion bersama industri pariwisata di luar dan di dalam negeri dengan target utama konsumen di sumber pasar utama mancanegara.

Langkah keenam, melakukan dukungan berbagai event nasional dan internasional di Jakarta, seprti MICE (Meeting Intensive Convention, and Exhibition) dan festival budaya dan olahraga dan memperkuat event-event budaya dan olahraga yang sudah terjadwal di Jakarta.

Para jurnalis dan tour operator yang diundang dari pasar utama pariwisata Indonesia di luar negeri antara lain : Singapura, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, China, Hongkong, Jepang, Australia, Selandia baru, India, timur Tengah (Saudi Arabia, UEA, Kuwait, Qatar), Belanda, Perancis, Jerman, Spanyol, Rusia, USA dan Canada. Selama di Indonesia mereka aka mengunjungi Jakarta, yogyakarta, da Bali.(bub/pjka/koer)

*Perkembangan kasus perampokan 15 milyard


Perkembangan kasus perampokan 15 milyard terhadap jasa pengiriman uang PT. Cisco yang terjadi pada hari Senin tanggal 13 Juli 2009 di Jalan tol Dalam Kota Latumenten Jakarta Barat yang menyebabkan kerugian 15 milyard.

1. Penyidik melakukan reka ulang di TKP di Jalan tol Dalam Kota Latumenten Jakarta Barat dimana tempat mobil PT Cisco ditabrak dan dirampas oleh pelaku.

2. Penyidikan kedua di TKP Bitung tempat pengawal Bripda. Ade Purnawan dibuang dan melakukan penyitaan 1 (satu) buah borgol.

3. Penyidikan ketiga TKP Lodan Timur Pintu keluar Tol Ancol di Jl. RE Martadinata Kel Ancol JakUt merupakan pembuangan mobil Isuzu Panther dan pemindahan uang dari mobil Panther ke mobil Toyota Avanza penyidik menemukan :
a. 1 (satu) unit mobil Panther warna biru muda No. Pol. B 8252 KW
b. 1 (satu) bendel kunci kontak mobil berikut foto copy STNK mobil B 8252 KW
c. 1 (satu) lember karcis parkir AirPort Bandara Soekarno Hatta
d. 1 (satu) pucuk Senpi Pistol jenis GAS GUN Merk KJ-WORK warna hitam berikut magazen
e. 4 (empat) buah amunisi AK-47
f. 1 (satu) palu godam besi
g. 1 (satu) kepala martil
h. Potongan gembok berlebel kertas warna pink
i. Gembok bertuliskan angka 194
j. 1 (satu) bendel plastik dokumen surat PT CENTRIS CISCO
k. 1 (satu) tas warna hitam merk The Nort Face berisi 2 (dua) jaket
l. 1 (satu) tas warna coklat merk Fortune berisi perlengkapan mandi
m. 2 (dua) lembar struk tol
n. 1 (satu) pucuk senpi AK-47

4. Selanjutnya Di TPK Cakung JakTim merupakan tempat pembuangan 6 buah tas dalam keadaan kosong
a. 4 (empat) tas besar
b. 2 (dua) tas tempat penyimpanan uang berwarna biru dengan lis oranye. (bub/pjka/koer)

* Manajemen Hidup Sehat

KapanLagi.com - Makan sudah jadi bagian dari kehidupan kita sehari-hari, tapi pernahkah Anda bertanya untuk apa Anda makan? Jawabannya mudah, karena rasa lapar atau lelah dan kadang kita terdorong untuk makan saat sedang sedih atau senang. Pernahkah Anda menghitung seberapa banyak kandungan nutrisi dalam makanan yang dikonsumsi? Sebenarnya, makan secara sehat jadi sebuah kebutuhan vital karena tubuh kita membutuhkan energi setiap hari. Makan yang sehat bukan hanya sekedar makan, tapi juga mempertimbangkan asupan makanan yang memberi peran penting untuk tetap fit dan sehat. Ada beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mencapai tujuan ini.

- Kenyataannya, terlihat sehat dan selalu sehat adalah sebuah pekerjaan yang harus dilakukan setiap hari. Ada beberapa hal yang dapat dilakukan untuk selalu terlihat dalam keadaan terbaik. Beberapa orang lebih memilih cara hidup sehat dengan cara mengukur kadar kalori dalam makanan, mengkonsumsi makan sehat ditambah berolah raga secara teratur.

- Karena masalah yang kerap kita alami adalah tidak menyadari berapa banyak nutrisi atau kalori yang telah masuk dalam tubuh kita lewat makanan. Ada baiknya memulai membuat daftar apa yang kita makan dan minum. Lalu gunakan data nutrisi dalam label makanan untuk membuat kalkulasi. Dengan mengetahui seberapa banyak kalori atau nutrisi, Anda dapat dengan mudah menentukan bagaimana cara membakar kalori ini. Cara ini juga membantu Anda menyeimbangkan berat badan.

- Buat daftar nutrisi dalam setiap makanan yang Anda hidangkan. Anda dapat membuat resep makanan sendiri yang sesuai dengan kadar nutrisi yang Anda butuhkan.

- Anda dapat mengembangkan pilihan makan secara sehat dengan memeriksa asupan nutrisi dari hari ke hari, cara ini juga dimaksudkan sebagai manajemen berat badan. Di era modern ini ada gadget yang dapat membantu Anda menghitung kandungan kalori dalam makanan. Anda dapat menggunakan alat ini untuk mempermudah menghitungnya. (kpl/adb/erl)

* KEJADIAN 22 JULI 2009

1. PENEMUAN MAYAT BAYI
Waktu kejadian : Tanggal 21 Juli 2009 Pukul 11.00 Wib.
TKP : Depan pintu pekarangan rumah Jl. Cisadane No. 17 Cikini Menteng Jakpus.
Korban : Bayi laki-laki, + 3 hari.
Saksi : Supandi, 47th, Laki-laki, Islam, Tukang Kebun, Al. Cikini Ampium Rt. 15/01 No. 13 Pegangsaan Menteng jakpus..
Kronologis : Pada saat saksi hendak merokok saksi diberi tahu oleh pemulung bahwa di TKP ada sesosok mayat bayi di dalam antong kain pembungkus helm berwarna hitam yang dibuang oleh seorang pengendara SPM, setelah diperiksa oleh saksi ternyata benar isi kantong tersebut adalah seorang mayat bayi laki-laki.
Ditangani : Sektro Menteng.

2. KEBAKARAN
Waktu kejadian : Tanggal 21 Juli 2009 Pukul 21.40 Wib.
TKP : Komplek Pesing Jaya Baru Blok E 7,8,9 dan 11 Rt. 08/08 Wijaya Kusuma Gropet jakbar.
Korban : Dwi ariyanto, 46th, Al. TKP. Karyadi, 60th, Al. TKP.
Kronologis : telah terjadi kebakaran 5 unit rumah yang digunakan untuk usha konveksi dan percetakan. Api berawal berasal dari blok E 10 lantai 2 yang asal api diduga bersal dari konsleting arus listrik yang kemudian merembet ke blok 7,8,9, dan 11. Api dapat dipadamkan dengan menggunakan 18 unit mobil DPK selama satu jam. Korban jiwa nihil.
Kerugian : Belum dapat ditaksir.
Ditangani : Sektro tanjung Duren.

3. PENCURIAN DENGAN PEMBERATAN
Waktu kejadian : Tanggal 20 Juli 2009 Pukul 21.40 Wib.
TKP : Jl. Raya Gatot Soebroto depan Hino Kedujaya Curug Tangerang kab.
Korban : sanwani, 51th, Swasta, Al. Kp. Jengkol Rt. 03/01 cikupa Tangerang Kab.
Pelaku : Dalam Lidik.
Kronologis : Pada saat korban sedang mangkal di pangkalan ojeg Pengkolan Pasir Gadung Cikupa, tiba-tiba pelaku datang dan meminta diantar ke Cimone. Setelah sampai di TKP pelaku menodong leher belakang korban dan korban merasa seperti ditodong dengan menggunakan senpi tetapi korban tidak melihat kebelakang. Selanjutnya korban lansung berhenti dan pelaku meminta STNK, SIMM C, KTP dan kunci motor korban serta uang tunai senilai Rp. 600.000,-. Selanjutnya pelaku membawa kabur SPM korban kea rah Tangerang.
Kerugian : 1 unit KR R2 Yamaha No. Pol. B-3712-NAT, serta uang tunai senilai Rp. 600.000,-
Ditangani : Sektro Curug.