22 April 2016

Pelaku Mutilasi Wanita Hamil Dibekuk di Surabaya, Motif Pelaku Kesal Karena Korban Menuntut Dilamar

Pelaku Mutilasi Wanita Hamil Dibekuk di Surabaya





Kusmayadi alias Agus alias Petrus pelaku pemutilasi wanita hamil di Cikupa dibekuk di Surabaya. 

Jumat, 22 April 2016 07:26 WIB
PUSKOMINFO - Pelaku pembunuhan sekaligus pemutilasi Nur Astiyah di Cikupa, Tangerang dibekuk polisi di rumah makan Salero Bundo Jalan Masrip, Karang Pilang, Surabaya, Kamis (21/4/2016). 



Kasubdit Jatanras Ditreskrimum Polda Metro Jaya AKBP Herry Heryawan mengatakan, penangkapan Kusmayadi alias Agus itu dilakukan berdasarkan penelusuran polisi dari orang-orang terdekat pelaku.

"Pelaku kami tangkap di rumah makan Selero Bundo di Surabaya," katanya kepada wartawan, Kamis (21/4/2016).

Sementara itu, Kapolsek Cikupa Kompol Gunarko mengakui penangkapan pelaku di Surabaya berkat info yang diterima polisi. Pelaku dikenal licin dan beberapa kali pindah daerah untuk menghindari kejaran polisi.

“Sebelumnya kami sudah kejar ke Malang tapi pelaku mencium kedatangan anggota kami," katanya.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Kombes Pol Krishna Murti mengatakan tersangka pembunuhan disertai mutilasi, Kusmayadi alias Agus, diduga menggunakan uang hasil penjualan ponsel milik korban NA untuk membiayai kebutuhan hidupnya selama pelarian di Surabaya.

"Dia bertahan hidup disana dari hasil jual HP korban. Dia sudah kehabisan uang," ujar Kombes Pol Krishna Murti di Mapolda Metro Jaya, Kamis (21/4/2016).

Kombes Pol Krishna menambahkan, selama sepekan berada di Surabaya, Agus belum sempat bekerja. Oleh karena itu, Agus kehabisan uang.

Menurut Kombes Pol Krishna, saat dilakukan penangkapan, Agus tampak tidak menyangka bahwa polisi telah mengetahui keberadaannya. Pria itu tampak terkejut ketika ditangkap. Namun, kata Kombes Krishna, Agus tidak melakukan perlawanan.

Dari penelusuran sementara, polisi mengambil kesimpulan Kusmayadi alias Agus rupanya sudah merencanakan pembunuhan terhadap Nur Astiyah, 34 tahun.

"Dari penelusuran, kami mendapati bahwa pelaku ingin menghilangkan identitas. Terbukti bahwa tetangga kontrakan mereka sama sekali tidak mengetahui nama pelaku maupun korban," kata Kombes Pol Krishna Murti.

Kombes Krishna mengatakan, Agus sudah berencana membunuh Nur sejak awal April 2016. Agus sempat bertanya kepada beberapa kawannya, termasuk saksi kunci RI, apa ganjaran membunuh.

"Dia sempat tanya ke kawannya, membunuh itu dosa besar atau tidak," kata Kombes Krishna lagi.

Dorongan membunuh Nur, kata Kombes Krishna, dipicu karena pelaku dan korban yang tinggal satu kontrakan mulai sering cekcok terkait kejelasan status mereka.

"Pelaku sudah menghamili korban dan korban menuntut pelaku melamarnya. Korban juga kerap memaki-maki pelaku," kata Kombes Pol Krishna.

1 komentar: