06 Oktober 2016

Polsek Tambun Amankan Nenek Kedapatan Edarkan Uang Palsu

Kamis, 6 Oktober 2016 12:16 WIB 
PUSKOMINFO - Seorang nenek bernama Rohati, 63 tahun, ditangkap polisi di Pasar Tambun, Kabupaten Bekasi, karena kedapatan mengedarkan uang palsu, Rabu (5/10/2016) malam.
Oleh penyidik, warga Jalan Kemayoran Gempol, Kebon Kosong, Kemayoran, Jakarta Pusat ini dibawa ke Mapolsek Tambun untuk dinterogasi.
Kapolsek Tambun, AKP Bobby Kusumawardhana mengatakan, Rohati ditangkap karena terbukti menggunakan uang palsu untuk berbelanja buah mangga di pasar tersebut.
Oleh pedagang buah, Rohati sempat digiring ke kantor Pos Polisi setempat.
“Dia beli buah mangga satu kilogram pakai uang palsu pecahan Rp 100.000,” ujar Kapolsek kepada wartawan pada Kamis (6/10/2016).
Kepada penyidik, Rohati mengaku memperoleh uang palsu itu dari seorang perempuan berinisial S. Rohati membeli uang palsu sebanyak Rp 700.000 dengan harga Rp 200.000 dekat pabrik Indoporlen Tambun.
Adapun pecahan uang palsu  itu adalah Rp 50.000 sebanyak delapan lembar dan Rp 100.000 sebanyak tiga lembar. “Uangnya belum sempat diedarkan karena keburu ketahuan oleh pedagang buah,” jelas Kapolsek.

Menurutnya, kasus ini terungkap saat pedagang buah bernama Rudi merasa aneh dengan uang pecahan Rp 100.000 yang digunakan Rohati untuk membayar.
Saat itu, warna uang tersebut sangat cerah atau kontras dan terlihat berbayang. Rudi kemudian, memastikan keaslian uang itu ke pedagang yang lain.
“Pas dicek rupanya benar itu uang palsu. Para pedagang kemudian membawa Rohati ke kantor Pos Polisi setempat,” ungkapnya.
Dari penangkapan itu, petugas kemudian melakukan pendalaman.
Saat rumahnya digeledah, penyidik rupanya menemukan barang bukti lainnya berupa uang palsu sebanyak Rp 6,4 juta yang terdiri dari Rp 100.000 ada 25 lembar dan pecahan Rp 50.000 ada 78 lembar.
“Pengakuan awal dia beli uang palsu itu Rp 200.000 untuk upal Rp 700.000. Tapi nyatanya di rumah masih ada uang palsu yang ditemukan. Ini masih diselidiki petugas,” katanyaKasubag Humas Polres Metro Bekasi, AKP Endang Longla menambahkan, bila diperhatikan secara seksama antara upal itu dengan uang asli hampir menyerupai.

Kapolsek menyakini, masyarakat pasti tak menyangka dan bisa terkecoh. Apalagi uang palsu ini dibelanjakan pelaku di malam hari.

”Kondisi upal ini sangat mirip, hampir tidak ada perbedaan. Ada garis benang, tanda air, namun apabila diperhatikan melalui sinar ultraviolet akan terlihat perbedaannya," katanya.

Kapolsek juga mengungkapkan, kertas uang palsu terasa lebih kasar dan tampak tinta cetakan terlihat lebih tebal dari uang asli. "Apabila diperhatikan dengan seksama, akan tampak perbedaan dengan uang asli," ungkapnya.

Akibat perbuatannya, Rohati dijerat Pasal 26 ayat 2 Undang-undang RI nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang dengan ancaman penjara selama 15 tahun.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar