15 Maret 2017

Polda Metro Jaya Ungkap Prostitusi Pedofilia Secara Online via Facebook

Kapolda Metro Jaya, Irjen M Iriawan saat menjelaskan pengungkapan jaringan teroris anak. (Foto: badriyanto/Okezone)
Rabu, 15 Maret 2017 07:45 WIB
PUSKOMINFO - Petugas Subdit Cyber Crime Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya mengungkap praktik prostitusi khusus anak di bawah usia atau pedofilia secara online melalui media sosial (facebook) dengan akun "Official Loly Candys Group 18+".

"Kami amankan empat pelaku kejahatan pornografi anak secara online," kata Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Polisi M Iriawan di Jakarta Selasa (14/3/2017).

Kapolda  menuturkan, akun grup itu dibuat pada September 2014 dengan jumlah anggota mencapai 7.497 orang yang menampilkan foto porno anak di bawah usia.

Keempat pelaku itu yakni MBU alias Wawan alias Snorlax, 25 tahun, DS alias Illu Inaya alias Alicexandria, 27 tahun, SHDW alias Siha Dwiti, 16 tahun dan DF alias T-Day, 17 tahun.

Kapolda mengatakan para anggota grup facebook itu berdiskusi, berbagi dan menampilkan foto maupun video berkonten pornografi dengan obyek anak berusia 2-10 tahun. Para tersangka tidak saling mengenal namun memiliki kelainan yang sama sehingga mengelola akun facebook itu secara bersama-sama.

Tersangka Wawan berperan membuat akun facebook, sementara tiga tersangka lainnya sebagai administrator dan membuat aturan bagi anggota grup.

Kapolda menegaskan polisi akan mengembangkan kasus jaringan pedofilia itu karena diduga masih banyak anggota yang terlibat pada akun tersebut. Bahkan salah satu tersangka,  DS, mengaku pernah melakukan kekerasan seksual terhadap empat orang anak yakni keponakan dan tetangganya.

Para tersangka dijerat Pasal 27 ayat 1 juncto Pasal 45 ayat 1 UU RI Nomor 19 tahun 2016 tentang perubahan atas UU Nomor 11 tahun 2008 tentang ITE dan atau Pasal 4 ayat 1 juncto Pasal 29 dan atau Pasal 4 ayat 2 juncto Pasal 30 UU RI Nomor 44 tahun 2008 tentang Pornografi.

Sementara Deputi Perlindungan Anak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Pribudiarta Nur mengatakan, Indonesia telah memiliki Undang-Undang Perlindungan Anak. Sehingga para pelaku bisa saja diperberat hukumannya dengan undang-undang ini.

"Ada Undang-Undang 17 revisi kedua UU perlindungan anak. Di situ disebutkan adanya penambahan hukuman terhadap pelaku kejahatan seksual terhadap anak. Saya pikir itu bisa dilakukan, ada pemberatan hukuman, apalagi ada korban yang dikenal," katanya.

Adapun para korbannya masih di bawah umur dan beberapa di antaranya mengaku pernah mengalami pelecehan seksual.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar