12 April 2018

Ingin Jadi Polisi, Pemuda Ini Daftar Akpol Pakai Ijazah Palsu di Polda Metro Jaya

Ingin Jadi Polisi, Pemuda Ini Daftar Akpol Pakai Ijazah Palsu
Kamis, 12 April 2018 17:47 WIB
PUSKOMINFO, BID HUMAS PMJ - Subdit Resmob Polda Metro Jaya menangkap calon siswa Akademi Kepolisian (Akpol) berinisial MRF. MRF ditangkap karena mendaftar menggunakan ijazah palsu.

"Iya dia pingin jadi polisi. Ini soal pemalsuan ijazah. Modusnya karena bersangkutan nilainya kurang itu akhirnya minta diubah," kata Kabid Humas Polda Metro Jaya Kombes Pol Argo Yuwono di Mapolda Metro Jaya, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Kamis (12/4/2018).

Kabid Humas menerangkan pemalsuan ijazah ini terungkap saat panitia seleksi meneliti ijazah para calon siswa pada Selasa (10/4/2018) lalu. Polisi berkoordinasi dengan pihak Kemendikbud untuk mengecek keaslian ijazah para calon siswa.

"Kita koordinasi dengan eksternal, yang menyelidiki kalau ijazah dengan Diknas," terang dia. Setelah dicek oleh pihak Kemendikbud, salah seorang calon siswa, yaitu MRF, menggunakan ijazah palsu. MRF menggunakan ijazah palsu karena nilainya di bawah standar seleksi Akpol.

"Contoh nilai matematika, aslinya 4 kemudian diganti menjadi 7. Biologi nilainya 5 jadi 8. Otomatis berubah rata-ratanya dan memenuhi syarat, tetapi itu pemalsuan di situ," papar Kabid Humas.

Untuk memalsukan ijazah, MRF meminta bantuan kepada P, yang berkuliah di salah satu universitas di Jakarta. MRF sendiri menyelesaikan sekolah di salah satu SMA di Jakarta Timur.

"MRF minta tolong kepada tersangka P dan dia ijazah palsu berikut transkripnya," tutur Kabid Humas.

P disebut-sebut seorang mahasiswa dan saat ini masih dicari keberadaannya oleh polisi. Dari keterangan MRF, P baru sekali memalsukan ijazah. Dalam kasus ini, polisi menyita sejumlah barang bukti berupa satu lembar ijazah, satu lembar transkrip nilai, dan satu lembar nomor calon peserta.

Atas perbuatannya, pelaku dijerat dengan Pasal 263 KUHP dengan ancaman hukuman penjara paling lama enam tahun.

Selain kasus pemalsuan ijazah untuk pendaftaran Akpol, Subdit Resmob Polda Metro Jaya juga menangkap dua pelaku pemalsuan kartu keluarga (KK) calon siswa Bintara Polri tahun anggaran 2018.

Dua pelaku yakni S, 42 tahun dan RS, 42 tahun. Keduanya berperan sebagai perantara dan pembuat KK palsu calon siswa Bintara atas nama Vira Paranagari.

"S ini tetangga V, dia berperan menyuruh tersangka RS untuk mengganti data kartu dan RS berperan membuat kartu keluarga," kata Kabid Humas.

Kabid Humas mengatakan, awalnya keluarga Vira ingin mendaftarkan dia sebagai calon Bintara di Polda Metro Jaya. Namun Vira berdomisili di Bogor, Jawa Barat. Keluarga Vira kemudian ditawari oleh S yang mengaku bisa mengurus pindah alamat ke wilayah Jakarta Selatan.

S lalu menyuruh RS untuk membuat KK palsu di percetakan di Kramat Jati, Jakarta Timur. 

"Tersangka membuat seolah-olah KK tersebut dibuat 2 tahun lalu," kata Kabid Humas.

RS mengganti tahun pembuatan KK Vira dari awalnya tahun 2018 menjadi 2016. Pasalnya, syarat untuk mendaftar di Bintara adalah harus berdomisili sekurang-kurangnya dua tahun.
Namun polisi menemukan KK palsu itu saat proses seleksi administrasi calon Bintara. Polisi mengecek keaslian KK itu ke pihak Dinas Pendudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil).

Vira akhirnya dicoret dari seleksi masuk Bintara Polri. Sementara polisi belum menetapkan Vira atau keluarganya menjadi tersangka.

"Sementara belum, masih didalami," ujar Kabid Humas.

Dalam kasus ini polisi menyita sejumlah barang bukti berupa KK palsu, satu buah komputer rakitan, monitor, canner, printer, ijazah palsu, trankrip nilai dan satu lembar calon peserta.

Atas perbuatannya, para pelaku dijerat dengan pasal 263 KUHP dengan ancaman hukuman penjara paling lama enam tahun.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar