26 Juni 2018

Jumlah Korban Miras Oplosan di Cengkareng Timur Bertambah, 7 Tewas dan 1 Kritis

Jumlah Korban Tewas Akibat Keracunan Miras Oplosan Jadi 8 Orang

Selasa, 26 Juni 2018 19:44 WIB
PUSKOMINFO, BID HUMAS PMJ - Korban akibat minum minuman keras (miras) oplosan di Cengkareng Timur, Jakarta Barat terus bertambah. Kini, jumlah korban meninggal dunia di Cengkareng akibat miras oplosan berjumlah 7 orang dan 1 orang kritis masih dirawat di RSUD Cengkareng.

Satu korban bernama Rian Hidayat dinyatakan meninggal dunia setelah sempat dirawat di RSUD Cengkareng. Selain 7 korban tewas, 1 korban lainnya yang juga turut berpesta miras, kondisinya masih dalam perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Daerah Cengkareng.

Polisi, hingga kini Selasa (26/6/2018), masih mendalami dugaan keterlibatan orang lain yang berperan membantu meracik miras oplosan.

Sebelumnya, dilaporkan Haroproha alias Ucok (32 tahun) akhirnya mengembuskan napas terakhir di RSUD Cengkareng, Jakarta Barat, Senin (25/6/2018) dini hari sekira pukul 02.00 WIB. Ia menjadi korban tewas yang ke-6 akibat miras oplosan di Cengkareng selama 3 hari terakhir. Sebelumnya, 5 orang meninggal pada Sabtu-Minggu (23-24/6).

Korban Tatat Andrianto (48 tahun), Hasan (48 tahun), Rizal (35 tahun), Margono (27 tahun), meninggal setelah meminum miras oplosan di rumah Tatat di Cengkareng Timur pada Sabtu (23/6). Sedangkan Asep Suryadi (39 tahun) mengembuskan napas terakhir pada Minggu (24/6). Lalu ada satu korban lainnya yang hingga kemarin masih kritis dirawat di RSUD Cengkareng, yakni Sunarto.

Menurut Agung, kakak ipar Haroproha, adiknya dibawa ke RSUD Cengkareng, Minggu (24/6) malam sekitar pukul 23.00. "Dini hari, nyawanya tak tertolong lagi," ucapnya di rumahnya RT 06/007, Cengkareng Timur, Senin (25/6/2018).

Agung menceritakan, sebelum masuk RS, Haroproha lebih banyak diam menahan rasa sakit di tubuhnya. Namun, Agung mengakui tak tahu apa yang diderita Haroproha saat itu.

"Haroproha memang sempat memperlihatkan gelagat seperti orang kesakitan. Tapi dia tidak bilang apa-apa. Kami keluarga baru tahu saat dokter menyebut penyebab kematiannya, yaitu overdosis miras oplosan. Itu jadi penyebabnya, dan diketahui ia menenggak miras oplosan itu pada Jumat (22/6) lalu," jelasnya.

Dari informasi yang diterima, miras oplosan itu dibeli di sebuah warung yang berada di RW 06 Cengkareng Timur. "Dari orang-orang bilangnya sih beli di RW 06, tapi tidak tahu pasti dimana. Namun ada lima orang warga Cengkareng Timur juga tewasnya karena beli miras di warung itu. Tapi, adik saya enggak menenggak miras bareng lima orang itu ya," tutur Agung.

Atas kasus tewasnya 6 orang itu, polisi bertindak cepat dengan meringkus Sari alias SR (60), peracik oplosan maut tersebut. Sari yang telah ditetapkan sebagai tersangka itu dibekuk di rumah tempatnya meracik dan menjual oplosan di Jalan Kincir Raya, RT 008/006, Cengkareng, Senin (25/6/2018).

Kapolres Metro Jakarta Barat Kombes Pol Hengki Haryadi menyatakan, Sari ditangkap tanpa perlawanan. Di tempat itu, polisi menemukan beberapa barang bukti.

"Barang bukti yakni 10 buah dirigen alkohol 70 persen ukuran 20 liter, yang tiga dirigen diantaranya terisi cairan alkohol 70 persen, 5 buah dirigen 10 liter yang dua dirigen diantaranya itu sudah terisi miras oplosan siap edar dan 1 dirigen lainnya berisi alkohol berkadar 70 persen, 3 takaran, gayung, toples, 24 plastik berisi miras oplosan seharga Rp 15.000 dan 22 plastik berisi miras oplosan seharga Rp 25.000," paparnya.

Dijelaskan Kapolres,  pengoplos miras, Sari, membeli bahan-bahannya dari toko di Jalan Gunung Sahari.

"Berdasar keterangan tersangka bahwa tersangka ini beli bahannya itu di Gunung Sahari. Ada tokonya di sana. Lalu, dia membeli barang atau bahannya untuk buat miras ini, awalnya dengan alasan untuk membuat parfum. Ternyata, bahan-bahan itu dicampur membuat miras. Akhirnya menyebabkan enam korban tewas dan satu korban lain lain kritis di RSUD Cengkareng," ungkapnya.

Kapolres menjelaskan, dari hasil pemeriksaan, miras oplosan itu dibuat Sari dengan menggunakan bahan dasar methanol ataupun methil (alkohol). Bahan bahan ini bersifat toxic (racun) yang digunakan untuk penetrasi.

"Ini (methanol) tak boleh dikonsumsi manusia. Dia (Sari) kemudian (bahannya) dicampuri dengan teh, gula, dan air putih," ujarnya.

Menurut Kapolres, penjualan miras oplosan itu dilakukan secara tertutup. "Dari hasil pemeriksaan kami, yang bersangkutan (Sari) baru jualan (miras oplosan) pada tanggal 21 Juni 2018 kemarin. Dia menjual tertutup ya, atau hanya kalangan tertentu saja," terangnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar